
Bab 24
afif tersentak mendengar pertanyaan Fatimah, tenggorokannya terasa sangat kering, lidahnya tiba-tiba menjadi kelu dan perasaan takut kehilangan menyelimuti hatinya. Dia menatap lekat wajah Fatimah, istri yang belum bisa di penuhi kebutuhan lahir dan batinnya.
"Maafkan aku Fatimah" Afif menarik napas dan membuangnya perlahan sambil menatap nanar Fatimah.
"Fatimah Assyifa Khairunnisa, hari ini aku jatuhkan talak untukmu, dan mulai saat ini kamu bukan istriku lagi!" Fatimah memejamkan matanya mendengar pernyataan Afif. Dia berusaha menguatkan hatinya. Namun, dia tidak bisa menghalau buliran hangat yang membasahi pipinya.
Bi Rina yang mendengar pernyataan Afif, langsung tersentak dan menangis sambil memeluk Aisyah dan Rio. Sedangkan, Nabila menyeringai penuh kemenangan. Dia yakin jika impiannya menikah resmi dengan Afif segera terlaksana.
"Permainan akan segera di mulai Sarah! aku tidak akan membiarkan semua harta itu jatuh ke tanganmu! Karena aku akan segera menjadi istri sah sang pewaris tunggal." Nabila berkata dalam hati, kembali senyum kemenangan terukir di bibir sensualnya.
Seperti mimpi bagi Fatimah saat kata talak terucap dari bibir Afif. Dia yakin jika ada sesuatu yang tidak beres di balik keputusan Afif yang sangat menyakitkan ini. Di saat Fatimah sedang berpikir, tiba-tiba dia merasakan sentuhan lembut di tangannya.
"Kamu bukan suamiku lagi, jadi tidak ada hak bagimu untuk menyentuhku!" tegas Fatimah, langsung menjauhkan tangan dan posisi duduknya dari Afif, sambil mengusap kasar air matanya.
"Status kita bukan suami istri lagi, jadi tidak pantas dan haram untuk kita tinggal satu atap!" tegas Fatimah lagi sambil bangkit dari duduknya.
"Ini hanya rumah sewaan, kamu bisa memilih, aku atau kamu yang tinggal di sini?" Tanya Fatimah, berusaha kuat dan tegar.
Afif tidak menjawab, dia kembali menatap lekat Fatimah. Sikap tegas dan kuat Fatimah membuat rasa cintanya semakin bertambah, padahal baru saja kata talak itu di ucapkannya.
"Ternyata, rasanya sesakit ini Fatimah" ucap Afif di dalam hati.
"Afif akan bersamaku!" ucap Nabila yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
"Aku tidak akan membiarkannya hidup menderita bersamamu!" Nabila kembali menatap Fatimah jijik, sambil melangkah mendekati Afif.
Nabila langsung memeluk tubuh Afif dari belakang, membuat Fatimah memalingkan wajahnya. Dia terus mengucapkan Istighfar untuk meredam semua emosinya.
"Ayo, kita pergi sekarang Sayang! Aku sudah tidak tahan dengan udara di sini" Nabila berkata sambil mengibaskan rambutnya, dan berniat mendorong kursi roda Afif. Namun, Afif menahannya.
"Maafkan aku Fatimah" panggil Afif lirih, Fatimah tidak menjawab dia masih memalingkan wajahnya dari Afif.
"Assalamualaikum" Afif berkata sambil menunduk sedih dan langsung mendorong kursi rodanya sendiri, dan Nabila segera mengikuti Afif dan berlalu dari hadapan Fatimah.
"Waalaikumsalam" jawab Fatimah lirih, hanya dirinya yang bisa mendengarnya.
"Tuan Muda" panggil bi Rina dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, saat Afif akan melewatinya.
__ADS_1
"Bi, aku titip Fatimah" pinta Afif menatap nanar bi Rina.
Bi Rina langsung memeluk tubuh Afif, dia menangis sejadi-jadinya. Afif juga tidak bisa membendung kesedihan, air mata yang sudah tidak bisa di tahannya mengalir bebas dari sudut matanya.
"Tolong, jaga dia untukku Bi ...." Afif berkata, dengan suara bergetar.
"Pasti Tuan, semoga Tuan tidak salah mengambil langkah." Bi Rina melepaskan pelukannya menatap Afif.
"Terimakasih Bi." Dengan suara parau Afif menghapus air matanya.
"Abi Afif!" seru Rio dan Aisyah langsung menghambur ke pelukan Afif.
"Rio, Aisyah" panggil Afif lirih.
"Kalian harus menjaga Umi Fatimah, kalian jangan nakal.!" Afif berkata, menatap bergantian wajah Rio dan Aisyah.
"Apa Abi mau pergi dengan tante ini? Apa dia istri Abi?" Tanya Aisyah dengan mata bening yang penuh air mata.
"Iya anak cantik, tante akan menjadi Umi bagi kalian, dan kalian bisa memanggilku Umi Nabila" Nabila berkata sambil tersenyum menatap bergantian Rio dan Aisyah, membuat mereka saling melempar pandang.
