
Bab 57
Hingar bingar suara musik yang memekakkan telinga, sangat jelas terdengar saat kaki melangkah memasuki klub malam terbesar di ibukota, yang merupakan salah satu bisnis dengan penghasilan terbesar Sony. Terlihat semua orang yang datang sangat menikmatinya, kecuali Afif yang sudah merasa muak dengan situasi ini.
Sebelum bertemu dengan Fatimah, kehidupan di klub malam seperti ini sudah terbiasa bagi Afif. Dia sering menghabiskan waktu hanya sekedar bersenang-senang bersama teman-temannya. Dulu sebelum Nabila mengambil keputusan untuk pergi ke luar negeri demi karirnya menjadi seorang model internasional, mereka sering menghabiskan waktu di klub malam.
Sampai akhirnya, mereka melakukan perbuatan terlarang dan memutuskan untuk menikah siri, tanpa sepengetahuan kedua orang tua Afif yaitu Azhar dan Anjani. Di karenakan saat itu status mereka berdua masih sebagai pelajar.
Sambil menunggu kedatangan tuan Aslan dan Salma, Dalam keadaan yang bising Afif memutar memorinya kembali. Kenangan manis berujung pahit bersama Nabila, canda tawa bersama teman-temannya dan pasti saat pertemuan pertamanya dengan Fatimah. Pertemuan yang tidak pernah di pikirkan sebelumnya.
Seulas senyum mengembang di bibir Afif, rasa rindu menusuk relung hatinya. Merindukan teman-temannya, dan pastinya rasa rindu kepada Fatimah, seseorang yang merubah hidupnya dan merasakan kembali sebuah rasa cinta.
Afif tersenyum kecut, saat mengingat jika Fatimah kini sudah berstatus sebagai istri dari sepupu sekaligus teman masa kecilnya. Rasa sakit, sedih dan luka kini merasuki relung hatinya.
Sebuah sentuhan lembut di pundaknya, membuyarkan lamunannya. Saat dia menoleh, tampak sesosok wanita dengan kecantikan yang sempurna, sudah berdiri sangat dekat di belakangnya.
Tampak sepasang mata indah itu menatapnya lekat dan bibir indah yang ranum itu memberikan sebuah senyuman yang mampu menggetarkan hati Afif, yang selama ini hanya ada Fatimah di dalamnya.
"Salma," panggil Afif langsung berdiri dan memutar tubuhnya, sehingga mereka kini saling berhadapan.
"Apa kamu sedang melamun?" Tanya Salma dengan suara yang begitu lembut.
"Apa kamu sedang memikirkan seseorang?" Tanya Salma lagi, karena Afif tidak langsung menjawab.
"Pasti dia seorang wanita yang beruntung, bisa mendapatkan tempat yang spesial di hatimu," ucap Salma lagi, sambil menyentuh dada Afif dengan jari-jarinya yang lentik.
Sentuhan jari Salma, mengembalikan kesadaran Afif. Dia langsung melepaskan jari lentik itu dari dadanya.
"Di mana tuan Aslan? Mereka sudah menunggu kalian di dalam." Afif berkata sambil mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan tuan Aslan.
Salma mencoba tersenyum, ada segaris kekecewaan di wajah cantiknya yang sudah di poles make up yang sangat sempurna.
__ADS_1
"Dia sudah masuk ke dalam," jawab Salma dengan wajah datar dan suara sedikit ketus, membuat Afif mengerutkan keningnya menatapnya.
Salma menghela napas dan berkata, sambil kembali menatap lekat Afif. "Dia sudah tidak tahan dengan temanmu itu!"
Perkataan Salma membuat Afif tersentak. Dia teringat keadaan Arsyad tadi siang yang terlihat begitu lemah setelah melayani nafsu bejat Mr. Adonis. Sampai sekarang Afif belum mengetahui penyebab Arsyad begitu patuh terhadap Sony.
"Bisakah, kamu menggantikan posisi lelaki menjijikan itu?" Pinta Salma, membuat Afif kembali menatapnya.
"Hatiku mengatakan jika kamu adalah lelaki yang baik. Aku yakin kamu pasti mempunyai alasan yang kuat, sampai harus menjadi anak buah bajingan itu!" Salma berkata dengan sorot mata penuh kebencian.
