Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Janji Afif


__ADS_3

Bab 11


Haji Maulana dan Kiki ikut berdiri saat kedatangan Fatimah, sedangkan Afif, dia diam mematung menatap Fatimah, begitu juga sebaliknya.


Adegan saling tatap itu, membuat mereka menyadari jika ada sesuatu yang berbeda di antara mereka berdua.


"Apa Om gondrong ini yang di maksud Aisyah?" tanya Ilham dalam hati, menatap bergantian Afif dan Fatimah.


"Fatimah" panggilan lembut haji Maulana, mengagetkan mereka berdua.


"I-iya Abi" jawab Fatimah gugup.


"Kenalkan ini Kiki" ucap sang Abi, sambil menunjuk ke arah Kiki.


Fatimah tersenyum, dan mengulurkan tangannya ke arah Kiki.


" Fatimah"


"Kiki Ratnadila, biasa di panggil Kiki. Berteman dengan Afif dari SMA, bisa di bilang kalau kita berdua adalah bestie" jawab Kiki panjang kali lebar, sambil membalas uluran tangan Fatimah.


Afif menatap Kiki dengan mata melotot, di balas dengan tatapan dan sebuah senyuman yang mengandung arti.


"Ternyata ini alasan loe buat belajar agama! awas aja loe Fif!" ancam Kiki di dalam hati.


"Kiki ini berniat ingin belajar di sini dalam beberapa bulan, Abi meminta tolong kamu untuk menemani dan membantu mengajarinya" jelas haji Maulana.


"Baik Abi! Ayo Kak Kiki, saya antar untuk melihat-lihat sekeliling pesantren sekalian tempat untuk Kakak istirahat" ucap Fatimah ramah, di balas senyuman oleh Kiki.


Setelah berpamitan, dan melirik sinis ke arah Afif, Kiki mengikuti langkah Fatimah. Afif menelan salivanya kasar menghindari tatapan Anton dan Ilham.


"Ilham, tolong kamu antar Anton terlebih dahulu, ada yang ingin Abi bicarakan dengan Afif!"


Perkataan haji Maulana membuat mereka tercekat, Afif dan Anton saling tatap.


"Baik Abi" ucap Ilham, mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu, yang kini tersisa hanya haji Maulana dan Afif.


"Duduklah, Nak!" ucap haji Maulana, kini mereka duduk berhadapan.


Afif duduk dengan jantung berdetak kencang, tiba-tiba keringat dingin membasahi tubuhnya, kembali dia menelan salivanya. Berhadapan dengan haji Maulana, entah kenapa, seketika dia merasakan nyalinya ciut.


"Apa kamu sudah lama mengenal Fatimah?" tanya haji Maulana, dengan suara lembut, tanpa menunjukkan intimidasi sama sekali.


Afif menarik napas, dan membuangnya perlahan, mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Baru beberapa hari, itu pun tidak sengaja" jawab Afif.


"Hari kecelakaan itu, apakah itu awal pertemuan kalian?"


"Betul Pak, maafkan saya atas kejadian hari itu. Saya sudah membuat Pak haji terluka"


"Saya sudah maafkan, sebelum kamu meminta maaf" jawab pak haji Maulana dengan suara lembut, tetapi penuh wibawa.

__ADS_1


"Apa tujuanmu ke sini benar-benar mau belajar ilmu agama? atau mengejar Fatimah?"


Pertanyaan haji Maulana membuat Afif terdiam.


"Jawab yang jujur, saya akan menghargainya" ucap haji Maulana, ketika melihat kebingungan di wajah Afif.


"Kalau boleh jujur, keduanya Pak haji" jawab Afif sambil menunduk.


"Panggil Abi saja"


"Hah!" Afif tidak percaya dengan pendengarannya.


Haji Maulana tersenyum melihat ekspresi Afif.


"Semua orang di sini memanggilku dengan sebutan Abi Maulana"


"Oh, saya kira...." ucap Afif sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Haji Maulana menghela napas.


"Nak Afif, sebenarnya Putriku Fatimah sudah ada yang khitbah"


Afif mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.


"Khitbah itu artinya lamaran"


Perkataan haji Maulana bagaikan petir di telinga Afif, seketika tubuhnya lemas, hatinya terasa sakit dan hancur berkeping-keping, padahal dia dan Fatimah belum ada ikatan apa pun. Bahkan, pertemuan mereka beberapa kali hanyalah pertemuan singkat.


"Pak haji, maksud saya Abi, apakah menurut Islam wanita yang sudah di khitbah itu ada kemungkinan untuk berjodoh dengan lelaki lain?"


"Bukankah jodoh, rezki dan maut tidak ada yang mengetahui? bahkan, janur kuning yang sudah melengkung pun bisa gagal untuk menikah!"


