
Bab 55
Alex menarik napasnya kasar dengan mata menatap lautan luas yang terbentang di depan mereka, dia pun berkata. "Sampai kapan kamu terus berada di belenggu ini, Afif?".Tanya Alex, membuat Afif terdiam beberapa saat.
"Kadang aku berpikir, apa harapan itu masih ada untukku?" Afif menundukkan wajahnya, kesedihan dan sesak terasa menggerogoti hatinya.
"Jika kamu membutuhkan bantuanku, itu sangat mudah untukku," ucap Alex yang tetap fokus menatap lautan.
Afif menghela napas sambil mengusap kasar wajahnya. "Aku tidak mau jadi pecundang, yang lari dari semua kenyataan dan masalah ini. Mereka harus merasakan sakit yang sudah mereka ciptakan!" tegas Afif dengan rahang wajah yang langsung mengeras dan sorot mata penuh dendam, amarah dan kebencian.
"Mereka harus membayar semuanya." Tegas lagi dengan sorot mata penuh dendam.
"Aku mengerti, tidak mudah untuk melupakan kejadian yang menyakitkan dalam hidup kita," ucap Alex sambil menepuk pelan pundak Afif.
"Jangan pernah segan, jika kamu membutuhkan bantuan kami," ucap Alex lagi, membuat Afif menoleh ke arahnya.
"Apa Mark sudah menikahi Fatimah?" Tanya Afif berusaha setenang mungkin, padahal dadanya sudah berdebar kencang, Dia berusaha untuk menerima berita walaupun berita itu sangat menyakitkan.
Alex menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman. Afif pun menarik napas dan membuangnya perlahan. Rasa sesak dan kehilangan menghimpit hatinya. Dia sudah benar-benar kehilangan Fatimah.
"Apa kamu menyesalinya?" Tanya Alex yang dapat melihat luka di mata Afif.
"Ini memang menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan jika melihat Fatimah terluka," jawab Afif dengan suara yang mulai parau.
"Aku yakin, Mark adalah orang yang tepat untuk menjaga Fatimahku," Afif berkata sambil tersenyum. Namun, suaranya semakin parau, menandakan jika hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Takdir tidak pernah ada yang mengetahui. Jika kalian memang berjodoh pasti kalian akan bertemu kembali." Alex mencoba menguatkan Afif. Dia sangat paham dengan perasaan Afif saat ini, karena dia pernah merasakannya. Merelakan wanita yang di kasihinya bersanding dengan sepupunya sendiri.
Alex berharap jika takdir baik masih berpihak kepada cinta Afif dan Fatimah. Walaupun, dia sangat mengetahui jika Mark sangat tulus mencintai Fatimah.
__ADS_1
"Jujur, aku tidak tahu kemana takdir akan membawaku. Tetapi, melihat Fatimah hidup bahagia, itu sudah jauh lebih cukup untukku," Afif berkata, sambil mengambil rokok yang selalu di simpan di kantong jaket jeansnya.
Alex hanya menghela napas, saat Afif mulai menyalakan dan menghisap dalam rokok itu, dan mengeluarkan kepulan asap yang menyesakkan.
"Jangan terlalu banyak merokok, tidak baik untuk kesehatanmu!" Alex berkata dengan penuh penekanan. Ribuan kali Alex mengingatkan Afif tentang bahayanya rokok, tetapi Afif hanya menganggap jika nasehat itu hanya angin lalu.
"Fatimah tidak pernah melarangku untuk merokok. Tetapi dia selalu berkata, jika asap rokok itu lebih berbahaya untuk orang sekitarnya di banding dengan perokok." Afif berkata sambil tertawa hambar.
"Om sangat paham, alasan apa yang membuatmu sangat mencintai Fatimah? Dia benar-benar wanita yang hebat, sama seperti mamamu," ucap Alex dengan sebuah senyuman.
Afif mematikan rokoknya, dia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati air laut yang kini menyapu kakinya, membuat celana jeans yang di pakainya basah sampai sedengkul. Alex menghela napas dan ikut melangkah menghampiri Afif.
