Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Jadikanlah aku Makmummu dan jadilah kau Imamku


__ADS_3

Bab 51


"Afif ...." Teriak Fatimah dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Dia membuka kedua mata dengan napas yang memburu penuh ketakutan dan kesedihan.


"Sayang," Tiba-tiba suara lembut Grace terdengar jelas di telinga Fatimah.


Fatimah mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang masuk ke retina matanya. Dia melihat senyum lembut Grace yang berada di dekatnya sambil memegang tangannya.


Fatimah sadar, jika dirinya sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia juga merasakan selang infus di punggung tangannya dan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Keadaan ini mengingatkan dia kembali dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, saat lengannya tertembak.


Waktu itu, ketika dia membuka mata, wajah Afif lah yang terlihat pertama kali. Namun, kali ini sangat berbeda, justru Afif hadir hanya dalam mimpinya. Bahkan, hanya sekedar bayangan saja, sosok Afif sangat sulit untuk di kejarnya.


"Mimpi itu seperti nyata, apa aku harus mengikhlaskanmu, seperti yang kamu katakan di dalam mimpi tadi?" Fatimah bertanya di dalam hati, kepada dirinya sendiri.


"Nona Elza, syukurlah kamu sudah sadar. Kami akan melakukan pemeriksaan kepada diri anda," sebuah suara menyadarkan Fatimah dari pikirannya.


Fatimah melihat sosok wanita berkacamata dan memakai jas putih sudah berada di dekatnya, terlihat seulas senyum dari bibirnya. Dia mengangguk dan melihat ke arah Grace sedang berdiri tidak jauh darinya sambil tersenyum.


Grace dan Alex menempatkan Fatimah di ruang VIP, di salah rumah sakit terbaik di New York City yang bernama New York - Presbyterian University Hospital Of Columbia and Cornel, yang tidak jauh dari tempat Fatimah mengalami kecelakaan. Mereka juga meminta dokter wanita terbaik untuk menangani Fatimah.


Hampir satu jam dokter wanita yang bernama Early itu memeriksa dengan teliti seluruh bagian tubuh Fatimah. Sampai akhirnya Early menarik napas lega dan tersenyum.


"Ini suatu keajaiban, biasanya seseorang yang mengalami kecelakaan seperti yang terjadi dengan nona Elza, itu pasti akan mengalami luka yang serius.Bahkan, bisa saja membuat tubuh seseorang itu mengalami kelumpuhan atau kecacatan." Jelas Dokter Early menatap bergantian ke arah Fatimah, Alex dan Grace.


Tampak wajah Grace yang menegag. Sedangkan Fatimah, dia hanya terdiam. Dia ikhlas dengan hal paling buruk yang akan menimpa dirinya.


Alex menghela napas, sambil berkata. "Bagaimana dengan keadaan Elza?"


"Anda tidak perlu khawatir Tuan Alex, saat kami melakukan pemeriksaan tidak ada luka yang serius. Tetapi kami akan segera melakukan pemeriksaan di bagian dalam tubuh Nona Elza, untuk memastikan jika tidak ada luka dalam yang membahayakan," jawab Dokter Early dengan suara dan wajah yang tenang.


"Lakukan dan berikan pengobatan yang terbaik untuk putri kami, Dok!" perintah Alex dengan suara tegas.


"Itu pasti, kami akan melakukan yang terbaik. Kalian tidak perlu khawatir," jawab Early dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok," ucap Alex di balas dengan senyuman dan anggukan oleh Dokter Early.


Dokter Early dan para perawat pun pamit meninggalkan kamar perawatan Fatimah. Bertepatan dengan kedatangan Mark.


"Maaf, aku baru bisa datang menjenguk," ucap Mark dengan buket bunga di tangannya.


"Tidak apa-apa Mark, maaf sudah merepotkanmu," ucap Grace, sambil memberikan ruang untuk Mark bersama Fatimah.


"Aku tidak pernah merasa di repotkan, Tante." Mark berkata sambil tersenyum, hatinya begitu bahagia melihat Fatimah yang sudah sadar dari komanya.


"Hai, aku bawakan bunga cantik ini, untuk wanita tercantik di hatiku," ucap Mark, sambil meletakkan buket bunga di meja yang berada tepat di ranjang Fatimah.


"Manis sekali perlakuanmu, Mark," goda Grace membuat wajah Mark sedikit memerah.


