
Bab 62
Afif segera melepaskan ikatan Salma dan membantunya untuk bangun. Tubuh Salma bergetar hebat saat melihat jelas bom waktu yang terpampang di atas perutnya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ucap Afif sambil menutup tubuh polos Salma dengan selimut yang berada di kamar itu.
"A-aku takut!" seru Salma dengan suara bergetar.
"Aku akan melindungimu. Ayo kita pergi dari tempat ini!" Afif memeluk tubuh Salma dan membantunya untuk berdiri.
"Bom ini, sewaktu-waktu akan meledak. Pergilah! Tinggalkan aku!" Seru Salma, menghentikan langkahnya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Kita akan keluar dari tempat ini bersama. Aku berjanji, setelah semua ini berlalu, kita akan hidup bersama." Salma tersentak dengan ucapan Afif. Dia menatap wajah Afif tak percaya.
"Berjanjilah kepadaku jika kita akan berjuang bersama." tegas Afif, langsung menghapus air mata Salma dan membawa Salma segera keluar dari kamar itu.
Langkah mereka terhenti saat Zaki menghadang mereka tepat di depan pintu kamar dengan seringai menyeramkan dan belati berlumuran dar*h di genggaman tangannya.
Afif tersentak, seketika dadanya berdegup kencang. Dia langsung mengetahui jika di belati itu adalah dar*h Arsyad.
"Kalian tidak akan bisa keluar dengan selamat dari tempat ini!" ucap Zaki sambil tertawa penuh ejekan.
"Arsyad sial*n itu, sedang meregang nyawa. Sebentar lagi kalian akan segera menyusulnya!" geram Zaki, sambil melangkah mendekati Afif dan Salma dengan belati yang mengacung ke arah mereka.
Afif dan Salma mundur beberapa langkah, Afif langsung menempatkan tubuh Salma di belakangnya, menatap Zaki dengan tatapan tidak kalah tajamnya.
Ketika Zaki hendak menyerang Afif, tiba-tiba Arini langsung menyerang dan memukul tubuh Zaky dengan balok kayu, sehingga tubuh Zaki langsung ambruk dan belati di tangannya langsung terpental. Afif tersentak dengan apa yang di lakukan Arini.
"Akh... Dasar wanita bod*h!" teriak Zaki sambil meringis kesakitan.
"Cepat, lepaskan bom itu Afif! Aku akan segera mematikannya." ucap Arini, sambil mengambil remote kecil sebesar USB di kantong jaket Zaki, yang merupakan remote pengendali bom di tubuh Salma.
Afif terkesiap dengan apa yang di lakukan Arini. Dia tidak menyangka jika Arini membelanya, padahal keadaannya yang rusak ini akibat kecelakaan bersamanya.
"Cepat, Afif! Sebelum terlambat!" teriak Arini, membuat Afif tersadar dan segera melepaskan bom di perut Salma dengan sangat hati-hati karena jika tersenggol sedikit saja, pasti akan sangat membahayakan.
"Kembalikan Arini! Cintamu benar-benar membuatmu sangat bodoh!" teriak Zaki, mencoba bangkit sambil memegang tengkuknya yang sangat sakit karena pukulan Arini. Dia juga merasakan sangat perih di belakang kepalanya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Wanita hancur yang tidak tahu diri! Begini balasanmu, setelah aku menyelamatkanmu, hah?" Teriak Zaki dengan wajah penuh amarah, saat melihat telapak tangannya terdapat cairan merah pekat, membuat kepalanya sangat pusing dan sakit.
Arini sudah memukul kepala belakang Zaki, membuat kepala belakang Zaki mengalami luka. Tampak kilatan amarah terlihat di kedua mata Arini yang hampir tertutup.
"Kecelakaan itu terjadi karena ulahmu, Zaki!" geram Arini.
Perkataan Arini membuat Afif dan Zaki tersentak. Zaki tidak menyangka jika Arini mengetahui kebenarannya.
"Kamu yang sudah sengaja memutus rem mobil Afif, sehingga mobil itu kehilangan kendali!
"Terbakarnya mobil Afif di dasar jurang itu juga sudah rencanamu! Kamu sengaja menyelamatkanku adalah salah satu rencanamu untuk membalas dendam kepada Afif!"
"Kamu tidak pernah benar-benar menyelamatkanku! Kamu juga tidak pernah berniat untuk membantuku melakukan operasi plastik!"
Arini terus berkata dengan suara tinggi, terlihat dadanya yang sangat sesak. Napasnya memburu penuh amarah dengan air mata kembali membasahi wajahnya yang hancur.
