
Bab 54
Malam ini Afif di tugaskan untuk melakukan transaksi di sebuah klub malam bersama Arsyad. Mereka akan menemui tamu asal Afrika Selatan, salah satu orang kulit hitam terkaya di negaranya dan mempunyai jabatan penting di bidang pemerintahan.
Mereka memasuki ruang VIP dengan penjagaan yang sangat ketat. Mereka di persilahkan untuk duduk. Tampak lelaki berkulit hitam legam dengan postur tubuh tinggi besar, memakai kalung rantai emas dengan pakaian yang sangat mahal melekat di tubuhnya.
Lelaki berkulit hitam dengan nama Adonis, atau lebih di kenal dengan Mr. Adonis. Dia menatap tajam Afif dan Arsyad secara bergantian, terlihat seulas senyum mengembang di bibir hitamnya yang tebal.
Mr, Adonis menatap mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan seperti ingin menelanj*ngi, terlihat dia mengusap bibirnya dan masih terus menatap lekat mereka. Tentu saja tingkah Adonis membuat mereka merasa risih dan jijik.
Apa lagi mereka mengetahui jika Mr. Adonis adalah seorang biseks*al. Afif berusaha menahan gemuruh di dadanya, ingin sekali dia memberikan bogem mentah kepada lelaki mesum seperti Mr. Adonis.
Arsyad berkali-kali menelan kasar salivanya. Dia bsrgidik ngeri membayangkan jika Mr. Adonis tertarik kepadanya. Tiba-tiba perutnya terasa sangat mual, membayangkan dia harus menjadi korban kebuasan nafsu dari Mr. Adonis.
"Ini barang-barang yang sudah di siapkan Sony yang kalian butuhkan." Afif berkata dengan suara tegas dan ekspresi wajah yang tenang, sambil menaruh koper hitam di atas meja.
"Silahkan di cek dulu, Mr." Afif berkata kembali sambil membuka koper hitam itu.
Tampak koper itu berisi penuh oleh kantongan serbuk yang merupakan heroin. Terlihat senyum di bibir tebal Mr. Adonis. Dia dan kedua anak buahnya segera memeriksa heroin tersebut. Setelah di pastikan jika serbuk-serbuk itu heroin asli, Mr. Adonis meminta salah satu anak buahnya untuk membawa koper ke atas meja.
Sambil menatap bergantian Afif dan Arsyad, dia langsung membuka koper itu. Terlihat koper yang di penuhi oleh lembaran uang dolar. Afif dan Arsyad segera memeriksa keaslian uang-uang itu dengan alat pendeteksi uang palsu yang komplit dan mendeteksi semua ciri khusus uang asli atau lebih di kenal dengan money detector yang di bawa mereka.
Setelah mengecek semua keaslian uang itu, transaksi pun deal. Namun, saat Afif ingin mengambil koper itu, tiba-tiba tangan Mr. Adonis menahan lengannya, membuat Afif dan Arsyad saling melempar pandang. Afif kembali sekuat tenaga menahan emosinya.
"Kita adalah patner bisnis yang saling menguntungkan dalam segi materi. Bagaimana kalau kita menjadi patner di atas ranjang juga?" Mr. Adonis berkata sambil menatap penuh nafsu ke arah mereka.
Afif yang sudah di kuasai emosi, berniat untuk memukul Mr. Adonis, tetapi dengan sigap Arsyad menahan tubuh Afif. Terlihat juga bodyguard yang berada di sana sudah siap siaga, jika Afif dan Arsyad bertindak macam-macam.
__ADS_1
"Aku akan menjadi partner ranjangmu dan akan memuaskanmu. Tetapi aku mempunyai satu syarat," ucap Arsyad tegas membuat Afif terperanjat, dia menatap Arsyad tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Namun, saat dia ingin protes, kembali Arsyad memberikan isyarat untuk dia tetap tenang.
Wajah Afif sudah memerah menahan amarahnya, dia menatap Mr. Adonis dengan sorot mata yang sangat menusuk, sedangkan Mr Adonis membalas tatapan itu dengan seringai kemenangan, membuat Afif semakin muak.
"Apa persyaratanmu?" Tanya Mr. Adonis sambil melepaskan tangannya dari lengan Afif beralih mengusap wajah Arsyad yang di penuhi brewok yang menambah ketampanan dan kemachoannya sebagai laki-laki.
