Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Suara Tak Asing


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti, tak terasa sudah satu minggu Fatimah meninggalkan rumah, seminggu sudah ia tinggal di rumah Buleknya yang ada di Jombang Jawa Timur. Ia turut membantu Bulek, mengajar mengaji anak-anak kecil di masjid dekat rumahnya.


Bulek Aminah adalah adik dari Abi Firman. Suaminya telah meninggal setahun yang lalu saat menjadi pasukan khusus pembawa perdamaian ke Libanon. Kini Bulek hanya tinggal berdua bersama putri satu-satunya yang masih menginjak kelas satu Sekolah Dasar.


"Fat, kuliah kamu sudah selesai?" tanya Bulek ketika memasak sarapan pagi, saat itu ia dan Fatimah sedang membuat sayur sop dengan lauk perkedel kentang.


"Sudah Bulek" jawabnya dengan lemah lembut,


Bulek Aminah, terdiam sejenak. Ia dengan sengaja menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memotong kentang, seketika ia menatap Fatimah dengan lekat.


"Kamu gak lagi kabur dari rumah kan?" tanya Bulek mulai mengintrogasi. Ia sebenarnya sudah tahu apa yang tengah terjadi pada Fatimah. Tanpa sepengetahuan Fatimah, Bulek telah memberikan kabar pada Abi Firman ketika keponakannya baru saja tiba di rumahnya.


Bukan bermaksud untuk mengingkari janji pada Fatimah, pada saat itu Bulek belum tahu permasalahan yang ada. Ia mengira Fatimah hanya sedang berlibur seperti biasanya. Seperti biasah pula Bulek akan memberikan kabar pada kakaknya agar tak khawatir.


"Bulek...." ucap Fatimah dengan sendu. Ia tak mampu untuk menahan genangan air matanya ketika ingat jika ia kabur dari rumah.


"Kenapa?"


"Tidaklah Bulek. Aku kangen Umi sama Abi"

__ADS_1


"Ya pulang Fat, gitu saja kok repot. Eh tapi Bulek gak bermaksud untuk mengusirmu. Justru Bulek semakin senang ketika ada temannya di sini"


"Bulek untuk beberapa waktu ini, Fatimah tinggal di sini ya, Fatimah ingin mencoba suasana baru" kilahnya belum berani untuk bercerita.


"Ya monggo nduk, kali aja dapat jodoh juga di sini"


Berbicara tentang jodoh, senyum Fatimah kembali meredup. Ia menghela nafas dengan cukup dalam teringat akan beban yang tengah ia pikul saat ini.


"Sudah, jangan melamun saja. Setelah ini akan ada pengajian di masjid samping rumah. Kamu tolong jadi pembawa tilawahnya ya. kebetulan tadi yang bertugas mengatakan jika tidak bisa hadir sedang sakit"


"Tapi Bulek, aku kan...?" Fatimah menjeda sejenak ucapannya.


"Tapi Bulek..."


"Bulek tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun!"


                                     ******


Seorang pemuda dengan sedikit luka yang ada di kakinya sedang berjalan di tengah teriknya sang surya. Ia bagaikan pujangga yang berkelana mencari dambatan hatinya. Semenjak pertemuannya dengan Fatimah beberapa waktu yang lalu ia di hinggapi rasa penasaran sekaligus kagum pada wanita yang menolongnya. Ia bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih pada gadis itu. Al penasaran, pasalnya ia tak biasa di tolak oleh seorang wanita. Namun pagi itu, pesona Al tak mampu untuk mengetuk hati seorang Fatimah. Gadis itu bahkan tak mau memberikan nomor ponselnya.

__ADS_1


Sungguh wanita itu berbeda dengan para wanita pada umumnya. Biasanya kaum hawa akan menyodorkan nomor bahkan dirinya dengan suka rela, atau sekedar di ajak kencan denganku. Tapi wanita itu, jutsru meninggalkanku dengan senyum yang indahnya. 


Al, bahkan merasakan pusing kepalanya ketika tak kunjung untuk menemukan wanita itu. Tak terhitung sudah berapa tablet obat sakit kepala yang telah ia telan.


Oh Adinda Ku.


Sebuah nama yang slalu ia gaungkan ketika berjalan menapaki ruas-ruas tanah air ini.


Langkah Al, terhenti ketika berada di sebrang Masjid besar, ia melihat banyak orang dengan pakaian muslimah sedang berbondong-bondong ke sana. Al, yang merasa panas dan kehausan memilih untuk beristirahat duduk di depan sebuah toko sambil menegak sebotol air mineral di tangannya.


Semenjak kepergian dari rumah, keluarga Pak Bayu, mencabut segala fasilitas yang ada termasuk kartu kredit dan seluruh aset yang di miliki Al. Pria itu bertahan hidup hanya dengan sisa uang cash yang ada di dalam dompetnya.


Wa lilahi yasjudu man fis-samawati wal-ardi tau'aw kar-haw wa zilluhum bil-guduwwi wal-asal.


Hanya kepada Allah-lah sudut (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa dan sujud pula) bayang-bayang nya di waktu pagi dan petang hari.


Al tertegun untuk sesat. Hatinya yang keras tiba-tiba bergetar tak seperti biasah. Ada perasaan aneh dalam ruang hatinya. Ia juga memejamkan mata kala menikmati alunan ayat tersebut di lantunkan.


"Suaranya seperti tidak asing, aku seperti pernah mendengar suara itu" desisnya dalam hati di tengah-tengah matanya yang terpejam menikmati alunan ayat suci.

__ADS_1


Deg


__ADS_2