Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Pintaku, jangan pernah menjauh dariku


__ADS_3

Bab 39


Afif terdiam, dia tidak berani untuk membalas tatapan Fatimah. Dia tidak sanggup melihat kedua mata indah itu kembali terluka dan menangis.


"Mas, bagaimana keadaan kak Nabila?" Tanya Fatimah kembali dengan perasaan yang tidak menentu.


Melihat Afif yang terdiam dengan wajah yang terlihat sedih, membuat Fatimah yakin jika sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Nabila.


"Apa dia juga pergi meninggalkanku untuk selamanya?" Fatimah bertanya dengan suara parau, menatap langit-langit rumah sakit. Sesuatu yang menyakitkan membuat dadanya begitu sesak.


Afif hanya diam membisu, tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya menatap lekat ke arah Fatimah, hatinya begitu terluka bagaikan tertusuk sembilu, melihat buliran bening yang sudah mengalir dan membasahi wajah Fatimah.


"Aku ingin melihat makamnya!" pinta Fatimah tiba-tiba sambil menghadapkan wajahnya ke arah Afif, membuat netra mereka saling menatap.


"Tanganmu masih sakit Fatimah," jawab Afif dengan tatapan sendunya.


Mata tajam dan dingin Afif seolah menghilang dengan segala luka yang sudah di torehkannya kepada Fatimah. Rasa sesak itu semakin membuncah di dadanya.


"Hanya tanganku yang sakit, bagian tubuhku yang lain baik-baik saja!" tegas Fatimah menatap tajam Afif. Dia berusaha sekuat mungkin menahan buliran bening yang ingin terus mengalir tanpa permisi membasahi pipinya.


Ingin sekali Afif meraih tubuh Fatimah, membawanya ke dalam pelukannya, walaupun sekedar memberikan kekuatan. Namun, apa yang bisa Afif lakukan sekarang? Dia hanya bisa diam mematung sambil merutuki segala kebodohannya yang sudah membuat wanita yang sangat di cintainya itu selalu terluka.


"Maafkan aku Fatimah, aku hanyalah lelaki bod*h untukmu." Afif berkata dalam hati.


"Aku akan pergi sendiri jika kamu tidak mau mengantarku!" seru Fatimah melihat Afif yang hanya terdiam.


Fatimah tiba-tiba mencabut selang infus yang terpasang di punggung tangannya, sambil meringis menahan rasa nyeri. Tentu saja apa yang di lakukan Fatimah membuat Afif tersadar dari pikirannya.


"Fatimah, apa yang kamu lakukan?" Afif bertanya dengan wajah panik, sambil menahan darah yang mengalir dari punggung tangan Fatimah karena selang infus yang sudah di cabut paksa.


"Aku ingin melihat makam kakakku! Kakak yang tidak pernah aku ketahui keberadaannya selama ini! Kenapa kamu tega menyembunyikan semua dariku!" teriak Fatimah histeris.


"Fatimah, tenanglah! Kita harus lebih berhati-hati melangkah, karena ...." Afif tidak meneruskan ucapannya, membuat Fatimah terdiam dan menatapnya lekat, seolah-olah meminta penjelasan dari kata-kata Afif yang terpotong.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan ke makam sekarang! hanya satu pintaku jangan pernah menjauh dariku," tegas Afif, terlihat kekhawatiran di wajahnya.


Fatimah kembali menatap lekat Afif, dia melihat kekhawatiran dan ketulusan di wajah Afif. Dia sangat mengetahui jika dirinya sedang di incar oleh mereka yang selama ini ingin membalaskan dendam di masa lalu dan ingin menghancurkan mereka, terutama Afif yang menjadi target mereka.


Rasa sesak di dada terasa begitu menyakitkan bagi Fatimah, lebih sakit dari tangannya yang terkena peluru. Terselip sebuah pertanyaan di hatinya. " Ya Rabb, kenapa sulit sekali kami untuk bersama?"


"Astagfirullah Aladzim!" sentak Fatimah menyadari ucapannya sendiri. Dia langsung mengusap wajahnya, membuat Afif menatapnya penuh tanya.


"Maafkan aku ya Rabb, aku sudah menjadi hamba yang tidak ikhlas terhadap takdirmu." Fatimah berkata lagi di dalam hati, sambil terus beristighfar.


"Fatimah," panggil Afif lembut.


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Fatimah mengalihkan pembicaraan.


Afif menghela napas dan mengangguk, bertepatan dengan kedatangan dokter dan perawat yang segera mengobati luka infus di punggung tangan Fatimah.


