
Bab 42
Malam ini suasana pelabuhan terasa sangat dingin, bahkan, hawa dingin sampai menembus ke tulang sumsum. Afif menyalakan sebatang rokok dan menyelipkan di antara bibirnya yang bergetar, selain karena hawa dingin yang menusuk, keresahan sangat di rasakannya. Asap putih pun terlihat mengepul dari bibirnya.
Afif sendiri belum tahu pasti, apakah langkah yang di tempuhnya ini akan memudahkannya bersama Fatimah atau sebaliknya. Perkataan terakhir Fatimah yang memintanya untuk kembali terasa bagaikan sebuah cambukan untuknya.
Jam di pergelangan tangannya berbunyi, mengisyaratkan jika sudah waktunya untuk Afif bergerak. Sambil menarik napas kasar, Afif segera melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kapal yang baru saja berlabuh.
Terlihat beberapa orang sudah menunggunya. Mereka memperlihatkan beberapa senjata api dan minuman keras bermerk internasional sudah tersedia dengan rapi.
Afif di bantu dengan beberapa orang anak buah Sony mengecek semua barang tersebut. Sampai akhirnya transaksi selesai di lakukan. Setelah semua di rasa aman, para anak buah Sony pun segera memindahkan semua barang ilegal tersebut dari dalam kapal ke dalam truk yang sudah mereka siapkan.
Afif segera meninggalkan pelabuhan itu. Namun, langkahnya terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya. Dia memicingkan matanya saat melihat sosok Arsyad sudah berdiri di hadapannya.
"Aku harap, kamu sudah mengambil keputusan yang tepat," ucap Arsyad saat jarak mereka sudah dekat.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" Tanya Afif penuh selidik, membuat Arsyad tertawa.
"Kamu jangan terlalu antipati kepadaku, karena ada seseorang yang jauh lebih berbahaya di bandingkan aku!" jawab Arsyad, kembali menatap penuh arti ke arah Afif.
Afif tidak menjawab, dia mencoba mencerna perkataan Arsyad. Dia sangat mengetahui jika saat ini banyak sekali musuh dalam selimut. Apa lagi penembakan yang di lakukan oleh lelaki bertopeng yang mengakibatkan tangan Fatimah tertembak dan nyawa Nabila melayang.
"Kamu sangat mengetahui jawabannya," Arsyad berkata sambil tersenyum smirk.
"Ingat, jangan terlalu lama meninggalkannya! Aku akan merebutnya kembali darimu!" ucap Arsyad lagi dengan penuh penekanan.
Sambil menepuk pelan pundak Afif, Arsyad pun segera melangkah pergi. Afif terdiam beberapa saat, sambil menghela napas dan mengusap kasar wajahnya, dia pun segera nenaiki sebuah motor ninja merah dan segera memacunya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya di tengah gelapnya malam.
Tanpa di sadari, ternyata ada seseorang yang memperhatikan pergerakan Afif bersama Arsyad. Orang itu mengepal kuat telapaknya, ada sorot dendam dan kebencian di sana.
...****************...
Arsyad melajukan mobilnya menuju sebuah klub malam. Saat memasuki klub, dia langsung menuju meja bartender dan memesan sebotol wine. Saat dia ingin menuangkan sebotol wine ke dalam gelas, tiba-tiba ada yang menahan tangannya dan mengambil botol itu dari tangannya.
__ADS_1
Arsyad tersentak, saat melihat sosok yang sudah duduk di sampingnya. Sosok itu menampakkan sebuah tatapan dan senyuman yang penuh ancaman, membuat Arsyad menelan kasar salivanya.
"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?" Tanya sosok itu, membuat wajah Arsyad memucat.
"Ingat, nyawa mereka ada di tanganku! Aku bisa melakukan apa saja kepada mereka!" ancam sosok itu, sambil menuang sebotol wine ke gelas Arsyad, dan langsung memaksa Arsyad meminumnya.
"Aku peringatkan yang terakhir kali, jangan coba-coba menjadi pengkhianat!" ancam sosok itu lagi, sambil meraih ponselnya dan mengirimkan satu video ke ponsel Arsyad.
Sambil tertawa, dia pun bangkit dari duduknya dan memberikan sebuah tamp*ran ke pipi Arsyad. Seketika Arsyad memejamkan matanya, menahan rasa sakit dan panas di pipinya.
Terlihat dada Arsyad yang naik turun, saat melihat video yang di kirimkan ke ponselnya. Dia berusaha sekuat mungkin menahan amarah air matanya. Sampai akhirnya sebotol wine pun tandas di tenggorokannya.
