
Bab 47
Seketika wajah Afif memerah, rahang wajahnya mengeras, tampak telapak tangannya mengepal keras. Tanpa basa basi, dia langsung menghadiahkan Arman sebuah bogem mentah tepat di wajah Arman, yang membuatnya langsung tersungkur.
Terlihat dar*h yang mengalir dari sudut bibir Arman. Afif berniat ingin melangkah dan memukul kembali Arman. Namun, Arsyad segera menahan tubuh Afif.
"Berhenti Afif! Ingat tujuanmu ke sini!" bisik Arsyad sambil menahan lengan Afif.
Seketika Afif mengurungkan niatnya. "Ingat Arman, aku tidak akan pernah melepaskanmu dan kamu akan menerima akibat dari semua perbuatanmu!" ancam Afif, langsung pergi meninggalkan Arman yang masih memegangi wajahnya yang lebam.
Arsyad tersenyum smirk menatap Arman, kemudian melangkah menyusul Afif.
"Kurang ajar! Aku pastikan, jika kalian akan segera menjadi santapan para hiu itu!" umpat Arman sambil berusaha berdiri dan segera melangkah pergi.
...****************...
Kini Afif sedang duduk di bebatuan sambil menatap laut biru yang terhampar luas di hadapannya. Sesekai dia mengusap kasar wajahnya. Bayangan Sarah terakhir kali sangat membekas di ingatannya.
"Maafkan aku, Sarah," Afif berkata dengan suara parau. Dadanya terasa sangat sesak.
"Kenapa semua wanita yang bersamaku, harus berakhir dengan tragis?" Tanya Afif kepada dirinya sendiri sambil meremas kasar rambutnya.
"Aku harus menjauhi Fatimah. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya!" seru Afif dengan hati gelisah. Kecemasan sangat terpancar di wajahnya.
Afif langsung mengambil ponsel di saku jaket jeansnya. Dia pun segera menekan tombol hijau dan melakukan panggilan.
📞 "Om, apa dia sudah bertemu dengan Fatimah?" Tanya Afif saat panggilan sudah terhubung.
📞 "Iya mereka sudah bertemu," jawab Alex di seberang sana.
📞 " Aku sudah memintanya untuk menemuimu," ucap Alex lagi.
📞 "Baiklah! Aku akan menunggu kedatangannya, salam untuk tante dan tolong jaga Fatimahku," jawab Afif dengan dada yang terasa sesak. Kecil sekali harapan untuk merajut masa depan bersama Fatimah.
📞 "Jangan mengkhawatirkannya, kami akan menjaganya, berhati-hatilah dan jaga dirimu baik-baik," jawab Alex.
📞 "Iya om, terima kasih,"
__ADS_1
Afif pun menutup telponnya, kembali dia menatap ke arah lautan luas, mencoba mencari jawaban dari semua takdir yang terjadi di dalam hidupnya.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba ada tangan mungil yang menyentuh lengannya. "Om, ini ada pesan buat om," ucap seorang bocah laki-laki yang kini tepat berada di sampingnya, sambil menyerahkan selembar kertas putih.
Afif terdiam, dia mengedarkan pandangannya di sekitar tempatnya berada. Ada sebuah bayangan yang langsung melesat pergi. Dia langsung berdiri dan bisa menangkap bayangan itu melalui matanya. Namun, bayangan itu terlalu cepat menghilang dan tidak memungkinkan untuk di kejar.
Afif segera mengambil kertas putih di tangan bocah itu. "Terima kasih ya," jawab Afif sambil tersenyum.
Bocah itu mengangguk dan segera berlari ke arah kapal barang tempat di mana bapaknya sedang bongkar pasang muatan. Afif segera membuka kertas itu dan membacanya.
( Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu akan bahagia. Kamu akan merasakan kehancuran. Bahkan, dirimu sendiri yang akan menginginkan kematianmu ).
Afif menarik sudut bibirnya, terlihat senyum sinisnya setelah membaca surat ancaman itu.
"Aku pastikan, kamu terlebih dahulu yang merasakannya!" seru Afif sambil meremas kasar kertas itu, membuang dan menginjaknya. Afif pun segera berlalu meninggalkan pelabuhan itu. Tanpa di sadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengawasinya.
...****************...
Sementara itu ....
