
Bab 66
Afif tersentak, dia menatap Mark yang sedang tersenyum penuh arti. Tatapannya kini beralih ke Fatimah, secepat kilat Fatimah menundukkan wajahnya saat netra mereka bertemu.
"Fatimah, aku mencintaimu. Tetapi aku bukan lelaki yang kamu inginkan." Ucap Mark dengan sikap setenang mungkin.
Fatimah kembali mengangkat wajahnya. Kini mereka bertiga menatap Mark yang terus tersenyum.
"Keadaan sudah normal kembali. Aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk kalian kembali bersama." Mark berkata lagi sambil tersenyum penuh arti, kembali menatap bergantian Afif dan Fatimah.
Mark meraih tangan Fatimah dan membawanya untuk berdiri di dekat Afif. Kini Fatimah sudah berada di hadapan Afif. Perlahan, Mark menyatukan tangan Afif dan Fatimah, membuat mereka tersentak. Salma hanya mampu menatap nanar ke arah mereka, tanpa mampu berkata-kata. Tampak buliran bening sudah beranak sungai di manik mata coklatnya.
Fatimah yang awalnya larut dalam suasana, tiba-tiba tersadar dan segera menarik kasar tangannya yang berada di genggaman Afif. Tentu saja, membuat Afif dan Mark tersentak dan menatap ke arahnya.
"Kalian tidak bisa seenaknya mengambil keputusan!" sergah Fatimah dengan wajah memerah, sambil menatap tajam ke arah Afif dan Mark.
"Fatimah...." Ucap Mark terputus, karena Fatimah langsung menyela perkataannya.
"Aku pikir kamu berbeda, Mark! Ternyata kalian sama saja! Lelaki pengecut, yang tidak pernah menghargai perasaan wanita!" sergah Fatimah lagi dengan suara bergetar. Tampak dadanya naik turun menahan gemuruh amarah.
"Mas Afif, aku menerima lamaranmu dengan ikhlas, karena aku mencintaimu! Aku tidak pernah berpikir, jika semua musibah yang menimpaku adalah karena kebersamaan kita, Mas! Tapi, apa yang kamu lakukan? Justru kamu menginginkan aku menikah dengan lelaki lain yang merupakan sepupumu! Suara Fatimah semakin bergetar. Buliran bening kini sudah mengalir bebas di wajahnya.
Begitu juga dengan Salma, mulutnya terkunci, tetapi buliran yang sudah sejak tadi beranak sungai, kini mengalir bebas juga membasahi wajahnya. Dia menatap nanar ke arah Fatimah. Sedangkan Afif, dia tidak berani menatap Fatimah. Dia tidak sanggup melihat air mata Fatimah.
"Kalian mengucapkan ijab qobul dan janji suci pernikahan. Tapi dengan teganya kalian menyerahkan istri kalian kepada orang lain. Kalian pikir aku ini apa, hah? Sebuah mainan yang sesuka hati kalian campakkan!" Teriak Fatimah, membuat Afif yang menunduk, langsung menatap Fatimah.
Baru pertama kali Afif dan Mark melihat Fatimah semarah ini. "Fatimah, maafkan, aku." Afif berkata, sambil berusaha turun dari ranjangnya.
Seketika Salma langsung menghampiri Afif dengan wajah panik. "Afif, jangan banyak bergerak! Sangat bahaya untuk luka-lukamu!" seru Salma, langsung memeluk pundak Afif dan mencoba mencegahnya turun.
Rasa sesak langsung menyeruak di hati Fatimah. Saat melihat, bagaimana khawatirnya Salma terhadap Afif. Dia juga melihat tatapan penuh cinta di mata Salma.
Fatimah merasakan hatinya sangat sakit dan terluka. Sambil mengusap kasar air matanya, Fatimah pun langsung membalikkan tubuhnya dan segera berlari keluar dari ruang perawatan itu.
__ADS_1
"Fatimah!" seru Afif dan Mark bersamaan.
Mark segera berlari mengejar Fatimah. Afif pun mencoba untuk berdiri dan mengejar Fatimah, tetapi Salma sekuat tenaga menahannya.
"Tolong, lepaskan Salma! Biarkan aku mengejar Fatimah! Aku ingin mengejar cintaku!" Sergah Afif, sambil mendorong kasar tubuh Salma sehingga tersungkur di ranjang. Afif segera mencabut kasar selang infus, membuat dar*h mengalir pada punggung tangannya yang terkena jarum infus.
"Secepat inikah, kamu melupakan janjimu kepadaku Afif!"
