
Bab 50
"Dari mana kamu mendapatkannya?" Apa kamu bertemu dengannya?" Tanya Fatimah menatap Mark, terlihat sekali kemarahan dan kesedihan di manik matanya.
Mark mengangguk, membuat buliran bening mengalir di pipi Fatimah tanpa bisa di cegahnya.
"Sayang," panggil Grace lembut dan langsung membawa Fatimah ke dalam pelukannya.
"Tolong sampaikan kepadanya, aku tidak akan membuka kotak ini!" tegas Fatimah sambil menghapus kasar air matanya dan melepaskan pelukan Grace.
"Kembalikan kotak ini kepadanya, aku tidak akan menerimanya sampai kapan pun!" Fatimah berkata dengan wajah memerah, dia segera bangkit dari duduknya dan tanpa permisi dia meninggalkan mereka.
Mark dan Grace tercengang. Mereka tidak percaya melihat Fatimah akan semarah ini. Bahkan, pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Tante aku harus mengejar Fatimah! Aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya!" Mark berkata dengan wajah penuh kekhawatiran dan langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari Grace. Dia sempat nengambil kotak merah di atas meja dan memasukkannya ke dalam kantong jasnya.
Grace segera menyusul Mark sambil membawa tas kecil milik Mark yang tertinggal di atas meja. Sambil berlari dia menghubungi Alex.
Mark melihat Fatimah yang terus berlari tanpa menghiraukan panggilannya. "Fatimah, tunggu!" teriak Mark, membuat Fatimah terus berlari kencang, sambil mengusap buliran bening yang terus mengalir di pipinya.
Hati yang hancur dan perasaan yang kalut, membuat Fatimah tidak peduli dengan keadaan sekitar. bahkan, teriakan Mark sama sekali tidak di dengarnya. Dia terus berlari sampai akhirnya ....
"Akh ...."
"Fatimah, awas!"
Fatimah merasakan tubuhnya melayang bagaikan kapas dan tiba-tiba terhempas dengan keras, membuat badannya terasa sangat sakit dan remuk. Samar-samar dia mendengar teriakan Mark memanggil namanya.
Terdengar teriakan histeris di telinganya, dia merasakan banyak orang yang mengelilingi tubuhnya. Antara sadar dan tidak, dia seperti mendengar isak tangis seorang wanita yang tak lain adalah Grace. Sebuah tangan lembut dan kekar memeluk tubuhnya dan seketika itu juga semua terasa gelap baginya.
...****************...
__ADS_1
Fatimah menatap keadaan sekelilingnya. Kini dirinya sedang berada di hamparan tanah lapang di tumbuhi rerumputan hijau dengan banyak bunga yang menghiasinya.
Pemandangan yang sangat indah dan memanjakan mata Fatimah, di tambah dengan wangi harum dari bunga-bunga di sekitarnya. Dia melihat keadaan sekeliling begitu sepi, hanya terlihat beberapa kupu-kupu dengan berbagai warna yang sangat cantik, terlihat mereka hinggap ke beberapa bunga hanya untuk mengisap nektar di sana. Nektar yang merupakan cairan manis dari bunga yang biasa di serap oleh lebah. Terdengar juga kicauan burung yang sangat merdu.
Fatimah terpukau dan tersenyum melihat pemandangan sekitar yang sangat memanjakan indra penglihatannya. Hatinya terasa sangat damai. Dia melangkahkan kakinya menghampiri salah satu kupu-kupu cantik dengan tiga warna, yang sedang hinggap di salah satu bunga matahari.
Tanpa kesulitan, fatimah dengan mudah mengambil kupu-kupu cantik itu sambil kembali tersenyum. Namun, wajahnya berubah sendu. Dia berpikir, apakah dengan memiliki warna sayap yang cantik, menjamin kebahagiaan dari sang kupu-kupu?.
Fatimah dengan sangat lembut mengusap dan melepas kupu-kupu itu yang sekarang sedang hinggap di tanaman yang lain. Fatimah menengadahkan wajahnya menatap langit cerah berwarna biru, terlihat awan yang sangat putih seolah-olah sedang menari menutupi langit dan burung-burung yang sedang mengepakkan sayapnya, terbang bebas di angkasa.
Langit yang cerah tiba-tiba terlihat mendung, awan-awan yang berwarna putih kini menjadi gelap menutupi langit yang semakin redup. Sampai akhirnya rintikan air dari langit terasa membasahi wajah dan tubuh Fatimah dengan wajah yang masih menengadah menatap langit yang sudah tertutup awan hitam.