Zaki tersentak kembali, dia tidak menyangka jika Arini mengetahui semua rencana busuknya terhadap Afif. Sedangkan Afif, wajah dan sorot matanya langsung memerah, rahang wajahnya mengeras dan telapak tangannya mengepal keras.
Zaki yang menyadari itu, segera menarik kasar tubuh Arini dan langsung mengambil remote kontrol yang berada di tangan Arini.
"Berani kamu melangkah, aku akan langsung menekan tombol ini dan di pastikan kita akan hancur bersama-sama!" ancam Zaki, menatap tajam Afif.
"Cepat, kalian pergi dari sini! Selamatkan diri kalian! Jangan hiraukan aku!" perintah Arini.
"Salma, cepat turun dan keluar dari sini!" perintah Afif, tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Zaki.
"Tidak Afif, kita harus keluar bersama," tolak Salma sambil memegang lengan kekar Afif.
"Cepat lakukan! Atau kita tidak akan pernah besama!" perintah Afif dengan nada tinggi, membuat Salma tersentak menatap Afif tidak percaya.
"Aku akan meminta janji yang baru saja kamu ucapkan," ucap Salma dengan suara bergetar dan air mata yang tidak bisa di tahannya.
Salma pun segera turun ke lantai bawah dengan perasaan berat. Saat sampai di lantai bawah, dia sangat terkejut melihat tubuh Arsyad yang terlengkup bersimbah dar*h. Dia segera membalikkan tubuh Arsyad dan memeriksa detak jantungnya.
Setelah menyakini Arsyad masih hidup, dengan susah payah Salma membawa tubuh Arsyad untuk keluar dari rumah itu untuk mencari bantuan.
Sementara itu, Zaki masih menyandera Arini. Tatapan penuh dendam kepada Afif menyelimuti kedua manik matanya.
__ADS_1
"Gara-gara kamu, aku sudah membunuh wanita yang sangat aku cintai, wanita yang seharusnya ibu dari anak-anakku!" teriak Zaki dengan tatapan bengisnya.
"Kamu yang telah membun*h Nabila, justru melemparkan kesalahan kepadaku! Dasar laki-laki pengecut! Ejek Afif membuat wajah Zaki semakin merah padam.
"Kamu lelaki tidak tahu malu dan bodoh, menikahi wanita yang sedang hamil muda!"
Pernyataan Zaki membuat Afif terdiam. "Apa maksudmu, Bajingan?" Geram Afif, membuat Zaki kembali tertawa.
"Dasar bodoh! Saat kamu menikahi Nabila, dia sudah mengandung benihku, kepergiannya ke luar negeri selain untuk karir, juga untuk menggugurkan kandungannya."
Pernyataan Zaki bagaikan kilatan petir yang menyambar tubuh Afif. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di katakan Zaki.
Afif langsung menarik kuat tubuh Arini dari tangan Zaki, dengan membabi buta dia memukuli Zaki tanpa ampun. Saat tubuh Zaki sudah tak berdaya, Afif langsung meraih belati yang tadi terpental dan tanpa pikir panjang segera menghujamkan belati itu beberapa kali ke tubuh Zaki yang sudah tidak berdaya, sampai akhirnya tubuh bersimbah dar*h itu sudah tidak bergerak lagi dengan napas yang sudah terhenti.
Afif menatap tubuh Zaki yang sudah tidak bernyawa itu dengan napas memburu dan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Tangan dan pakaiannya penuh dengan dar*h Zaki.
"Afif, bersihkan tangan dan pakaianmu! Segeralah pergi dari sini!" Arini berkata sambil memberikan pakaian ganti untuk Afif.
"Pakailah dan segera pergi!"
"Aku ingin melihat hidupmu bahagia." Arini berkata dengan mata berkaca-kaca.
Afif menatap Arini dan langsung memeluknya. Cairan hangat menerobos keluar dari sudut mata Afif. Dia benar-benar mengutuk dirinya yang selalu membuat sengsara orang-orang yang berada di dekatnya. Bayangan Fatimah seketika berkelebat di pelupuk matanya, membuat dadanya terasa sakit dan sesak.
**************
Apa yang akan di lakukan Arini, saat kepergian Afif?
Apakah nyawa Arsyad bisa di selamatkan?
Apa yang terjadi kepada Afif dan Salma?
Next bab selanjutnya semakin seru.
Mohon maaf author fokus ke dendam masa lalu Afif dulu ya.
Untuk sosok Fatimah, tenamg saja pasti akan author hadirkan.
__ADS_1
Mohon maaf jarang up. Masalah real life author belum kelar, minta do'a dari kalian semua. Terima kasih buat kalian yang tidak berpaling dari novel ini 🙏