Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Suara Familiar


__ADS_3

"Mas, di depan itu ada cara apa?" tanya Al, pada salah satu pemuda yang memakai sarung warna navi sedang berjalan di hadapannya hendak menuju masjid di depan sana.


"Acara pengajian rutin malam jum'at kliwon Mas"


"Waduh!" jawab Al, yang tampak terkejut dengan jawaban pria di hadapannya.


"Kenapa Mas?"


"Namanya aneh, pengajian malam jum'at kliwon tapi ngajinya siang-siang bolong"


"Ya suka-suka dong Mas, kenapa situ yang sewot"  pria yang di ketahui bernama Lukman, tersebut lekas meninggalkan Al begitu saja.


"Mas tunggu!" teriak Al, menghentikan langkah Lukman.


"Ada apa?"


"Apa saya boleh ikut pengajian itu" jemari Al, menunjuk ke arah masjid. Ia benar-benar penasaran dengan suara wanita yang tengah melafalkan ayat-ayat suci.


"Kamu mau ikut pengajian? dengan pakaian seperti itu?" Mata Lukman melirik dari ujung ke ujung penampilan Al yang terkesan urakan. Celana Al, yang compang-camping di tambah kalung yang melingkar di leher serta tatanan rambut yang berantakan membuat Lukman menatap tak percaya.


"Memang kenapa? ini pakaian mahal"


"Bukan perkara mahal tidaknya, tapi kalau semacam itu kamu lebih cocok menjadi seorang pengamen jalanan atau bahkan begal" Lukman sengaja mengejek penampilan Al.


"Kamu tidak takut dosa berbicara seperti itu, pakaianku memang tak sepertimu tapi aku tak pernah menghinamu dan menjudge hidup seseorang seperti itu"


"Santai bos, kalau mau ikut pengajian ganti baju dulu"


"Gani baju?"


"Ya, gantilah bajumu dengan pakaian yang lebih sopan"


Al, tapak berfikir. Pasalnya tak membawa baju yang banyak. Selain itu seluruh baju yang ada dalam tas ranselnya juga memiliki model yang sama.


"Aku tak punya baju sepertimu"


"Hah? apa kamu bukan serang muslim?"


"Aku muslim"


"Lantas?'

__ADS_1


"Ya aku gak punya baju semacam itu" tangan Al, menunjuk baju yang di kenakan Lukman.


"Ahm sudahlah. Anggap saja aku sedang beramal. Ayo ikut aku sebentar"


Lukman lekas membawa Al ke rumahnya, yang kebetulan tak jauh dari masjid tempat di adakan pengajian, Ia meminjamkan satu set baju koko dengan sarungnya pada Al.


"Ini bagaimana cara pakainya?"


"Kamu sedang bercanda atau bagaimana?"


"Aku memang tak bisa memakai pakaian semacam ini"


Huft...


Lukman menghela nafas kasar. Ia lekas meraih sarung warna hitam di tangan Al dan membantu memakaikannya.


"Kamu tahu, kadar kegantengan seorang laki-laki akan naik 90% ketika mengunakan sarung"


"Ah, masa? aku tak percaya!


"Coba saja lihat"


Al, tertegun ketika melihat penampilan barunya. Ia memakai kaos lengan panjang berwarna hitam dengan balutan kaos lengan panjang. Al tak jadi memakai baju koko Lukman, megingat ukuran tubuh mereka yang jauh berbeda. Tubuh Lukman yang gendut membuat baju itu tampak kedodoran. Al, lantas memakai kaos miliknya sendiri.


"Aku takut jatuh, ini seperti orang memakai jarik" pekik Al, berusaha untuk berjalan dengan pelan.


"Haduh cerewet, oh ya ini tidak gratis" terang Lukman.


"Nanti kalau aku sudah kaya lagi, ku ganti semuanya. Bila perlu sekalian tokonya"


Dasar tukang khayal, gembel aja laganya pake mau beliin sekalian tokonya.


"Emang pernah kaya ya?" ledek Lukman, mereka memang baru bertemu siang itu, tapi entah mengapa sudah akrab bahkan seperti teman yang sudah lama saling mengenal.


