Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Menghadapi kenyataan


__ADS_3

Bab 22


Hari ini di pengadilan, Afif, Fatimah dan pak Fuad sudah siap menghadapi Sarah. Namun, mereka sangat terkejut saat Sarah datang bersama Arman.


"Bang Arman!" Fatimah menatap tak percaya ke arah Arman. Dia tidak menyangka jika abangnya bisa bersama dengan Sarah. Arman tersenyum miring menatap Fatimah yang sedang mendorong Afif di kursi roda.


"Menyedihkan sekali kehidupan adikku yang baru saja menikah" Arman berkata sambil menggelengkan kepalanya, seolah-olah menatap Fatimah dengan wajah iba.


"Kamu wanita yang sempurna Fatimah, sangat di sayangkan jika kamu menghabiskan waktu bersama lelaki lumpuh ini, bahkan, kamu lihat! sebentar lagi dia tidak punya apa-apa, dia hanya lelaki cacat yang menyedihkan dan hanya membuatmu susah!" Arman berkata dengan tatapan penuh hinaan kepada Afif.


"Cukup Bang! Abang tidak punya hak untuk menghina suamiku!" sergah Fatimah.


"Abang yang seharusnya malu! untuk apa Abang bersama dengan wanita yang bukan mahram Abang? Dan apa yang sudah Abang lakukan terhadap orang tua kita, itu sudah keterlaluan Bang!" Fatimah berkata, dengan wajah memerah.


"Demi lelaki cacat ini, kamu berani membentak dan berlaku kurang ajar dengan Abangmu!" bentak Arman.


Afif menyentuh lembut punggung Fatimah, membuat Fatimah tidak jadi membalas perkataan Arman.


"Astaghfirullahaladzim." Fatimah langsung mengusap wajah dan dadanya.


"Tuan, Nyonya, lebih baik kita langsung masuk ke dalam ruang persidangan" ajak pak Burhan, karena melihat keadaan yang tidak kondusif.


"Fatimah" panggil Afif lembut, sambil kembali menyentuh punggung tangan Fatimah.


"Iya, Mas" jawab Fatimah sambil mengangguk dan mendorong kursi roda Afif.


Persidangan berjalan dengan alot, Sarah sudah menyiapkan semua bukti-bukti palsu yang sangat kuat, membuat suasana di dalam persidangan semakin panas.


*************


Setelah melewati beberapa kali proses persidangan, pengadilan memberikan keputusan yang di luar dugaan, jika semua harta kekayaan yang seharusnya di wariskan kepada Afif, tetapi justru jatuh ke tangan Sarah. Tentu saja membuat Afif dan team pengacara merasakan suatu kejanggalan dan mereka sangat yakin adanya kecurangan.

__ADS_1


"Tuan Afif, kami akan terus berusaha mencari bukti-bukti kebohongan mereka" ucap pak Fuad menatap Afif yang hanya terdiam.


"Sepertinya tidak perlu pak, saya tidak pantas mendapatkan harta kekayaan dari orang tua saya." Afif berkata, sambil menghela napas dan mengusap kasar wajahnya.


"Selama ini, saya selalu hidup dari harta kekayaan mereka, tanpa berpikir bagaimana cara mencari dan mendapatkan harta-harta itu" Afif berkata dengan suara lirih, membuat para pengacara mengerutkan kening dan saling melempar pandang. Sedangkan Fatimah hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Biarkan wanita itu menikmati semua harta kekayaan yang bukan menjadi haknya, saya sudah tidak menginginkannya" Afif berkata dengan kepala menengadah ke langit-langit. Dia mencoba kuat, tetapi jauh di lubuk hatinya, kebingungan dan ketakutan kini menyelimuti dirinya.


"Baiklah Tuan, kalau begitu kami permisi dulu, jika ada apa-apa jangan segan-segan menghubungi saya" pak Fuad berkata sambil menepuk pelan pundak Afif.


"Terimakasih Pak" jawab Afif sambil mengangguk.


Mereka pun pamit meninggalkan kediaman mewah, yang sebentar lagi akan di tinggalkan oleh sang pewaris tunggal.


"Mas, aku mau merapikan barang-barang kita" ucap Fatimah beranjak bangkit dari duduknya.


"Fatimah" Afif menahan lengan Fatimah, membuatnya menghentikan langkahnya.


