
Bab 33
Fatimah menggenggam erat jemari haji Maulana yang masih tak sadarkan diri pasca operasi. Sesekali Fatimah menciumi tangan Abinya yang lengkap dengan selang infus.
Afif menempatkan Haji Maulana di ruang VIP untuk mendapatkan perawatan yang eksklusif. Semua biaya di tanggung Afif, apa lagi dia mempunyai saham yang cukup besar di rumah sakit itu.
"Istirahatlah Fatimah! Biar Abi aku yang menjaga." Fatimah tersentak, terlalu fokus terhadap haji Maulana, dia sampai melupakan kehadiran Afif di tengah-tengah mereka.
"Tidak perlu, lebih baik kamu pulang sekarang! Istrimu pasti sudah menunggu dan mencemaskanmu!" tolak Fatimah, tanpa sedikit pun menatap Afif.
Afif menarik napasnya kasar. Mendengar pengusiran Fatimah membuat dadanya terasa sesak, ingin sekali dia memeluk wanita yang berada di hadapannya, tetapi itu adalah hal yang tidak mungkin di lakukannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, meskipun aku belim bisa menggapaimu." Perkataan Afif membuat Fatimah menarik napas dan memejamkan matanya sesaat.
Fatimah tidak mengerti dengan perasaannya, entahlah, apakah dia harus bahagia atau sedih dengan pernyataan Afif. Kini dia merasa seperti seorang wanita penggoda yang menahan suami orang untuk bertemu istrinya.
Di saat Fatimah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba dia merasakan gerakan jemari haji Maulana.
"Abi!" seru Fatimah dengan mata berbinar.
Afif tersentak dan langsung menekan tombol panggilan darurat dan dia menghampiri tempat tidur di mana haji Maulana terbaring, sehingga tubuhnya tepat berada di samping Fatimah.
"F-Fatimah," panggil haji Maulana dengan suara parau. Dia menatap ke arah Fatimah dan Afif bergantian.
"Iya Abi," jawab Fatimah menahan air matanya.
Sebelum haji Maulana meneruskan perkataannya, tim medis pun datang dan langsung mengecek keadaan haji Maulana. Afif segera membawa Fatimah menyingkir dengan menarik lembut tangan Fatimah.
Fatimah yang fokus dengan apa yang di lakukan tim medis, tidak sadar jika Afif sedang merangkul pundaknya. Sampai akhirnya tubuhnya di tarik kasar dan di dorong kuat oleh seseorang, membuat tubuh Fatimah terdorong dan terjatuh dengan pelipisnya yang tepat mengenai ujung meja, membuatnya langsung pingsan dengan pelipis yang mengeluarkan darah.
Tentu saja kejadian itu membuat semua tersentak kaget, tim medis yang sedang menangani haji Maulana pun teralihkan dengan kejadian tersebut.
"Tolong, kalian fokus dengan pasien! Lakukan tindakan yang terbaik!" tegas Afif dengan wajah penuh dengan kekhawatiran.
Para tim medis mengangguk dan kembali fokus mengecek keadaan haji Maulana. Mereka mencoba menenangkan haji Maulana yang mengetahui jika terjadi sesuatu kepada Fatimah.
Afif dengan wajah panik, segera mengangkat tubuh Fatimah yang tak sadarkan diri dan setengah berlari dia membawa tubuh Fatimah keluar dan menuju IGD.
"Afif, tunggu!" teriak wanita yang tak lain adalah Nabila.
Afif tidak menghiraukannya, dia terus berlari sampai di ruang IGD. Tim medis yang mengetahui siapa Afif, segera menangani Fatimah.
__ADS_1
"Afif," panggilan Nabila, membuat wajah Afif memerah dengan rahang yang mengeras. Dia segera menarik kuat tangan Nabila keluar dari ruangan membuat Nabila meringis kesakitan.
"Berani sekali kamu melukai Fatimah, hah!" teriak Afif langsung menghempas kasar tangan Nabila.
"Aku ini istri sahmu! hanya karena wanita penggoda itu kamu berani membentak dan berlaku kasar kepadaku!" teriak Nabila dengan dada naik turun menahan sesak dan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya.
Afif menghembuskan napasnya kasar.
"Jangan pernah menyebutnya sebagai wanita penggoda! Dia tidak pernah menggodaku, justru aku yang selalu tergoda dengannya!" tegas Afif sambil mencengkeram kuat wajah Nabila, membuatnya kembali meringis kesakitan.
"Kita sudah mempunyai perjanjian, kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!" ancam Nabila, membuat Afif tersenyum miring.
"Aku sudah tidak peduli dengan perjanjian kita, meskipun nyawa taruhannya!" sergah Afif semakin keras mencengkeram wajah Nabila.