Seketika suara Salma yang bergetar menghentikan langkah Afif. Dia tersadar dengan janji yang di ucapkannya kepada Salma saat tragedi di rumah tua.
"Kamu berjanji untuk kita bersama, kenapa kamu mengejar wanita yang berstatus istri orang?"
Perkataan Salma membuat Afif terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Bahagia melihat Fatimah yang sangat di rindukan. Namun, jarak yang sangat dekat tidak mampu membuatnya menggapai tubuh Fatimah. Sepertinya mimpi pun tidak bisa menyatukan mereka.
Afif membalikkan tubuhnya dan perlahan berjalan kembali ke arah ranjang. Salma yang sedang berdiri di depan ranjang, menatap nanar Afif dengan buliran bening yang terus mengalir.
"Maafkan aku, sudah membuatmu menangis! Aku ...." Salma langsung menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Afif, sambil menggelengkan kepalanya dan segera memeluk Afif.
"Aku sangat tahu untuk siapa hatimu," ucap Salma sambil terisak.
"Berikan aku kesempatan, walaupun perbandingan kami bagaikan langit dan bumi." Salma berkata lagi semakin terisak.
Afif menarik napas dalam-dalam dan memejamkan matanya sesaat. Dia pun membalas pelukan Salma sambil berkata. "Jangan menangis, aku pasti menepati janjiku! Maafkan, aku!"
...****************...
Sementara itu, Fatimah kini berada di masjid yang letaknya berada di area rumah sakit. Begitu khusyuknya Fatimah memanjatkan do'a, mengadukan semua keluh kesahnya, menumpahkan semua kesedihan yang begitu menyesakkan dadanya.
Mark yang mengetahui Fatimah berlari ke masjid, membuat hatinya lega dan tersenyum. Dia pun ikut masuk ke dalam masjid karena sudah memasuki waktunya shalat.
Setelah menunaikan kewajiban sebagai muslim, Mark langsung menghampiri Fatimah yang baru saja keluar dari tempat shalat wanita dan segera mensejajarkan langkahnya dengan Fatimah.
"Aku lapar, sudah waktunya makan siang," ucap Mark, sambil melihat ke arah jam tangannya.
__ADS_1
Fatimah yang sudah mengadu dan menumpahkan kesedihan kepada Sang Khalik, kini merasa hatinya lebih tenang. Seulas senyum tampak di bibir tipisnya, membuat Mark ikut tersenyum.
...****************...
"Apa masakan Indonesia selalu cocok dengan lidahmu?" tanya Fatimah saat melihat Mark sangat lahap menyantap nasi gudeg lengkap dengan ayam goreng lengkuas.
"Mamaku asli Indonesia dan aku sering berkunjung ke sini, jadi lidahku sudah terbiasa. Apalagi...." Mark tidak meneruskan ucapannya, dia menatap Fatimah sambil tersenyum. Membuat Fatimah mengerutkan keningnya.
"Aku mempunyai istri asli orang Indonesia dan setiap hari aku selalu di masakan menu spesial Nusantara." Mark berkata sambil tersenyum.
Fatimah membalas senyuman Mark. Tetapi, tiba-tiba senyum itu langsung menghilang berganti dengan wajah yang sendu.
Mark menarik napas kasar. "Fatimah, maafkan aku! Aku hanya ...."
"Tidak perlu di bahas lagi! Setelah ini, aku ingin segera istirahat." Ucap Fatimah sambil menyantap sepiring gudeg yang tersaji di hadapannya.
Mark berusaha tersenyum dan meneruskan makannya. Sesekali dia melirik ke arah Fatimah. Dia sangat mengetahui jika Fatimah sangat terluka.
"Kenapa sulit sekali untuk menyatukan kalian? Di tempat yang sama, tetapi dengan pasangan yang berbeda.' Mark berkata di dalam hati.
...****************...
Apakah Afif dan Fatimah di takdirkan untuk berjodoh! atau sebaliknya?
Mampukah Afif dan Fatimah menjalani kehidupan dengan pasangan yang sama-sama tidak di cintai oleh mereka?
Apakah Afif benar-benar menyerah untuk mengejar cinta Fatimah ?
Temui kelanjutan cerita mereka di bab selanjutnya.
Semoga cepat tamat dan maafkan seminggu tidak up π.
Dunia real benar-benar menyita waktu dan moodku βΊοΈ.
__ADS_1
Terima kasih yang tetap setia dan menunggu cerita ini ππ.