Pertanyaan dan perkataan Afif membuat haji Maulana tercekat. Namun, dia berusaha setenang mungkin menghadapi Afif.


"Kamu benar, semua adalah rahasia Illahi. Tetapi bukan berarti kamu di halalkan untuk mengambil hak orang lain"


Jawaban haji Maulana membuat Afif berani melihat wajahnya.


"Maaf Abi, Fatimah baru di khitbah dan Lelaki itu belum mengucapkan ijab qobul"


Ucapan Afif membuat haji Maulana terdiam dan menghela napas.


"Mohon maaf juga Abi, apa Fatimah menerima khitbah itu dengan ikhlas?" pertanyaan Afif kembali membuat haji Maulana tercekat.


"Apa kamu mengetahui banyak tentang Fatimah dan khitbahnya?" tanya haji Maulana, menatap lekat Afif.


Haji Maulana merasakan jika Afif berbeda dari para Lelaki lain yang di temuinya, mungkin keadaanlah yang membuat Afif tumbuh menjadi anak tanpa di dasari bimbingan agama. Bahkan, saat Fatimah menatap Afif, sungguh berbeda dengan tatapannya terhadap Arsyad.


"Pertemuan kami hanya singkat, saya mengajaknya ingin berkenalan lebih jauh. Tetapi, dia meminta saya untuk menemui kedua orang tuanya"


Pernyataan Afif kembali membuat haji Maulana terdiam. Benar dugaannya, jika sang Putri menyukai Lelaki di hadapannya ini.

__ADS_1


"Afif, belajarlah ilmu agama yang tekun, pelajari Al Qur'an dan perbaiki shalatmu! niatkan dan ikhlaskan tujuanmu karena Allah, bukan karena siapapun" ucap haji Maulana menatap lekat Afif.


Afif terdiam sesaat dan menundukkan wajahnya.


"Saya minta bimbingan dan pelajaran dari Abi Maulana, karena sejak kecil saya tidak pernah mendapatkan ilmu agama sama sekali" ucap Afif dengan suara parau.


"Kalau boleh, saya meminta izin untuk menjadikan sosok Fatimah sebagai penyemangat untuk menyelesaikan skripsi saya" pinta Afif masih dengan suara parau dan menunduk.


"Baiklah, jika kehadiran Putriku membawa kebaikan untukmu. Tetapi ingat jangan terlalu memuja Putriku, karena dia hanya manusia biasa yang tidak sempurna, dan jangan menyalahkannya jika semua tidak sesuai dengan semua impian dan rencanamu!"


"Terimakasih Abi, saya janji akan belajar menjadi lebih baik, dan saya juga akan berusaha untuk menjadi Lelaki yang pantas menjadi Imam untuk Fatimah" ucap Afif dengan tekad bulat dan penuh keyakinan.


"Bersainglah dengan sehat, jangan sampai kecurangan menimbulkan kejahatan di setiap usahamu!"


"InsyaAllah Abi"


"Baiklah Afif, pembicaraan kita selesai sampai di sini. Jangan pernah mencuri kesempatan untuk berduaan, karena ketika kalian berdua, pasti kamu mengetahui pihak ketiganya" ucap haji Maulana dengan penuh ketegasan.


"InsyaAllah saya tidak akan mengecewakan kepercayaan yang sudah Abi berikan" jawab Afif.


Haji Maulana mengangguk, mereka pun pergi meninggalkan ruangan menyusul Ilham dan Anton. Tampak Anton yang sudah berkumpul di samping Ilham yang berada di tengah-tengah para Santri, terlihat juga Arman yang juga berada di samping Ilham.


"Assalamualaikum" ucap haji Maulana.


"Waalaikumsalam" jawab mereka serentak.


.


Haji Maulana duduk di depan para Santri, dengan posisi Afif yang berada di sampingnya. Tentu saja kehadiran Afif menjadi sorotan mereka semua, terutama Arman yang kaget dengan kehadiran Afif dengan Abinya.


Arman menyenggol lengan Ilham.


"Kenapa Abi bisa bersama dia?" tanya Arman sambil berbisik, menatap tajam ke arah Afif.


"Namanya Afif" bisik Ilham.


"Abang kenal dia?" tanya Arman kaget.


"Baru saja, kebetulan Mas Afif kawannya Mas Anton" ucap Ilham, sambil menepuk pundak Anton.


Anton tersenyum dan mengangguk kepada Arman, akan tetapi, di balas dengan wajah dan tatapan dingin, membuat Anton menelan salivanya.


******************


Mampukah Afif membuktikan kepada keluarga Fatimah, jika dia pantas menjadi pendamping Fatimah?


Mampukah dia bersaing dengan Arsyad?


Ikuti terus perjuangan Afif Abidzar untuk mendapatkan restu dari keluarga Fatimah Assyifa Khairunnisa 🥰🤗


__ADS_1


__ADS_2