"Maaf, jika aku tidak bisa melupakan mamamu," Alex berkata sambil memegang pundak Afif.
"Selain masalah Fatimah, pasti ada hal lain yang ingin Om sampaikan," Afif berkata tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alex.
Alex menghela napas sambil berkata, " Gerak gerikmu sudah tercium oleh kepolisian, berhati-hatilah! Sony adalah orang yang licik, dia akan menghalalkan segala cara untuk memuluskan semua rencananya." Perkataan Alex membuat Afif terdiam.
"Kamu pasti sudah bisa menebaknya. Jangan khawatir, aku akan terus memantau semuanya." Alex berkata sambil memberikan sesuatu ke tangan Afif.
Afif mengerutkan keningnya, menatap benda kecil di telapak tangannya. Dia menatap dalam Alex.
"Ini ponsel berbentuk korek api, lengkap dengan kartunya. Selain untuk memudahkan kita berkomunikasi, ponsel mendeteksi bahaya yang mengintai." Jelas Alex, menatap sendu Afif. Tetapi tatapan sendu itu langsung barubah menjadi tatapan tegas. Dia tidak ingin Afif mencurigainya, karena dia sangat takut Afif akan membencinya, jika kebenaran dari masa lalu akan terungkap.
"Daya tahan baterai di ponsel ini, bisa bertahan sampai beberapa bulan. Tetapi, kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan ponsel lain sejenis ini dengan kartu yang sama," jelas Alex lagi.
Afif merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Entah kenapa, setiap perhatian dan tindakan yang di lakukan Alex untuknya, memberikan arti yang berbeda. Namun, Afif menepis perasaannya. Dia yakin jika kasih sayang dan perhatian yang Alex berikan adalah bentuk peduli antara om dan keponakan.
"Terima kasih, untuk bantuan dan perhatian om selama ini."Afif berkata, sambil mengantongi ponsel berbentuk korek api ke dalam saku jeansnya, dan langsung melempar korek api yang dia punya ke tengah lautan.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik! Aku harus pergi, sekarang!" ucap Alex sambil kembali menepuk pundak Afif pelan.
Alex membenarkan posisi topinya. Dia langsung berjalan cepat ke arah keramaian di antara para awak dan penumpang kapal.
Afif menatap punggung Alex, sebelum punggung itu menghilang di tengah keramaian. Dia pun pergi meninggalkan tempat itu, dengan mengendari motornya menuju kediaman Sony.
Tak lama, Afif pun sampai di rumah Sony. Dia segera meminta Afif untuk menemaninya menemui tamu dari Turki yang akan datang ke restoran XX. Tentu saja perintah Sony membuat wajah Arman memerah menahan amarah. Dia tidak terima jika Sony lebih percaya Afif di banding dirinya.
"Lihat saja Afif! Aku akan membuat hidupmu penuh penyesalan dan penderitaan sehingga hidupmu akan tersiksa, sampai kamu sendiri yang tidak menginginkannya!" Arman berkata di dalam hati dengan seringai liciknya.
Ketika Afif dan Sony sudah bersiap untuk menemui tamu mereka, tiba-tiba beberapa bodyguard membawa tubuh Arsyad yang sudah terkulai lemah, bahkan, nyaris pingsan
"Arsyad!" panggil Afif dengan wajah penuh kekhawatiran.
Afif ingin segera melangkah mendekati Arsyad. Tetapi Sony menghalanginya.
"Afif, kita hampir terlambat. Biarkan, mereka yang mengurus lekaki bod*h itu!" Sony berkata dengan wajah dingin dan tegasnya.
Afif mengurungkan niatnya, dia hanya bisa menatap nanar Arsyad dengan gemuruh amarah di dadanya. "Ini pasti ulah maniak se* itu!" Afif berkata di dalam hati, sambil mengepal kencang telapak tangannya.
...****************...
Ada rahasia besar yang di sembunyikan Alek?
Kenapa ada perasaan berbeda saat Afif bersama Alex?
Apa yang terjad dengan Arsyad?
Ikuti bab selanjutnya yang semakin seru 🤗🙏.
__ADS_1