"Kita akan bermain sampai kamu puas. Tetapi aku ingin kau harus membiarkan temanku ini untuk pergi!" tegas Arsyad membuat Afif kembali terperanjat dan menatap tidak percaya ke arah Arsyad.
"Arsyad!" panggil Afif, mencoba menyadarkan Arsyad untuk menarik kata-katanya kembali.
Mr. Adonis tertawa terbahak-bahak sambil berkata. "Tidak masalah, karena aku yakin kamu akan bisa memuaskanku, walaupun aku sebenarnya ingin sekali mencicipi dia," Mr. Adonis berkata dengan wajah santai, sambil melirik ke arah Afif.
Telapak tangan Afif mengepal kuat, terlihat rahang wajahnya yang sudah mengeras. Gemuruh amarah semakin membakar dadanya.
"Biarkan, temanku pergi sekarang!" pinta Arsyad yang sangat paham jika amarah Afif akan segera meledak.
"Baiklah, untuk saat ini, aku melepaskan temanmu yang sangat tampan ini. Tetapi, suatu saat nanti kita akan bermain sampai puas." Mr. Adonis menatap bergantian Afif dan Arsyad dengan seringai penuh nafsu.
Sambil menarik napas kasar dan tatapan penuh amarahnya, Afif pun segera mengambil koper berisi uang dolar dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk.
...****************...
Afif duduk di depan Sony, sambil meletakkan koper berisi uang dolar itu di atas meja. Tampak Arman yang sedang berdiri di samping Sony. Mereka saling menatap penuh kebencian. Bagi Afif, Arman hanyalah seorang penjilat dan pengecut.
Sony dengan wajah dingin, membuka koper itu dan memeriksa kembali uang-uang dolar yang berada di dalam koper itu. Dia tersenyum puas, saat mengetahui jika uang-uang dolar itu asli semua.
"Kerja yang bagus, tidak salah aku memilihmu dan si Arsyad bod*h itu untuk melakukan transaksi ini," Sony kembali tertawa, sambil menutup koper itu.
__ADS_1
Afif mendengkus kesal, dia menatap tajam Sony. "Aku pastikan jika terjadi sesuatu dengan Arsyad, kalian akan membayar semuanya!" Afif berkata, sambil bangkit dari duduknya dan langsung melangkah keluar.
Sony dan Arman tertawa penuh kemenangan. Sony meminta semua anak buahnya yang berada di kamarnya untuk keluar, kecuali Arman. Dia melangkah ke sebuah lemari dan membukanya dengan menggunakan sidik jarinya. Di dalam lemari itu terdapat brankas yang juga hanya bisa di buka dengan sidik jari Sony sendiri. Tampak Arman tersenyum penuh arti.
...****************...
Saat ini Afif sedang terduduk di sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari lautan, di mana Sarah harus menjadi santapan para hiu-hiu ganas itu. Dia juga teringat dengan Fatimah.
"Apakah Fatimah sudah menikah dengan Mark?" Tanya Afif kepada dirinya sendiri.
Afif mengusap kasar wajahnya dan menghembuskan napasnya kasar. Dia pun meraih sebungkus rokok dari saku celananya. Namun, saat dia ingin mengambil sebatang rokok, tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang. Saat dia menoleh seseorang yang hanya memakai kaos dan celana lusuh dengan topi di kepalanya, tersenyum ke arahnya.
"Om Alex," panggil Afif terkejut, sambil melihat keadaan sekeliling.
"Duduklah, ada ingin aku bicarakan," ucap Alex yang langsung duduk di batu besar di sebelah Afif.
"Kenapa Om ke sini? Ini terlalu berbahaya!" Afif berkata dengan wajah khawatir.
"Jangan khawatir, apa yang aku lakukan sudah pasti aku pikirkan terlebih dahulu," ucap Alex santai.
Afif mengangguk dan menghela napas. "Apa yang ingin Om bicarakan?"
...****************...
Apa yang ingin di bicarakan Alex, sampai nekad menemui Afif secara langsung?
Sampai kapan Afif akan terjun di dunia hitam?
__ADS_1
Maaf ya author gantung ceritanya, biar tambah kalian tambah kepo 😁🤭.