Di negara Amerika Serikat Timur Laut, tampak Fatimah yang sedang sibuk membantu Grace menyiapkan semua keperluan untuk fashion show terbesar nanti malam.
Di tengah kesibukan mereka, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kemunculan Alex dan Mark.
"Hallo, Sayang," sapa Grace langsung mencium Alex, di balas Alex dengan sebuah pelukan hangat, membuat mereka berada di sana saling melempar pandang dan senyum.
Tanpa sengaja, Fatimah dan Mark beradu pandang. Tentu saja membuat Fatimah langsung menundukkan wajahnya, membuat Mark semakin gemas dengan tingkah Fatimah.
"Hai Mark, ada angin apa yang membawamu ke sini?" Tanya Grace, membuat Mark mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah.
"Maaf tante, aku ke sini ada perlu dengan Elza. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadanya." Perkataan Mark membuat Fatimah tersentak. Dia menatap bergantian Alex dan Grace.
"Kamu tidak perlu khawatir, kami akan menemani saat kamu berbicara dengan Mark," ucap Alex yang mengerti kegelisahan Fatimah.
"Aku hanya meminta sedikit waktumu, Elza," Mark berkata dengan suara yang begitu lembut dan terus menatap wajah Fatimah.
"Kita akan berbicara di sana," ucap Grace sambil menunjuk sebuah taman kecil yang berada di samping butiknya.
__ADS_1
Grace segera menggandeng mesra lengan Alek dan melangkah lebih dulu ke arah taman. Fatimah dengan ragu mengikuti langkah mereka. Mark tersenyum ketika Fatimah melewatinya. Dia pun segera ikut melangkah mengikuti mereka.
Alex dan Grace duduk di kursi tengah dengan Fatimah yang duduk di sebelah kanan dan Mark duduk di sebelah kiri mereka.
Fatimah kembali menundukkan wajahnya, tanpa berani menatap Mark.
"Elza, sebelumnya aku meminta maaf, jika pembicaraan kita kali ini akan membuatmu tidak nyaman," ucap Mark membuka pembicaraan.
Tampak Mark menarik napasnya dalam-dalam. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, apa lagi Fatimah kini berada di hadapannya, walaupun ada Grace dan Alex di antara mereka.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Mark? Kenapa kamu terlihat gugup sekali?" Tanya Grace dengan wajah dan suara menggoda.
"Sayang, jangan menggoda Mark terus. Kamu lihat Mark tampak sudah berkeringat," ucap Alex yang melihat Mark mengusap peluh di keningnya.
Grace tertawa kecil menatap Mark. Mereka tidak habis pikir, jika Mark yang terkenal sebagai seorang pria Casanova, kini seperti seekor kelinci yang tidak berdaya. Padahal di hadapannya hanya seorang wanita sederhana dengan segudang pesonanya.
Fatimah terdiam dan menatap Mark sekilas. Mark mencoba tersenyum saat netra mereka bertemu, membuat Mark semakin salah tingkah.
Mark merasakan lidahnya terasa kelu, tenggorokannya terasa sangat kering, beberapa kali dia menelan kasar salivanya. Dia pun mencoba mengatur napasnya untuk menetralkan irama jantungnya.
Detak jantung Fatimah tidak kalah kencangnya. Dia mengerti apa yang akan di katakan Mark kepadanya. Namun, dia berusaha menepis semua pikirannya.
"Elza, aku ingin mengenalmu lebih jauh," ucap Mark tiba-tiba, membuat Fatimah tersadar dengan pikirannya.
"M-maksud tuan Mark?" Tanya Fatimah, semakin merasakan irama jantungnya yang berdetak lebih kencang.
Mark kembali menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin kita mempunyai hubungan serius dan berkomitmen," ucap Mark lagi sambil menatap lekat Fatimah.
Pernyataan Mark membuat Fatimah tersentak. Dia terdiam sesaat, tiba-tiba bayangan Afif seketika hadir di pelupuk matanya.
...****************...
Apakah Fatimah akan menerima lamaran Mark atau tetap setia menunggu Afif?
Siapakah yang akan bertemu dengan Afif?
Siapakah sosok yang sudah mengirim surat ancaman kepada Afif?
__ADS_1
Jangan pernah lewatkan kelanjutannya yang semakin seru 🤗.