Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Bertemu di pengadilan


__ADS_3

Bab 25


Fatimah membuka amplop coklat dengan kop bertuliskan pengadilan agama. Dengan Bismillah dia membaca isi surat gugatan cerai yang di layangkan Afif. Sekuat apapun dia berusaha untuk menahan kesedihannya, akan tetapi rasa sakit dan hancur kini menguasai hatinya. Buliran air mata tidak terasa mengalir membasahi pipinya.


"Putriku Fatimah, pada dasarnya manusia itu lemah, menangis di saat kita sedih, itu adalah hal yang wajar." Haji Maulana berkata, sambil mengelus lembut kepala Fatimah.


"Tetapi kesedihan dan kemarahan yang berlebihan itu tidak baik karena setan sangat menyukainya" ucap haji Maulana lagi, membuat Fatimah kini menangis tersedu-sedu di pelukannya.


"Kenapa semua harus pergi Abi? Kak Salma, Umi yang sudah meninggalkan kita terlebih dahulu. Bang Arman yang menjauh dari kita, dan sekarang mas Afif dalam hitungan detik dia menjatuhkan talaknya, pergi dengan wanita lain yang bukan mahramnya.!" Tangis Fatimah pecah di pelukan sang Abi.


Haji Maulana menarik napas kasar, jauh di lubuk hatinya rasa sesak dan sedih sedang menghimpit dadanya. Dia berusaha ikhlas dengan kepergian selama-lamanya istri dan putrinya, serta Arman putra keduanya yang jelas-jelas sudah menjauh darinya. Namun, melihat kesedihan Fatimah yang sekarang sudah berstatus janda menurut hukum agama, dan sebentar lagi akan benar-benar menyandang status itu secara hukum negara.


************


Hari ini tepat Afif dan Fatimah bertemu di pengadilan. Afif tampak di dampingi oleh Nabila, begitu juga Fatimah yang di dampingi haji Maulana dan Ilham. Fatimah kini sudah tidak lagi menundukkan wajahnya, saat netranya bertemu pandang dengan netra Afif. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka.


Nabila terus berada di sisi Afif, di sepanjang persidangan tanpa malu-malu, dia terus bersikap manja dan mesra terhadap Afif, dengan sesekali melirik sinis ke arah Fatimah. Haji Maulana terus menggenggam jemari putrinya, seolah-olah memberikan kekuatan untuk Fatimah.


Sampai akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Fatimah berusaha tegar setiap kali mengikuti persidangan, Har ini Majlis hakim membacakan nasib pernikahan mereka dan terdengar ketukan palu sebagai tanda jika Afif dan Fatimah sudah resmi bercerai.


Secara bersamaan Afif dan Fatimah memejamkan mata mereka sesaat, kesedihan dan kehilangan sama-sama mereka rasakan. Tetapi, takdir seperti mempermainkan mereka. Perasaan cinta dan sayang harus mereka kesampingkan karena suatu keadaan. Nabila tersenyum puas menatap bergantian Afif dan Fatimah.


"Sayang, ayo kita pulang!" Ajak Nabila, dengan ekspresi penuh kebahagiaan. Dia langsung berdiri dan berniat mendorong kursi roda Afif, tetapi Afif menahannya, membuat kebahagiaan di wajahnya langsung menghilang.


"Fatimah" panggil Afif, saat Fatimah ingin melangkah pergi.


"Ada apa?" Tanya Fatimah menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Afif, begitu juga haji Maulana dan Ilham yang berdiri di samping Fatimah.


"Sekali lagi aku minta maaf" Afif berkata sambil menarik napas kasar.


"Tidak ada yang perlu di maafkan! mulai saat ini, apa yang sudah terjadi di antara kita hanyalah sebuah masa lalu! jangan pernah mengingat apa lagi mengungkitnya kembali.!" Tegas Fatimah, membuat Afif tercekat dan menatap lekat wanita yang sangat di cintainya.


"Aku yakin, kamu akan menjadi wanita yang hebat tanpa ada aku di sampingmu" ucap Afif sambil tersenyum, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan hatinya.

__ADS_1


"Terimakasih, aku juga berdo'a semoga kehidupanmu jauh lebih baik di saat tidak bersamaku" jawab Fatimah, mencoba tetap tersenyum.


"Tentu saja kehidupan Afif jauh lebih baik, karena sudah terlepas dari wanita pembawa sial seperti dirimu.!" Nabila berkata dengan tatapan jijiknya ke arah Fatimah.