Fatimah masih terdiam, dia masih mengingat apa yang sudah terjadi kepada dirinya, mimpi yang membuatnya terbangun dari koma, seolah-olah seperti nyata.


"Sayang, kamu tahu tidak? Sudah tiga hari kamu tidak sadarkan diri," ucap Grace yang membuat Fatimah semakin terdiam sambil menatap Grace.


Grace kembali tersenyum dan berkata, "Selama itu juga Mark selalu menemanimu. Baru tadi pagi dia terpaksa meninggalkanmu, karena ada pekerjaan yang harus di tangani olehnya."


"Apa selama itu, aku tak sadarkan diri?" Tanya Fatimah menatap bergantian ke arah mereka.


"Ini suatu keajaiban, Sayang. Menurut perkiraan dokter, seseorang yang mengalami kecelakaan sepertimu, akan mengalami koma paling cepat satu minggu, itu pun dengan keadaan yang tidak baik-baik saja." Jelas Grace sambil tersenyum.


"Bersyukur sekali, kamu di beri keajaiban bisa tersadar dalam waktu tiga hari dan menurut Dokter Early keadaanmu baik-baik saja. Sekitar dua jam lagi akan ada pemeriksaan bagian dalam tubuhmu, semoga tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan." Jelas Grace. Terlihat seulas senyum di bibir pucat Fatimah.


"Aku akan menemani dan menjagamu, Fatimah," ucap Mark tiba-tiba, membuat Fatimah menatapnya.


Semua perkataan Afif di dalam mimpinya sangat terekam jelas di memorinya. Dia teringat dengan perkataan Afif yang terakhir, sebelum tubuh Afif menghilang entah kemana.


"Lupakanlah aku! Gapai dan tatap masa depanmu!"


Perkataan terakhir Afif bagaikan perintah untuknya. Apa lagi saat dia teringat dengan kotak merah yang di bawa Mark. Buliran bening kembali mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Tanya Grace khawatir dan langsung mengusap lembut air mata Fatimah.


Tampak kecemasan di wajah Mark. Melihat Mark, membuat Alex menepuk pelan pundak Mark, sebagai isyarat jika semua akan baik-baik saja.


Fatimah memejam matanya sesaat dan menarik napasnya dalam-dalam, sambil berkata, "Dia meminta aku untuk melupakannya," Fatimah berkata dengan suara yang sangat lirih, ada sesak yang menghimpit dadanya.


"Jangan pikirkan yang lain dulu, fokuslah pada kesembuhanmu," ucap Mark tiba-tiba dengan suara parau, dia bisa merasakan apa yang sedang Fatimah rasakan sekarang.


Perkataan Mark membuat Fatimah menatapnya. Dia merasakan ketulusan hati seorang Mark, Dia melihat di mata Mark ada cinta dan kasih sayang untuknya.


"Bisakah kamu menemani aku melalui semua ini, Mark?" Pertanyaan Fatimah membuat mereka semua tersentak, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Tentu saja pertanyaan Fatimah membuat Mark tersenyum bahagia. Dia pun melangkah mendekati ranjang Fatimah dan berdiri di samping Grace.


"Tanpa kamu pinta, aku akan selalu berada di sampingmu. Menemanimu di dalam suka dan duka," tegas Mark sambil tersenyum dengan mata berbinar.


"Terima kasih, Mark," ucap Fatimah dengan seulas senyum membalas tatapan Mark.


"Bolehkah, aku meminta sesuatu kepadamu?" Tanya Fatimah, membuat jantung Mark berdegup kencang. Begitu juga dengan Grace dan Alex. Perasaan mereka harap-harap cemas dengan apa yang akan di pinta Fatimah.


Fatimah mencoba mengatur irama jantungnya dan memantapkan hatinya, dengan satu helaan napas, dia berkata, "Jadikanlah aku Makmummu dan jadilah Imam untukku,"


Deg ....


...****************...


Apakah Fatimah menerima Mark untuk menjadi pendamping hidupnya?


Bagaimana dengan nasib Afif? Apa yang terjadi dalam kehidupannya yang akan datang?


Apakah takdir akan memisahkan cinta Afif dan Fatimah?


Yuk ah, jangan lewatkan bab selanjutnya, yang bisa menguras emosi dan air mata.

__ADS_1



__ADS_2