"Umi kami adalah Umi Fatimah dan tidak bisa di gantikan oleh siapapun.!" Sergah Rio, sambil melotot ke arah Nabila, membuat wajah Nabila seketika merah padam.
"Nabila! kalau sikapmu seperti ini, jangan pernah kamu berharap mendapatkan apapun dariku!" bentak Afif membuat wajah Nabila memucat, diapun segera menurunkan tangannya.
Melihat perlakuan Nabila dan mendengar perkataan Afif, membuat Fatimah semakin yakin jika ada rahasia besar di balik keputusan yang di ambil oleh Afif. Diapun segera melangkah mendekati mereka dan segera membawa tubuh Rio dan Aisyah ke dalam pelukannya.
"Kalian pergilah! Jangan pernah berkata dan bertindak kasar di depan anak-anak, karena ini akan mempengaruhi psikis mereka.!" Perkataan Fatimah yang penuh penekanan itu membuat Afif merasa tertampar. Dia teringat masa kecilnya di mana setiap hari, dia harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya.
Wajah Nabila semakin memerah, perkataan Fatimah juga sudah membuatnya teringat dengan masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Dan inilah salah satu alasan dia tidak akan melepaskan Afif, dia tidak ingin kehidupan masa kecil yang pahit terulang kembali.
Akhirnya Afif dan Nabila pun pergi meninggalkan rumah sewaan yang kecil dan sederhana itu, di iringi dengan tatapan nanar bi Rina, Rio dan Aisyah. Sedangkan, Fatimah membuang pandangannya sambil menahan air matanya.
****************
Seminggu sudah sejak kejadian itu, Fatimah tetap meneruskan hidupnya bersama bi Rina, Aisyah dan Rio. Dia hanya bisa menangis di setiap sujudnya, meminta petunjuk kepada Sang Pencipta apa yang sebenarnya sudah menimpa Afif.
Saat ini haji Maulana dan Ilham sedang berada di kediaman Fatimah. Dia sangat terpukul saat mengetahui jika Afif sudah menjatuhkan talaknya kepada puterinya kesayangannya. Akan tetapi, sebisa mungkin dia memperlihatkan sikap tegarnya agar Fatimah tidak rapuh dan bertambah sedih.
"Fatimah Puteriku, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya haji Maulana sambil duduk di samping Fatimah, yang baru selesai mengaji.
__ADS_1
"Hidup ini bagaikan air mengalir Abi, Fatimah akan menjalani dengan ridho dan ikhlas apa pun yang sudah di gariskanNya" Fatimah berkata sambil tersenyum.
Haji Maulana menghela napas mencoba untuk tersenyum. Dia sangat paham dengan sifat puterinya yang selalu mampu menyembunyikan setiap kesedihan dan masalahnya, persis sekali dengan almarhumah Umi Zahira.
"Abi yakin, Allah memberikan semua cobaan ini karena kamu mampu, Nak" Haji Maulana mengelus lembut kepala Fatimah.
"Aamiin ... InsyaAllah Abi, Fatimah hanya membutuhkan do'a Abi untuk mengiringi setiap langkah Fatimah" ucap Fatimah, kembali sebuah senyum terukir di bibir tipisnya.
"Abi ... Fatimah," panggil Ilham dengan wajah gelisah, membuat mereka mengerutkan keningnya menatap Ilham.
"Ada apa Bang?" Tanya Fatimah langsung berdiri, meletakkan Al Qur'annya di meja dan segera menghampiri Ilham.
"Maaf Fatimah, tadi ada seseorang yang mengantarkan surat ini" Ilham berkata sambil menyerahkan amplop coklat dengan kop tertulis pengadilan agama, kegelisahan semakin tampak di wajah Ilham.
Fatimah menerima amplop itu dengan jantung berdegup kencang. Dia membaca kop surat yang tertera, membuatnya menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan degup jantungnya.
Haji Maulana sudah paham dengan surat yang di tujukan untuk puterinya, dia segera berdiri dan merangkul Fatimah, seolah-olah memberikan kekuatan untuk sang puteri.
"Bukalah, dengan membaca Bismillah" haji Maulana berkata dengan lembut, sambil mengusap pundak Fatimah.
Fatimah pun mengangguk, dia memejamkan matanya sesaat, mencoba menahan tangannya yang mulai gemetar.
"Bismillahirrahmanirrahim ...."
*******************
Kalian pasti sudah tahu apa isi dari amplop coklat itu?
Fatimah yang buka, kenapa aku yang ikut gemetaran ya😢?
Bagaimana nie, menurut kalian perjalanan cinta Afif dan Fatimah?
Akankah mereka bersatu? Dan mampukah mereka melewati batu-batu besar dan kerikil-kerikil tajam yang menghalangi cinta mereka?
Pastinya ikuti terus dong kisah cinta mereka yang penuh dengan masa lalu🤗
O
__ADS_1