"Kita hanya menikah di atas kertas, tidak ada yang menghalangi perasaanku terhadap Fatimah!" sergah Afif, tepat di wajah Nabila.
"Tuan Afif, berhentilah! Anda sudah menyakiti Nyonya kami!" beberapa orang berbadan tegap sudah berada di belakang Afif, membuatnya kembali tersenyum miring.
"Tuan, Nyonya Fatimah sudah di pindahkan ke ruang perawatan," bisik seseorang yang merupakan asisten Afif yang tak lain adalah Dion.
Perkataan Dion membuat Afif seketika melepaskan cengkeraman di wajah Nabila, tanpa sepatah kata pun dia segera meninggalkan mereka, tanpa memperdulikan keadaan Nabila yang meringis kesakitan dengan wajah memerah bekas cengkeram tangan Afif.
"Kamu akan membayar semuanya Afif!" teriak Nabila dengan napas memburu dan wajah memerah.
*************
Afif setengah berlari menghampiri ruangan Fatimah di rawat, tetapi Afif tidak menemukan Fatimah.
"Di mana Fatimahku?" Tanya Afif panik dan wajah memerah.
"Maaf Tuan, Nyonya memaksa untuk di antarkan ke ruang ICU menemui ayahnya," jelas seorang perawat yang sedang bertugas di ruangan itu.
Tanpa merespon perkataan perawat itu, Afif langsung berlari menuju ruang ICU. Dia melihat Fatimah yang sedang menangis pilu.
Seketika tungkai kaki Afif terasa lemas, lidahnya terasa kelu kala menyaksikan tubuh haji Maulana yang sudah terbujur kaku.
"Tuan Afif, maafkan saya," ucap Dokter yang baru saja menangani haji Maulana.
Mendengar perkataan dokter, membuat napas Afif memburu, ingin sekali dia memukul dokter itu, tetapi melihat keadaan Fatimah dia mengurungkan niatnya, tanpa menoleh sedikit pun ke arah dokter itu. Dia terus melangkah mendekati Fatimah yang sedang terisak.
"Fatimah," panggil Afif sambil menyentuh pundak Fatimah.
__ADS_1
Fatimah menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah Afif. Sesaat netra mereka bertemu, membuat dada mereka semakin sesak dengan pikiran yang bercampur aduk.
"Maafkan aku!" ucap Afif dengan suara parau.
Fatimah tidak menjawab, dia melepaskan tangan Afif dari pundaknya, membuat Afif menarik napasnya kasar.
"Izinkan aku untuk membantu pemakaman Abi." Afif berkata, sambil menatap nanar ke arah jasad haji Maulana. Fatimah tidak menjawab, kembali buliran bening membasahi wajahnya.
**************
Selesai prosesi pemakaman, tampak di rumah minimalis yang rapi dan asri terlihat Fatimah, Aisah, Rio dan bi Rina dengan membawa koper besar siap meninggalkan rumah itu.
"Fatimah, tolong jangan pergi lagi dariku!" Afif berkata sambil menahan lengan Fatimah yang akan melangkah menuju mobil yang siap mengantarkan mereka.
"Kamu tidak punya hak untuk melarang kepergian kami!" jawab Fatimah ketus dan menghempas kasar tangan Afif.
Afif menghela napas. "Aku tidak akan melepaskan kamu lagi Fatimah! Aku tidak mau kita berpisah lagi! Ayo, kita menikah untuk kedua kalinya!"
Permintaan Afif membuat wajah Fatimah memerah.
Plak ....
Sebuah tamparan bersarang di pipi kanan Afif membuat semua orang terkejut. Bi Rina langsung memeluk Fatimah.
"Kamu pikir siapa dirimu Tuan Afif Abizar! Kamu pikir bisa mempermainkan suatu pernikan dengan uang dan kekuasaanmu!" bentak Fatimah dengan wajah memerah.
"Aku tidak pernah memainkan pernikahan, bagiku pernikahan adalah hal yang suci dan aku hanya ingin menikah dan menghabiskan hari tuaku bersamamu! Aku akan segera menceraikan Nabila!"
**************
Maafkan author yang slow up, lagi sibuk dengan dunia real😁.
Kalian pasti gregetan ya sama Afif? Author juga🤭.
Kalau cerita seperti ini, kasihan juga Nabila walaupun dia jahat😌.
Habis bagaimana lagi, kadang cerita di tulis sesuai dengan imaginasi yang tiba-tiba hadir saat author nulis, makanya kadang cerita yang di tulis dan di pikirkan berbeda.
Pokoknya author akan berusaha semaksimal mungkin buat cerita ini menarik☺️🙏.
Jangan pernah tinggalkan kelanjutan novel yang slow ini🤭🙏.
__ADS_1