
Sayup-sayup lantunan suara azan subuh sudah mulai berkumandang. Umi Fadillah, masih di tempat yang sama. Ia memeluk bantal sang putri dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti. Ia berkali-kali membaca sepucuk surat yang di tinggalkan Fatimah, masih berharap semua ini hanya sebuah mimpi belaka. Umi Fadilah benar-benar takut kehilangan putri satu-satunya.
Raut wajah Umi Fadilah, semakin cemas tak kala Fatimah mematikan ponselnya. Ia masih tak habis pikir jika sang putri bisa nekat untuk meninggalkan rumah, terlebih dengan membawa sebagian besar bajunya. Malam itu, Fatimah keluar dari kamarnya melalui sebuah jendela yang ada di dalam kamarnya.
"Abi, Fatimah sama sekali tak menjawab panggilan Umi, ia bahkan menonaktifkan ponselnya saat ini" ucap Umi Fadilah menghampiri suaminya yang baru saja mengambil wudhu di belakang.
Abi Firman, terdiam. Beliau terlihat sangat tenang dan berwibawa sambil berjalan mendahului istrinya.
"Kita sholat dulu ya Mi" jawan Abi Firman, ia sedikit merubah posisinya saat ini bergeser lebih ke depan untuk memberi ruang pada Umi Fadilah.
"Abi, Fatimah kabur. Apa Abi lupa?" ucap kembali Umi Fadilah dengan suara yang bergetar, jemarinya tampak saling meremas resah.
Abi Firman terdiam untuk sesaat, ia menghentikan jemarinya yang sedang bertautan dengan tasbih.
"Abi bagaimana jika terjadi sesuatu pada Fatimah? Umi takut dia kenapa-napa?"
"Kita sholat dulu ya Mi, sholat qobliyah subuh lebih baik dari dunia dan seisinya, Tidak baik menunda-bunda waktu untuk sholat"
"Abi, ini bagiamana sih? anak hilang kok tenang sekali!"
"Istighfar Mi, salah satu sahabat Nabi, Abdullah bin Bisyr masih tetap melaksanakan sholat walau terkena panah pada tubuhnya. Hari ini Fatimah hanya kabur dari rumah, itu tidak akan menjadi penghalang bagi kita untuk tetap menjalankan sholat"
Abi Firman, memilih untuk bangkit dari duduknya. Ia mulai bersiap memimpin sholat sembari menunggu sang istri menggelar sajadahnya.
Menjelang pukul sembilan pagi, sebuah mobil pajero sport mulai memasuki halaman pekarangan rumah Abi Firman. Abi yang sedang duduk di pelantaran rumah lekas bangkit dan menyapa tamu agungnya. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan sebagai isyarat kedamaian.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum calon besan, sapa Pak Bayu ketika mereka berjumpa.
"Waalaikumsalam saudaraku" jawab Abi Firman.
Umi Fadilah, yang mendengar ada suara lekas berlari kecil turut bergabung menyapa tamunya.
"Mari silahkan masuk"
"Mas Bayu, Mbak Nani sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih sudah sudi berkunjung ke gubuk sederhana kami. ucap Abi Firman menatap dua tamunya secara bergantian, sejurus kemudian ia menatap wajah sang istri yang tampak terlihat tegang.
"Mas Firman, ada hal yang ingin saya sampaikan" ucap Pak Bayu yang terlihat tampak gusar pagi itu.
Mendadak suasana ruang tamu kediaman Fatimah, tegang saat pertemuan dua calon keluarga.
"Prihal perjodohan anak-ana kita" Pak Bayu menjeda sejenak ucapannya.
Seluruh penghuni di dalam ruang tamu itu merasakan henti jantung untuk sesaat.
"Saya minta maaf, putra kami kabur sejak semalam"
Entah harus senang atau sedih Umi Fadilah mendengar berita ini, sebab putrinya pun demikian.
"Saya juga minta maaf Mas Bayu, putri saya juga kabur sejak semalam"
Keempat orang tua paruh baya tersebut menghela nafas berat secara bersamaan, sejurus kemudian mereka saling melempar senyum.
__ADS_1
"Atas nama putra saya, saya minta maaf Mas Firman, saya janji akan membujuknya lagi nanti"
"Atas nama putri saya, saya juga minta maaf Mas Bayu, saya tidak berjanji tapi saya akan berusaha untuk membujuk putri saya nanti"
"Saya rasa, kita tak perlu saling minta maaf. Anggap saja ini sebagai pelajaran sekaligus ujian agar kita slalu yakin akan takdir-NYA. Bukankah semua sudah ada yang mengatur sebagai hamba kita hanya bisa berencana tapi sejatinya Allah penentu segalanya" tutur Abi Firman seraya memeluk sahabat karibnya.
*********************
"Aku Aldebaran Alfarizi, biasa di panggil Rizki" dusta Al, pada Fatimah. Ia sengaja ingin mengubah jati dirinya tak ingin ada orang yang mengenalinya terlebih mengetahui jika ia berasal dari dinasti Sailendra.
Fatimah, hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
"Dari mana kamu tahu nama saya?" tanya Fatimah menghentikan langkahnya.
"Jadi nama kamu Kisana atau Adinda?" tanya Al kembali dengan antusias, entah mengapa melihat Fatimah seakan ada magnet tersendiri baginya.
Fatimah masih tak memberikan jawaban. Ia hanya tersenyum menahan tawa. Sejurus kemudian Al pun ikut tertawa menyadari ucapannya.
"Jadi kita sudah kenalan ya, ah Dinda nama yang indah" puji Al yang tengah mengaku menjadi Rizki.
"Saya izin mau sholat subuh dulu sekalian pamit mau pergi. Menurut Dokter kondisi Mas Rizki baik-bak saja"
Hati Al, merasa berdesir ketika ada sosok wanita yang lembut dan anggun memanggilnya dengan sebutan "Mas" sungguh tak sia-sia ia tertabrak mobil jika hikmahnya bisa bertemu dengan bidadari secantik Dinda.
"Tunggu!, apa saya boleh minta nomor ponsel kamu?" todong Al terang-terangan.
__ADS_1
Bersambung ~