Kini keduanya sudah bersiap untuk berangkat ke masjid. Al,  menggunakan sarung dengan kopiah di kepalanya, Seluruh perhatian jama'ah pengajian tertuju pada Al.


Benar apa yang di katakan Lukman, jika tingkat kegantengan seorang laki-laki akan naik ketika menggunakan sarung. Terbukti dengan wajah Al, yang menjadi pusat perhatian. Terlebih kulitnya yang putih serta hidung mancungnya. Sungguh wajah Al, merupakan salah satu bukti nyata kecanggungan Allah dalam menciptakan hambanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lukman sedikit menyikut tangan Al, ketika mendapati pria itu memejamkan mata saat berada di pelantaran masjid.


"Man, itu suara siapa?" tanya Al dengan menikmati lantunan  ayat suci yang di bacakan oleh seorang wanita.

__ADS_1


"Dengarkan baik-baik suara itu, itu adalah suara Fatimah. Dia keponakan Bulek Aminah salah satu guru ngaji di sini" jawab Lukman.


"Fatimah?" Al, sedikit mengkerutkan keningnya. Pasalnya suara itu mirip sekali dengan Adindanya.


"Iya, dia adalah Fatimah. Manusia spesifikasi bidadari yang di ciptakan Allah untuk turun ke bumi"


"Aku rasa Fatimah adalah jodohku" jawab Al dengan asal ketika mereka tengah duduk di lantai masjid.


"Mana mungkin serang wanita spesifikasi bidadari berjodoh dengan manusia setengah setan sepertimu" ejek Lukman dengan tersenyum dan memukul kecil lengan tangannya.


"Kamu mengejekku?" Al, tersenyum sinis tak terima.


"Kamu jangan terlalu tinggi ketika bermimpi. Kamu dan Fatimah itu berbeda"


"Maksud kamu?'


"Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan dan mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya Yasin : 40. Begitulah kira-kira kamu dan Fatimah" Lukman tersenyum kecut pada teman barunya.


"Sepertinya kamu terlalu dalam mencampuri urusan Gusti Allah Man. Asal kamu tahu, jika saat gerhana tiba maka matahari dan bulan akan berada dalam satu garis lurus" terang Al, tak terima.


"Jangan lupa Al, sekalipun berada dalam garis lurus mereka hanya sekedar untuk berpapasan, bahkan sekedar untuk melepas rindu pun rasanya tak mungkin. Pertemuan keduanya bukan untuk menetap, bukan pula untuk bersanding apalagi bersatu. Pertemuan singkat itu hanya sekedar tatapan sesaat"


"Tapi jangan kamu pungkiri, itu juga bagian dari bentuk takdir yang tak terelakan" Al, masih mempertahankan pendapatnya.


"Kenyataan yang harus kau tahu Al, jika keduanya tak mungkin untuk di satukan bahkan setelah perpisahan yang begitu panjang. perjumpaan mereka begitu singkat. Mereka hanya akan saling mengagumi, tanpa sadar waktu pun akan berputar sangat cepat dan pertemuan mereka berakhir tanpa sebuah kata. Begitulah akan berulang beberapa kali hingga kiamat tiba"


Al dan Lukman, sedang berdebat tentang semesta yang sepertinya seperti kehidupan ia dan Fatimah.


"Hem, jangan berisik. Pengajian akan segera di mulai" ucap seseorang yang berada tepat di hadapan mereka.


 Al, menghela nafasnya dengan kasar. Dalam hati kecil tak dapat di pungkiri jika ia begitu penasaran dengan suara wanita yang melantunkan ayat-ayat suci tersebut. Telinganya seperti tidak asing. Suaranya benar-benar membuat jiwanya yang kosong menjadi terombang-ambing.


Adinda....


Ini visual tokoh menurut versi author ya teman-teman.



Aldebaran


__ADS_1


Adinda Fatimah Zara


Teman-teman Bab 1-4 aku rubah semuanya ya, tolong baca ulang biar nyambung ceritanya. Oh ya minta tolong dukungannya ya. Tinggalkan jejak kalian like, komen, subscribe dan vote. Ikuti terus kisah mereka. Trimakasih 😊


__ADS_2