
Bab 14
"Arman jaga ucapanmu!" sergah Ilham, menatap tajam Arman.
"Ini kenyataan Bang!" jawab Arman.
"Jangan pernah takut untuk kehilangan harta di dunia Arman! apa lagi sampai menggantungkan harapan kepada manusia" ucap haji Maulana.
Arman mendengus kesal.
"Terserah kalian!" Arman melangkah pergi, tanpa rasa hormat kepada Abi dan Umi nya.
"Arman!" teriak Ilham, menyusul langkah Arman.
"Astaghfirullah" Umi Zahira berkata, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, pertama kali melihat Putranya Arman bersikap tidak sopan kepada mereka.
"Sabar Umi" Salma memeluk erat tubuh Umi Zahira, sambil mengusap air mata yang mengalir di wajah Uminya.
"Abi, Umi, maafkan Fatimah, karena sikap egoisku semua menjadi kacau" Fatimah berkata, sambil bersimpuh di hadapan Abi dan Uminya.
"Ini bukan kesalahanmu, perasaan itu datang tiba-tiba tanpa ada yang bisa menolaknya!" Haji Maulana mengusap lembut kepala Fatimah.
"Kalau pilihan Fatimah salah, tolong Abi dan Umi luruskan" ucap Fatimah, buliran bening mulai membasahi wajahnya.
"Shalat Istikharah dan mintalah petunjuk, biar Allah meyakinkan pilihanmu" jawab Umi Zahira sambil mengusap air mata Fatimah.
"Bagaimana dengan nasib pesantren ini Abi, Umi?" tanya Fatimah, menatap lekat wajah kedua orang tuanya dan sang kakak.
"Jangan pernah mencemaskan sesuatu yang belum terjadi Fatimah! Ikhtiar dan do'a itu yang wajib kita lakukan, setelahnya biar tangan Allah yang bekerja," ucap haji Maulana, membuat Fatimah tersadar.
"Astaghfirullah, maafkan aku ya Rabb, telah meragukan kuasaMu."
"Lebih baik sekarang kita menunaikan shalat ashar dulu!" Ucap Salma, yang terus berada di sisi Umi Zahira.
Semua setuju, dan mereka pun bergegas ke masjid yang tepat berada di samping pesantren, dengan nama yang sama yaitu masjid Darul Hikmah.
**********
"Arman, tunggu!" Panggil Ilham, menarik lengan Arman.
"Kamu tidak boleh bersikap tidak sopan seperti ini!" ucap Ilham, mencoba menahan emosinya.
"Loe tahu khan bang, bagaimana kekuasaan keluarga haji Abdullah? Dan kemajuan pesantren Darul Hikmah ini karena campur tangan mereka!" teriak Arman, menarik perhatian para santri yang berada di sana.
__ADS_1
Ilham menghela napas, sifat emosional dan sikap temperamental Arman benar-benar tidak bisa berubah.
"Arman, kita bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin" ucap Ilham lembut, mencoba mendinginkan hati Arman.
"Kita shalat ashar dulu, setelah itu baru kita bahas masalah ini" ajak Ilham.
Arman mendengus kesal, sambil mengikuti langkah Ilham.
Mereka melangkahkan kaki ke masjid dan shalat berjamaah. Saat sedang melaksanakan shalat berjamaah, tiba-tiba terdengar suara jeritan, dari para santri yang sedang tidak melaksanakan shalat.
"Kebakaran ... pesantren kebakaran ...." Suara jeritan mereka, membuat semua jamaah segera menyelesaikan shalat mereka, dan berlari keluar. Haji Maulana segera menghubungi pemadam kebakaran.
"Astaghfirullahaladzim" teriak mereka bersamaan. Terlihat si jago merah, dengan cepat melalap banguan pesantren.
Ilham, Arman dan para santriawan mencoba memadamkan api dengan air dan peralatan seadanya. Sampai akhirnya mobil pemadam kebakaran pun tiba. Namun, hampir seluruh bangunan pesantren sudah hangus terbakar.
Umi Zahira tertunduk lemas dan menangis, begitu juga dengan Salma. Fatimah menahan sesak di dadanya, dia yakin jika kebakaran yang terjadi ada hubungannya dengan penolakannya terhadap khitbah dari Arsyad.
Fatimah bangkit dari duduknya, dengan Bismillah dan langkah pasti, dia segera pergi meninggalkan area pesantren. Dia segera masuk ke dalam rumah mencari kunci motor kepunyaan Arman, dan segera melajukan motor itu keluar pesantren.
"Abi Maulana ...kak Fatimah pergi menbawa motor bang Arman!" teriak salah satu santriwati, membuat mereka semua tercekat.
"Mau kemana Fatimah?" Ucap Umi Zahira dengan wajah cemas.
