Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Jadilah wanita terhormat


__ADS_3

Bab 45


Afif menatap tidak percaya dengan foto dan video di ponselnya. Seorang wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta, terlihat seperti bidadari nyata. Dia melihat Fatimah yang sedang berjalan di catwalk dengan balutan gaun muslimah yang sangat mewah dan elegan, di tambah make up sempurna di wajahnya.


Tampak senyum bahagia mengembang di bibir Afif. Hatinya terasa tenang, melihat Fatimah mulai memperlihatkan kelebihannya di bidang fashion.


"Wanita soleha, cantik dan cerdas. Beruntung aku bertemu denganmu, bahkan, pernah menjadikanmu sebagai istri," ucap Afif yang terus tersenyum melihat video Fatimah.


"Seperti apa pun penampilanmu, kamu tetaplah wanita pilihanku," ucap Afif lagi.


Melihat Fatimah tersenyum dan baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup untuk Afif. Langkah pertamanya sudah mulai berhasil, dia sangat optimis jika Fatimah akan menjadi wanita hebat dan terhormat.


"Wanita yang beruntung, bisa menaklukkan seorang Afif Abizar!" sebuah suara yang membuat Afif tersentak, membuat dia segera menutup layar ponselnya.


"Aku sangat mengetahui di mana keberadaannya," ucap wanita yang tak lain adalah Sarah.


Sarah dengan santai langsung duduk di hadapan Afif. Dia menatap lekat wajah Afif, karena posisi mereka sekarang hampir tidak berjarak.


"Jangan jauhi aku terus, please Afif!" pinta Sarah sambil menarik bahu Afif yang hendak menjauhinya.


"Aku tidak meminta apa-apa selain cintamu. Aku bersedia melakukan apa pun untuk mendapatkan cintamu sedikit saja. Aku juga rela menjadi pengkhianat demimu, Sayang," Sarah berkata, sambil mengelus lembut wajah Afif.


"Aku tidak pernah mencintaimu, Sarah! Aku mohon mengertilah!" Jawab Afif sambil melepaskan tangan Sarah dari wajahnya.


"Kenapa kamu tidak pernah menghargai cinta dan pengorbananku!" teriak Sarah dengan wajah memerah, dia langsung mendorong tubuh Afif, sehingga membuat Afif hampir terjatuh dari kursinya.


"Asal kamu tahu, aku rela melepaskan keperaw*nanku kepada bandot tua itu karena kamu!" teriak Sarah lagi.


"Setiap aku melakukan se* dengan banyak lelaki, kamu tahu siapa yang aku bayangkan? Itu kamu Afif Abizar!" Sarah kembali berteriak sambil menangis.


Afif terdiam, dia menghela napas dan mengusap kasar wajahnya. "Kamu sendiri yang rela menyerahkan tubuhmu kepada papaku! Dan kamu tahu, karena perbuatan rendahmu membuat mamaku meninggal dunia!" tegas Afif, tanpa ada rasa empati sama sekali kepada Sarah.


"Itu karena kesalahanmu, yang sudah menolakku!" teriak Sarah lagi, di antara isak tangisnya.

__ADS_1


"Sudahlah, aku tidak mau lagi mebahas tentang ini!" Afif berkata, sambil bangkit dari duduknya.


Sarah segera menghapus air matanya dan menahan lengan Afif dan dia langsung berdiri, sehingga tubuh mereka saling berhadapan.


"Baiklah, aku memang wanita nakal yang haus dengan se*, aku juga meminta maaf atas meninggalnya manamu, tetapi aku mohon untuk kali saja, kita habiskan waktu bersama," pinta Sarah dengan suara parau dengan wajah memohon.


"Bertobatlah Sarah, selama kesempatan itu masih ada," jawab Afif, menahan tubuh Sarah yang semakin merapat je tubuhnya.


"Aku akan bertobat dan berubah, asal kamu bersamaku," pinta Sarah dengan suara bergetar.


"Aku tidak bisa Sarah, ada hati yang harus aku jaga dan aku sangat mencintai dia." Tegas Afif, yang terus di bayangi wajah Fatimah.


"Aku ikhlas Afif, jika aku harus selalu menjadi yang kedua asal aku bisa bersamamu," Sarah berkata sambil meraih punggung tangan Afif.


Afif memejamkan matanya sesaat, dia tidak ada perasaan sama sekali dengan Sarah, bahkan, Sarah adalah wanita yang menjijikan baginya. Tetapi, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa kasihan terhadap Sarah, karena salah satu alasan Sarah melakukan semua kesalahan itu karena cinta yang dia tidak pernah mau menerimanya.