Tentu saja, perkataan Nabila membuat mereka semua tersentak. Tampak wajah Afif dan Ilham memerah. Haji Maulana menggelengkan kepalanya sambil mengucap Istighfar, sedangkan Fatimah berusaha tenang dan mengendalikan emosinya.


"Maafkan atas perkataan Nabila" ucap Afif sambil menganggukkan kepala dan menangkupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf.


"Sayang, kenapa kamu harus meminta maaf kepada mereka?" sergah Nabila, dengan wajah kesal.


"Nabila, ayo kita pergi dari sini!" Ajak Afif, sambil kembali menganggukkan kepalanya.


"Assalamualaikum" ucap Afif lagi dan dengan cepat segera mendorong kursi rodanya, membuat Nabila tercekat dan segera mengejarnya.


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.


"Kasihan Afif" gumam Ilham, membuat haji Maulana dan Fatimah menatap ke arah Ilham.


"Iya Abi" jawab Ilham, ingin sekali dia mencegah perceraian ini, tetapi dia tidak mempunyai hak untuk mengatur kehidupan Afif dan Fatimah.


"Fatimah, jangan pernah takut mengambil suatu keputusan dan memulai kehidupan yang baru" haji Maulana menepuk pelan pundak Fatimah.


"Percayalah Putriku! apa yang sudah di takdirkan untukmu, seberapa pun dia pergi nenjauh dan seberapa lama dia menghilang pasti akan kembali kepadamu, begitu juga sebaliknya" ucao haji Maulana lagi.


"Iya Abi, Fatimah sudah ikhlas dengan takdir yang sudah di gariskanNya, dan Fatimah ridho dengan semua yang terjadi" jawab Fatimah sambil tersenyum.


"Tidak salah Abi memberikanmu nama Fatimah Assyifa Khairunnisa." Haji Maulana langsung membawa Fatimah ke dalam pelukannya.


********************


"Hari ini aku bahagia sekali, akhirnya kamu terlepas dari wanita pembawa sial itu!" Nabila berkata dengan senyum bahagia menghiasi wajah cantiknya.


"Berhenti berkata seperti itu terhadap Fatimah!" Afif berkata dengan penuh penekanan, membuat Nabila mendengus kesal.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih terus membela wanita itu?" Teriak Nabila yang langsung berdiri di hadapan Afif.


"Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa, karena kamu sudah mengetahuinya" Afif menjawab sambil memutar kursi rodanya, hendak meninggalkan Nabila.


"Afif, tunggu!" Teriak Nabila sambil menahan kursi roda Afif, membuat Afif mensrik napasnya dalam-dalam.


"Oke, mungkin sampai saat ini nama wanita itu masih terukir di hatimu, tetapi aku akan segera menghapus nama itu sampai tidak tersisa sama sekali!" tegas Nabila, tepat di depan wajah Afif.


Terlihat sekali api kebencian di mata Nabila, jika membahas tentang Fatimah. Afif terdiam, dia enggan untuk menjawab perkataan Nabila, sampai suara panggilan di ponsel Nabila berdering dan Nabila segera mengangkatnya.


"Hallo" sapa Nabila, dengan nadanya yang ketus.


"Baik pak, terimakasih" ucap Nabila yang tiba-tiba tersenyum saat menutupnya ponsel.


"Lusa kita akan segera berangkat ke korea selatan untuk melakukan pengobatanmu" ucap Nabila, sambil duduk kembali di hadapan Afif.


"Ingat Afif dengan perjanjian kita, setelah pengobatan nanti, kita akan segera menikah!" perkataan Nabila bagaikan peluru yang menembus jantung Afif, terasa sangat perih dan sakit. Bayangan wajah Fatimah kembali bermain-main di pelupuk matanya.


"Aku harap, kamu tidak mengingkari janji-janjimu!"


********************


Berpisah karena bercerai pasti sangat menyakitkan. Apa lagi jika kita masih mencintainya terasa sangat berat, tetapi karena satu dan lain hal kita harus ikhlas melepas dan menerimanya.


Bagaimana menurut kalian?


Jika ada yang mempunyai pengalaman dan pendapat bisa tulis di kolom komentar ya🤗.


Apakah Afif dan Fatimah akan di pertemukan kembali?


Tunggu jawabannya di kisah selanjutnya🥰.


__ADS_1


__ADS_2