Sementara itu ....
Afif tidak langsung menuju mansion mewah Sony, dia memilih untuk pergi ke tepi dermaga. Menatap jauh ke lautan luas. Hatinya terasa sangat kosong. Dia sangat merindukan sosok sang bunda, bi Rina dan sosok papanya. Walaupun dia sempat membencinya karena wanita yang bernama Sarah.
Afif seperti melihat seluit Fatimah yang sedang tersenyum ke arahnya, dia mengerjapkan mata tak percaya. Saat dia bangkit ingin menghampiri seluit itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nama Alex tertera di layar ponselnya. Afif segera menekan tombol hijau. Alex memberitahukan jika Fatimah baik-baik saja dan dia harus fokus menyelesaikan urusannya serta memenuhi janjinya terhadap Fatimah.
"Ada atau tidak ada kehadiranku, aku berharap jika hidup dan masa depanmu jauh lebih baik. Aku juga berjanji akan selalu membuatmu tersenyum, walaupun nyawaku yang menjadi taruhannya." ucap Afif dengan suara parau, sambil mengusap lembut wajah Fatimah yang berada di galery ponselnya.
"Aku mencintaimu. Maafkan aku yang sudah berani menci*mmu, walaupun hanya sebuah foto," ucap Afif kembali, sambil menci*m foto Fatimah.
Dadanya yang begitu sesak, membuat Afif tidak bisa membendung kesedihannya. Buliran bening pun menerobos keluar tanpa permisi dari sudut mata elangnya.
Afif memejamkan matanya, menenangkan hatinya yang terasa sesak. Setelah beberapa menit, dia merasakan dadanya sedikit lega, segera dia menghapus air matanya dan langsung meninggalkan dermaga.
...****************...
Fatimah berdiri di lorong gelap, sayup-sayup dia mendengar suara seseorang yang merintih meminta tolong. Dia mencoba menajamkan penglihatan dan pendengarannya.
Fatimah terus melangkah melewati lorong gelap itu, dia berjalan mengikuti suara rintihan itu. Lorong yang sangat gelap, panjang dan sepi seperti tidak pernah terjamah oleh tangan manusia. Namun, suara rintihan itu semakin jelas terdengar.
__ADS_1
Suara rintihan yang semakin jelas itu, kini terdengar sangat menyayat hati. Samar-samar Fatimah mendengar suara rintihan itu memanggil namanya. Namun, dia tidak bisa melihat jelas sosok yang jaraknya sudah tidak jauh dari hadapannya.
Fatimah terus mendekati suara rintihan itu, suara yang memanggil namanya semakin jelas. Saat dia semakin menajamkan pendengarannya, suara rintihan itu seperti tidak asing di telinganya.
"Fatimah, tolong aku!" rintih seseorang yang sangat Fatimah kenal.
Deg ....
"Suara itu ...."
Seketika Fatimah merasakan jantungnya berdetak kencang, dadanya terasa sesak, tubuhnya bergetar hebat, ketakutan dan keringat dingin kini membanjiri seluruh tubuhnya. Ingin sekali dia berteriak, tetapi lidahnya terasa kelu dan kakinya terasa berat untuk melangkah.
Tenggorokannya yang terasa sangat kering, membuatnya berkali-kali menelan salivanya. Fatimah terus menatap tidak percaya apa yang sedang di lihatnya.
"Fatimah, tolong aku!" rintih seseorang itu lagi.
"Ini aku, Fatimah! Tolong aku!" Seseorang itu berkata, sambil merangkak berusaha mendekati Fatimah.
Fatimah semakin menajamkan penglihatannya. Dia berharap jika sosok yang sedang berhadapan dengannya, bukanlah seseorang yang sangat di kenalnya.
Dugaan Fatimah ternyata salah, tubuhnya semakin lemas, air mata sudah tidak bisa di bendung lagi. Saat mereka hampir tak ada jarak, sebuah cahaya tepat menerangi wajah sosok itu.
Tangis Fatimah pun pecah, saat melihat keadaan sosok itu yang penuh luka di wajah dan sekujur tubuhnya. Semua kini terasa gelap untuk Fatimah.
...****************...
Pasti kalian kepo ya apa yang sedang di alami Fatimah 😁 ?
Apa juga tujuan Afif, sampai mau menuruti perintah Sony?
Siapa yang mengintai Afif dan menemui Arsyad?
Apa sebenarnya yang terjadi pada Arsyad?
__ADS_1
Jawabannya tunggu besok di bab selanjutnya ya😍🤭🙏