"Aku akan memikirkannya, tetapi jangan pernah banyak berharap," ucap Afif, membuat Sarah langsung tersenyum dengan binar kebahagiaan di wajahnya.


"Terima kasih, Sayang. Aku berharap kamu bisa memberikan keputusan yang terbaik untukku," Sarah berkata sambil memeluk tubuh Afif. Namun, Afif langsung menahannya.


"Jangan pernah berubah demi manusia, karena itu tidak akan abadi!" Afif berkata lagi, ssmbil melepas tangan Sarah dan melangkah pergi meninggalkan Sarah.


Sarah tersenyum menatap punggung Afif, tidak terasa buliran bening jatuh membasahi pipinya. Penyesalan kini menghimpit dadanya. Memorinya berputar mengingat semua dosa dan kejahatan yang selama ini di lakukannya.


"Aku akan berubah sedikit demi sedikit Afif, aku pun sudah lelah untuk melakukan peran seperti ini," ucap Sarah pada dirinya sendiri, sambil tersenyum dan mengusap buliran bening di wajahnya. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya dan secercah harapan dalam hidupnya.


"Kamu yakin jika dia mau menerimamu?" sebuah suara bariton membuat Sarah mengurungkan langkahnya.


"Arman!" seru Sarah, yang di jawab senyum sinis oleh Arman.


Arman melangkah mendekati Sarah. "Apa kamu ingin jadi pengkhianat?" Tanya Arman saat tubuh mereka sudah dekat dan saling berhadapan.


"Mencintai dan hidup bersama Afif, bukanlah sebuah pengkhianatan terhadap Sony!" tegas Sarah, dengan senyum dan tatapan tak kalah sinisnya ke arah Arman.

__ADS_1


Arman tertawa terbahak-bahak, sehingga suara tawanya menggema di ruangan luas itu. Sarah menarik napas kasar. Dia pun langsung melangkah meninggalkan Arman.


"Hai, tunggu! Aku belum selesai bicara!" seru Arman sambil menarik kencang lengan Sarah, sehingga tubuh Sarah kini sedang berada dalam pelukannya.


"Arman, jangan kurang ajar! Lepaskan!" Sarah berkata, sambil mencoba melepaskan tubuhnya dari Arman.


"Apa aku tidak salah dengar? Coba katakan sekali lagi!" Arman berkata dengan suara dan senyuman mengejek.


"Arman, kali ini aku mohon lepaskan aku! Aku sudah tidak ingin melayani siapapun!" sergah Sarah, yang menahan sekuat renaga bibir Arman yang ingin menci*um bibirnya.


"Untuk apa kamu mendengarkan perkataan lelaki yang sudah membencimu, bahkan, menganggap dirimu menjijikan?"Tanya Arman yang masih berusaha menci*m bibir seksi Sarah.


Plak ....


Sebuah tamparan akhirnya mendarat di wajah Arman, membuat Arman tersentak dan meringis kesakitan. Kesempatan itu langsung di gunakan Sarah. Dia segera mendorong kuat tubuh Arman, sehingga membuat tubuh Arman yang belum siap dengan perlakuan Sarah, harus jatuh terduduk di lantai.


"Dasar pelac*r, si*lan!" teriak Arman merasakan sakit di pipi dan bok*ngnya.


Sarah segera berlari menjauhi Arman. Dia sangat sadar, jika yang baru saja di lakukannya adalah masalah besar. Arman pasti akan.mrngadukan semua kepada Sony.


Sarah tidak peduli, karena dia berpikir, dia akan segera pulang ke kampung halamannya, memperbaiki diri dan bisa hidup bersama Afif.


Sarah sudah bertekad untuk segera pergi dari mansion itu. Namun, Dia sadar jika melarikan diri dari mansion itu bukanlah masalah yang mudah. Tanpa nembawa apa-apa dia nekad untuk pergi. Beruntung Sarah membawa card yang membuat dia bisa keluar masuk mansion. Dia langsung melangkah menuju mobilnya. Namun, saat dia ingin menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba ....


...****************...


Apa yang terjadi dengan Sarah?


Mampukah dia keluar dari Sony?


Langkah apa yang di ambil Afif, seandainya Sarah bisa lepas dari Sony, dan merubah semua kehidupan yang dengan dosa dan kejahatan?


Ikuti kisahnya yang semakin seru🥰🙏.

__ADS_1



__ADS_2