Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Sekufu


__ADS_3

Masjid Al-ikhsan yang biasa di gunakan untuk mengadakan pengajian rutin malam jum'at kliwon memanglah besar, dengan demikian dapat menampung banyak jamaah di sana. Al dan Lukman berjalan beriringan menuju tempat sholat putra hendak membersihkan karpet di sana. Tak lupa sapu masih dalam genggaman Al. Matanya masih sibuk mengintai setiap inci ornamen yang ada di masjid ini. Rasanya benar-benar berbeda dengan ketika ia berada di jalanan. Hawa dingin dan ketentraman menyeruak memasuki kalbunya.


Ia yang tengah lama sekali tak menginjakan kaki di masjid merasa hina. Entah sudah berapa lama kakinya tak di gunakan untuk berjalan menuju tempa ibadah itu. Al, bahkan lupa kapan terakhir ia menjalankan sholat. Selama ini hidupnya liar. Hingar bingar dunia dengan segala pesonanya telah membawanya larut dan jauh dari sang Kuasa. Terlebih kedua orng tuanya yang sama sekali tak pernah membimbing atau sekedar menyuruhnya untuk beribadah membuat Al, semakin jauh dari sang penciptanya.


Fatimah.


Fatimah, wanita itu berhasil membuat hati Al bergejolak hingga sampai di tempat seperti ini. Mungkin niatnya masih salah ingin mengejar cinta hambanya. Tapi siapa sangka hati Al, juga tersentuh untuk mengenal sang pencipta lebih dalam lagi.


Ia terdiam cukup lama dalam lamunannya, membayangkan banyaknya dosa yang tengah bersarang pada tubuhnya saat ini.


Sebagian para santri putra, ada yang menyapu halaman bagian depan, sebagian lagi menggulung kabel dan memasukan pada tempatnya. Al mulai melipat dan menata karpet yang ada di hadapannya. Ini adalah pekerjaan kasar yang pertama kali di lakukan, tapi entah mengapa ia merasa begitu senang. Entah kerena Fatimah atau karena ia menemukan setitik ketenangan di dalam hatinya.


"Stop Man!" ucapnya ketika hendak meletakkan karpet ke gudang bagian sisi timur masjid.


"Ada apa?" tanya Lukman, yang tampak heran. Ia menghentikan langkahnya dan kembali meletakkan karpet tersebut di lantai.


Diam...


Alih-alih menjawab Al, lebih memilih untuk diam dan menatap interaksi yang terjadi pada orang yang sedang berbincang di depan gudang.


"Al, kamu kenapa? kok wajah kamu seperti itu?"


"Hah" Al, gelagapan ketika tangan Lukman yang besar menyenggol lengannya. Ia menghela nafas yang panjang dan berat seakan ada rasa sakit yang mengusik hatinya. Al, duduk begitu saja di lantai menjatuhkan karpet dalam genggamannya.


"Siapa laki-laki itu Man?" tanya Al, menatap pada seorang laki-laki yang tengah berhadapan dengan Fatimah. tampak dari luar pria itu sedang berbicara santai dengan Bulek Aminah dan Fatimah.

__ADS_1


"Yang mana?"


"Itu" tunjuk Al, memperjelas pertanyaannya.


"Itu Azam putra dari Bu Rahmi, dia juga membantu mengajar mengaji di sini" terang Lukman santai.


"Menurut kamu Man, apa bagusnya anak Bu Rahmi? sampai ia bisa berbincang dengan Fatimah?" tanya Al, ia menatap sekilas pada Azam dan bersendekap dada.


"Yah, pertanyaan macam apa itu Al?" Lukman tersenyum garing.


"Aku bertanya serius Man!" Al, menatap lawan bicaranya dengan mengintimidasi membuat Lukman mau tak mau menjawab pertanyaan teman ajaibnya,


"Sebagai seorang laki-laki dan telah mengenalnya cukup lama. Aku pribadi kagum dengan pesona Azam. Wajahnya berseri-seri seakan memancarkan aura positif, aku yakin itu pasti karena basuhan air wudhu yang setiap hari membasahi wajahnya"


"Halah, kalau mau berseri-seri ya tinggal pakai skincare, gitu aja kok repot. Kalau masih kurang yang ke klinik kecantikan, masih kurang lagi? tinggal oplas gitu aja kok repot" jawan Al, dengan begitu entengnya. Entah mengapa ia benar-benar tak bisa memfilter mulutnya yang sadis.