"Ilham, ayo kita susul Fstimah!" Ajak haji Maulana dengan wajah tegang, perasaannya tidak enak.
Tanpa menunggu jawaban dari haji Maulana, motor yang di kendarai Ilham dan Arman melaju membelah jalan raya. Sepanjang jalan Ilham terus mencari jejak Fatimah.
"Kita ke rumah keluarga haji Abdullah." Ucap Arman tiba-tiba, membuat Ilham segera menghentikan motornya.
"Kamu yakin jika Fatimah pergi ke sana?" Tanya Ilham, sambil mengerutkan keningnya.
"Cepatlah bang! Sebelum semuanya terlambat!" perintah Arman, membuat Ilham terdiam.
Ilham kembali melajukan motornya menuju rumah haji Abdullah, segudang pertanyaan muncul di benaknya. Dia yakin jika Arman sedang menyembunyikan sesuatu.
*****************
Sesampainya di rumah megah haji Abdullah, Fatimah langsung memarkirkan motornya, dan bergegas melangkah ke dalam rumah itu.
"Assalamualaikum" ucap Fatimah.
"Waalaikumsalam" ucap wanita setengah baya, yang merupakan Umi Nara yang merupakan istri haji Abdullah dan pastinya ibu dari Arsyad.
__ADS_1
"Fatimah! mau apa kamu ke sini?" Tanya Umi Nara dengan ketus, dan tampak ketidaksukaan di wajahnya
"Mohon maaf Umi, bisa saya bertemu dengan pak haji dan bang Arsyad?" Tanya Fatimah dengan suara selembut mungkin, walaupun dadanya terasa sesak.
"Mau apa kamu menemui kami?" Tanya haji Abdullah, yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka dengan Arsyad yang berada di sampingnya.
"Maaf pak haji, saya hanya mau memberitahu jika baru saja pesantren Darul Hikmah mengalami kebakaran" jawab Fatimah, sambil menundukkan wajahnya.
Tampak Arsyad, Umi Nara dan haji Abdullah mengerutkan kening, menatap tajam ke arah Fatimah.
"Lalu apa hubungannya dengan kami Fatimah?" Tanya Arsyad, menatap lekat wajah Fatimah, wanita yang mampu mengalihkan dunianya, sekaligus membuatnya sakit hati.
"Ooo ...aku tahu, kamu pasti meminta bantuan kami untuk nembantu pembangunan pesantren kembali? jangan mimpi Fatimah! setelah kamu dan Abimu melempar kotoran ke wajah kami!" sergah Umi Nara dengan wajah memerah dan tatapan tajam.
"Maaf, ini semua bukan kesalahan keluarga saya, tetapi ini kesalahan saya! jadi tolong, jangan karena sakit hati, kalian tega mengorbankan banyak orang" tegas Fatimah, walaupun hatinya bergetar hebat.
"Apa maksudmu Fatimah?" tanya haji Abdullah, dengan sorot mata nyalangnya.
"Kenapa kalian tega membakar pindok pesantren yang merupakan tempat suci untuk menuntut ilmu? Apa kalian juga tidak berpikir, jika yang kalian lakukan adalah tindakan kriminal? Bagaimana jika ada korban jiwa?" Tanya Fatinah, membuat bola mata mereka membulat sempurna dengan wajah yang semakin merah padam.
"Lancang sekali kamu Fatimah!" hardik Umi Nara, yang hendak melayangkan tangannya ke wajah Fatimah.
"Jangan Umi" Cegah Arsyad, sambil memegangi tangan Uminya.
"Kamu masih membela wanita kurang ajar dan tidak tahu di untung ini, Arsyad!" teriak Umi Nara.
"Tenang Umi, biar Fatimah urusan Arsyad" jawab Arsyad, tanpa berkedip sedikit pun menatap Fatimah.
"Apa kamu punya bukti-bukti menuduh kami?" Tanya Arsyad, sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Fatimah, membuat Fatimah mundur beberapa langkah.
Arsyad terus melangkah mendekati Fatimah yang terus melangkah mundur, sampai tidak sadar jika ada anak tangga di lantai menuju ruang depan rumah Arsyad, membuat tubuh Fatimah kehilangan keseimbangan. Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sebuah tangan kekar menangkapnya.
*****************
Apa benar jika kecelakaan yang terjadi adalah ulah dari keluarga Arsyad?
Apakah penolakan Fatimah, menjadi dendam pada keluarga Arsyad ?
Apa yang di sembunyikan Arman?
Siapakah tangan kekar yang menangkap tubuh Fatimah?
Maaf lama up, terimakasih yang sudah mau mengikuti cerita novel iniπ€π
__ADS_1
Semoga Authornya jadi rajin ππ€