"Allah memberikan sebuah masalah dan ujian untuk kita hadapi, yakinlah kita akan mampu melewatinya, kita juga harus percaya jika semua yang terjadi atas kehendakNya dan kita akan bisa melewati bersama." Fatimah berkata, dengan tersenyum dan.menatap hangat Afif. Tatapan dan senyuman yang mampu memberikan kehangatan dan kekuatan pada dirinya.


Afif meminta maaf kepada semua orang yang sudah mengabdi dan bekerja di keluarganya. Tampak bi Rina yang terus menangis, terlihat keadaannya yang sudah pulih dan bisa berjalan karena pengobatan dan therapy diluar negeri yang di berikan Afif.


"Izinkan saya untuk ikut dan merawat Tuan Muda" pinta Bi Rina sambil terisak.


"Terimakasih atas niat baik Bibi, tetapi Bibi pasti mengetahui kami sekarang, terutama masalah keuangan" jawab Afif dengan tatapan nanar.


"Bibi tidak meminta bayaran sepeserpun, Bibi hanya ingin bersama Tuan, Bibi sudah menganggap Tuan sebagai anak sendiri, jadi tolong izinkan Bibi ikut kalian" Tampak wajah bi Rina yang memelas.


Afif dan Fatimah saling tatap, Fatimah pun mengangguk sebagai tanda setuju, membuat wajah bi Rina tersenyum bahagia. Akhirnya, Afif, Fatimah, Bi Rina, Aisyah dan Rio pergi meninggalkan rumah itu.


Berbekal dengan tabungan yang Fatimah punya, mereka menyewa rumah yang cukup di tempati mereka berlima. Fatimah tidak memberitahukan keadaan mereka kepada Abi, Umi dan Ilham, karena bagi Fatimah semua yang terjadi di dalam rumah tangga mereka, tidak boleh terdengar apa lagi sampai di ketahui okeh pihak luar.

__ADS_1


Fatimah memutuskan untuk membuka jasa mengajar private, Afif membuka usaha jasa desain grafis komputer dan servis elektronik, sedangkan Bi Rina membuat beraneka macam kue yang di titipkan di warung-warung sekitar tempat tinggal mereka. Fatimah dan Bi Rina juga membuka jasa catering, jika ada hajat atau acara pesta.


Rio dan Aisyah terpaksa pindah sekolah yang jauh lebih murah di sekitar tempat tinggal mereka. Rio kini sudah banyak perubahan, dia sudah bisa berbicara dan hidup normal seperti anak-anak pada umumnya, semua itu juga berkat therapy pengobatan yang membutuhkan biaya tidak sedikit.


****************


Saat ini, terlihat Arman sedang berada di kediaman orang tuanya. Tanpa mempedulikan perasaan mereka. Dia menceritakan semua yang terjadi terhadap Afif dan Fatimah. Tentu saja, membuat haji Maulana dan Umi Zahira shock.


Seketika Umi Zahira tidak bisa membendung air matanya. Dadanya terasa sangat sesak, membuatnya sangat sulit untuk bernapas. Keadaan pun menjadi panik. Haji Maulana meminta tolong Arman untuk membawa sang Umi ke rumah sakit. Bertepatan dengan itu, Ilham yang baru saja pulang mengajar sangat terkejut melihat Umi Zahira yang sedang di bopong Arman.


Di dalam perjalanan ke rumah sakit, Umi zahira terus memanggil nama Fatimah. Ilham segera menghubungi Fatimah. Tanpa mereka sadari sebuah senyum licik terukir di bibir Arman.


Fatimah terus berlari melewati lorong rumah sakit yang hari itu sangat ramai. Dia tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Dadanya bwrdegup kencang memikirkan keadaan sang Umi.


Akhirnya Fatimah sampai di ruangan Umi Zahira di rawat. Bergegas dia membuka pintu dan melihat sang Abi, Ilham dan Arman sedang mengaji di samping ranjang Umi Zahira. Jantung Fatimah semakin berdegup kencang, dengan napas tersengal, perlahan dia melangkah mendekati mereka.


Tampak tubuh Umi Zahira yang sudah terbaring tidak berdaya dengan peralatan medis hampir di seluruh tubuhnya, membuat Fatimah terkulai lemas bagai tak bertulang.


****************


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Apakah Umi Zahira akan bertahan hidup?


Sanggupkah Afif dan Fatimah menghadapi semua masalah yang datang silih berganti?


Apa lagi yang rencana Arman selanjutnya?


Jangan lewatkan cerita seru di setiap babnya🤗.


__ADS_1


__ADS_2