Hemmmm


"Kamu tahu siang dan malam Man? kau tahu rasanya manis dan pahit?" tanya Al, dengan menatap lawan bicaranya penuh penekanan.


"Jika tahu, ya seperti itulah Allah menciptakan hambanya. Ia ingin dunia ini penuh dengan warna, makanya aku hadir turut memeriahkan sebagai kaum yang seperti ini" Al memegang baju dan kopiahnya, seakan sedang menunjukan pada Lukman, jika memang ia bukan manusia yang sempurna.


 "Ibarat pepatah Jawa, aku di ciptakan sebagai *kembang'e donyo *(bunga dunia)"


"Terserah kau lah Al, lama-lama bicara dengan kamu cukup membuat kepalaku migren!" Lukman memilih untuk mengiyakan dan menyetujui setiap statement yang di ungkapkan Al. Berdebat dengan Al, tak akan membuatnya menang meskipun telah membawa dalil-dalil. Lukman memilih untuk menyeret sendiri karpet tersebut dan membawanya ke gudang.

__ADS_1


"Man, tunggu. Aku belum selesai bicara. Menurut kamu apa yang di bicarakan Azam, Bulik Aminah dan juga Fatimah di sana?"


"Kamu pikir aku satelit, yang bisa mengintai dan menangkap setiap gerakan serta ucapan mereka!" Lukman semakin menatap jengah pada Al. Belum genap satu hari mereka berteman Al sudah membuatnya kelimpungan dengan berjuta pernyataan.


"Tapi aku rasa mereka sedang berbicara tentang perjodohan"


"Hah! perjodohan? siapa yang akan di jodohkan?" seketika Al, menyusul langkah Lukman dengan cepat.


"Ya tentu saja Fatimah dan Azam lah. Siapa lagi? mereka itu sekufu!"


"Sekufu? sejenis makanan atau minuman? kok aku baru mendengar namanya? apa jajanan tradisional?"


"Al, please!. Duh Gusti apa salah hamba harus bertemu dengan manusia spesifikasi Dajjal seperti ini" rengek Lukman meratapi nasibnya.


"Man, aku sungguh gak tau, kalau berbicara tolong jangan pakai istilah di luar prediksi BMKG, kamus kosa kataku tentang istilah islam setipis tisu yang tengah di bagi menjadi sepuluh helaian" jawab Al frustasi, pasalnya ia benar-benar tak mengerti tentang apa yang di katakan Lukman. Kini ia menyadari jika dirinya benar-benar fakir ilmu agama.


Dengar wahai sahabatku Al.


Berdasarkan buku yang pernah aku baca. Menurut mazhab Syafi'i sekufu artinya sepadan dalam empat hal. Yakni kesepadanan nasab, agama, strata sosial (merdeka atau budak) dan pekerjaan. Secara garis besar para ulama menekankan pada kesamaan agama dan kualitas agamanya.


Allah SWT berfirman, dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenang dan aman tentram kepadanya, Dan di jadikan-Nya di antara rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS" Ae-Rum : 21).


"Bagaimana? apa kamu paham?"


Seperti sebelum-sebelumnya murid yang ajaib ini akan menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia sedang berusaha mencerna setiap kata yang tengah Lukman jelaskan.

__ADS_1


"Sebagai contoh gampangnya begini ya Al, Fatimah dan Azam adalah dua insan yang sekufu. Jika di lihat dari nazab. Keduanya berasal dari keturunan yang paham agama. Jika di lihat dari ilmunya mereka sama-sama mumpuni dalam islam"


"Jika seperti itu bagaimana dengan kisah Nabi Muhamad yang menikahi Siti Khadijah? apakah mereka bisa di katakan sekufu sedang status mereka saat itu berbeda. Janda dan perjaka?"


__ADS_2