Setelah keadaan Fatimah yang tidak mengkhawatirkan, Afif pun segera meminta izin dokter dan meminta dua perawat sekaligus untuk menjaga Fatimah, membuat Fatimah merasa sedikit risih. Namun, jauh di lubuk hatinya ada kehangatan dan kebahagiaan atas kekhawatiran dan perhatian Afif kepadanya.


"Seandainya dulu, dia tidak menerima lamaran Afif, mungkin masalah tidak serumit ini." Batin Fatimah.


"Ini semua takdir dari Illahi Fatimah. Pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan, tetapi sesuatu yang sudah di gariskanNya," ucap Afif yang seolah-olah mengetahui isi pikiran Fatimah.


**************


Fatimah menatap nanar gundukan tanah yang masih merah dengan taburan bunga di atasnya, rasa sesak dan sesal semakin menyelimuti hatinya. Air mata terus mengalir ketika dia memanjatkan do'a.


Afif terus berada di samping Fatimah, selain dua perawat, dia juga memerintahkan beberapa anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat untuk keselamatan Fatimah.


Tiga puluh menit mereka berada di pemakaman, Fatimah yang terduduk di kursi roda hanya mampu berdo'a, meminta di berikan jalan keluar dari semua masalah yang terjadi di hidup mereka. Sebuah do'a yang tulus terselip untuk seorang Afif.


Sementara itu, di jarak yang sangat jauh, ada dua orang yang sedang mengintai mereka dengan memakai teropong binokular yang mampu melihat objek dengan jarak yang sangat jauh. Salah satu di antara mereka segera menghubungi seseorang.


"Mereka akan meninggalkan pemakaman! Kali ini jangan sampai gagal dan aku menginginkan dia hidup-hidup!" perintah orang itu, saat panggilan terhubung.

__ADS_1


Setelah mematikan ponselnya, tampak seseorang itu kembali mengintai kegiatan mereka melalui teropong.


Saat Afif dan Fatimah hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba tembakan misterius mengenai satu persatu para perawat dan anak buah Afif.


Afif segera mengambil langkah seribu. Dia langsung menggendong tubuh Fatimah memasuki mobil, membuat Fatimah tersentak dan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Afif.


"Maaf Fatimah, aku terpaksa menyentuhmu!" tegas Afif sambil mendudukkan Fatimah di kursi depan dan memasang safety belt.


Afif pun segera masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di belakang setir." Tenangkan dirimu Fatimah, kita akan selamat dan semua akan baik-baik saja," ucap Afif sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tiga mobil dengan kecepatan tinggi langsung mengejar mereka. Fatimah terus berdo'a dan berusaha tenang. Dia sudah pasrah jika hari ini ajal akan menjemputnya.


Afif mencoba melirik ke arah Fatimah yang terlihat memejamkan matanya. "Apa pun taruhannya, aku akan menyelamatkanmu!" tegas Afif sambil memainkan kemudinya dengan lihai dari tiga mobil yang berusaha menabrak mereka sambil melepaskan tembakan ke arah mobil yang di kendarai Afif dan Fatimah.


"Tembaklah sesuka kalian!" tegas Afif sambil tersenyum sinis.


Fatimah membuka matanya dan melirik Afif. "Tenanglah! Dion sudah memodifikasi mobil ini agar tahan dari serangan peluru," ucap Afif sambil melirik dan tersenyum ke arah Fatimah, sambil terus menyetir dengan penuh konsentrasi.


"Jika kamu sudah mengetahui apa yang akan terjadi, kenapa kamu membiarkan anak buahmu mati tertembak di tangan mereka? Kenapa kamu juga membiarkan dua perawat itu ikut tertembak?" Tanya Fatimah sambil menghadapkan wajahnya ke arah Afif dengan tatapan tajam meminta penjelasan.


Afif terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Fatimah. Dia menghela napas dan mengusap kasar wajahnya.


"Fatimah, dunia ini keras dan pasti akan ada yang di korbankan." Jawaban Afif membuat mata Fatimah membulat sempurna dan seketika wajahnya langsung memerah, buliran bening pun sudah beranak sungai di manik matanya.


*************


Apakah Afif dan Fatimah akan selamat?


Siapa saja mereka yang menginginkan kematian Afif dan Fatimah?


Kisahnya semakin seru di bab selanjutnya, terima kasih yang sudah sabar menanti😍.


Author minta maaf atas keterlambatan upnya dan sekali lagi terima kasih yang sudah setia di karya Author🙏.

__ADS_1


__ADS_2