Rintikan air itu kini semakin deras, Fatimah memejamkan matanya menikmati air hujan yang terus membasahi tubuh dan wajahnya. Dia menggigit bibirnya menahan terpaan air hujan yang terasa sangat keras jatuh di wajahnya.
Namun, air hujan tiba-tiba berhenti membuat Fatimah membuka kedua matanya. Dia mengerutkan keningnya, saat melihat sebuah payung berwarna putih tepat berada di atas kepalanya. Dia pun segera menoleh ke arah sosok pemegang payung itu.
Fatimah terpaku melihat seulas senyum yang sudah lama sangat di rindukannya. Matanya terlihat berkaca-kaca saat sosok itu dengan lembut dan penuh kasih sayang mengeluarkan sapu tangannya dan mengeringkan wajahnya yang basah dengan air hujan.
"Mas Afif," panggil Fatimah lirih.
Sosok itu hanya tersenyum lembut dan merangkul pundak Fatimah dengan tangan kanannya dan payung yang berada di tangan kirinya, mengajak Fatimah melangkah meninggalkan tempat itu.
Sambil berjalan, Fatimah terus menatap tidak percaya dengan sosok yang berada tanpa jarak dari tubuhnya. Bahkan, dia bisa mencium aroma khas dari sosok yang di lihatnya sebagai Afif.
Sangat aneh, Fatimah tidak mampu menolak saat tubuhnya di sentuh oleh Afif. Rangkulan Afif memberikan kehangatan dan kenyamanan di seluruh tubuh dan ruang jiwanya.
Sampai akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah minimalis yang di kelilingi taman dan sungai kecil, terdengar gemercik air dari kolam ikan yang berada tepat di dalam taman.
Kini Afif dan Fatimah berada di teras rumah, Fatimah masih terdiam, mencoba mencerna dengan apa yang sedang di alaminya. Tanah lapang yang begitu indah, sosok Afif yang tiba-tiba hadir dalam keadaan hujan, seakan-akan memberikan kehangatan pada dirinya dan sekarang mereka berada di sebuah rumah minimalis yang sangat nyaman.
"Jangan pernah menantang hujan, walaupun itu hal yang sangat menyenangkan." Sosok Afif berkata, sambil menatap lekat Fatimah. Tatapan yang penuh kehangatan membuat Fatimah terhipnotis dengan kerinduan dengan sosok di hadapannya.
__ADS_1
"Dulu aku tidak suka bermain hujan, karena bisa membuatku langsung demam. Tetapi, mulai hari ini aku sangat menyukainya, bahkan, aku akan menantangnya," jawab Fatimah tanpa ragu, semakin lekat membalas tatapan Afif.
"Hujan telah membawamu kembali kepadaku," ucap Fatimah, dengan berani merapatkan tubuhnya ke tubuh Afif.
"Tolong, jangan pergi lagi! Aku sangat merindukanmu," ucap Fatimah lagi dengan suara parau, rasa sesak menghimpit dadanya.
"Rindu itu akan menghilang dengan seiringnya waktu," jawab sosok Afif sambil terus tersenyum dan membelai lembut wajah Fatimah.
Fatimah terdiam mendengar jawaban Afif. "Apa kamu akan mengingkari janjimu?" Tanya Fatimah dengan mata yang mulai beranak sungai.
"Air matamu sangat menyakitkan untukku. Kehadiranku hanya akan membuatmu semakin menderita." Perkataan Afif membuat anak sungai itu mengalir deras di pipi Fatimah.
"Jangan menangis lagi! Bukalah mata dan hatimu, ada seseorang yang menantimu dan siap membahagiakanmu," ucap Afif dengan suara tenang. Dia menghapus lembut air mata Fatimah.
"Lupakanlah aku! Tatap dan gapai masa depanmu." Afif berkata sambil mencium lembut kening Fatimah.
Sambil tersenyum, perlahan Afif melepaskan tangan Fatimah. Tiba-tiba tubuh Afif seperti tertarik mundur, semakin menjauh dari Fatimah.
Ingin sekali Fatimah mengejar Afif, tetapi kakinya terasa sangat berat. Lidahnya terasa kelu, sehingga dia tidak mampu mengucapkan apa pun.
Sekuat tenaga Fatimah melawan semuanya, sampai akhirnya dia bisa berlari mengejar Afif yang sudah menghilang entah kemana.
...****************...
Apa yang sedang di alami Fatimah?
Apa Fatimah bisa selamat ?
Jangan lupa mrluncur bab selanjutnya yang semakin seru 🤗🙏.
__ADS_1