"Maaf, di lain waktu mungkin kita bisa membicarakan ini. Aku rasa mereka sudah lama menunngumu. Silahkan, nona Salma," ucap Afif mempersilahkan Salma menuju ruang VIP, tempat Sony yang sudah menunggu.
"Ternyata dugaanku salah, kamu sama saja seperti mereka!" dengkus Salma kesal dan langsung berlalu dari hadapan Afif.
Afif terdiam. Dia hanya menatap nanar punggung Salma dan dia segera mengikuti langkah Salma dari belakang. Di kejauhan tampak Arman yang sedang memperhatikan mereka. Sebuah senyum licik terlihat di bibirnya.
Sesampainya di dalam ruangan, Sony langsung menatap Salma tanpa kedip. Dia memindai penampilan Salma dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil menelan salivanya.
"Sempurna," decak Sony kagum. Belum pernah dia bertemu dengan wanita yang menjadi salah satu pemuas nafsu dengan penampilan secantik dan seanggun Salma. Apa lagi gaun yang di gunakan Salma sangat elegan. Dia lebih seperti wanita berkelas di bandingkan wanita penghibur.
"Apa kamu mau bermain di sini? Atau kita ambil kamar lain?" Tanya Sony, sambil menci*m pundak Salma yang terbuka.
Salma mencoba menahan amarahnya sambil menatap Afif, membuat Afif mengalihkan pandanganya. Sony yang mengetahui itu, menganggap jika Salma tidak nyaman dengan kehadiran Afif.
"Aku rasa tugasmu sudah selasai," ucap Sony, sambil memberikan isyarat meminta Afif untuk keluar.
Afif menarik napas kasar. "Aku tidak pernah meminta sesuatu apa pun darimu, Sony!" tegas Afif, membuat Sony mengerutkan keningnya. Begitu juga dengan Salma yang menatap Afif penuh tanya.
"Aku menginginkan dia," Perkataan Afif membuat Sony dan Salma tersentak.
"Apa maksudmu? Berani sekali kamu menganggu kesenanganku!" Sony berkata dengan wajah memerah dan rahang wajah yang mengeras.
__ADS_1
Afif tertawa sambil melangkah mendekati mereka dan berkata, "Tidak ada yang bisa menggantikan Fatimah di hatiku, dan aku berada di sinipun menjadi anak buahmu demi dia," Afif berkata sambil menatap lekat Sony.
"Wanita ini berhasil mencuri perhatianku, bahkan, jantungku sudah berdetak dari pertemuan kita tadi siang." Afif berkata lagi dengan sebuah senyuman dan tatapan yang membuat Salma tercekat kembali. Seketika wajahnya bersemu merah. Antara malu dan bahagia, dia tidak berani menatap Afif.
Sony menarik napasnya kasar. Dia mencoba menahan ga*rah dan kemarahannya. Ini adalah kesempatan untuk membuat Afif tidak bisa keluar dari belenggu kekuasaannya. Dia akan memanfaatkan Afif melalui Salma. Sebuah ide yang menjijikan muncul di otaknya.
"Nafsuku sudah membara. Aku akan melepasnya, jika kamu bisa memberikan kepuasan!" tegas Sony, menatap mesum Afif.
"Dasar maniak se*!" umpat Afif di dalam hati.
"Bagaimana Afif? Puaskan aku! Maka aku memberikan Salma untukmu!" Sony berkata dengan seringai menjijikan.
"Baiklah, aku akan menjadi budak se*mu. Tetapi, dengan satu syarat," tawar Afif, membuat tatapan mesum Sony menjadi tatapan tajam.
"Katakan! apa yang kamu mau?" Tanya Sony dengan suara dingin.
"Aku ingin tuan Aslan juga melepaskan Salma, dan mulai saat ini, Salma menjadi milikku dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhnya!" tegas Afif, membuat Sony terdiam dan berpikir sesaat.
Salma yang mendengar pernyataan Afif kembali tersentak. Dia tidak menyangka jika Afif rela mengorbankan diri untuknya, tampak mata indahnya kini berkaca-kaca.
"Baiklah, aku akan membicarakannya dengan tuan Aslan. Tetapi aku harap kamu juga mengerti dengan apa yang di inginkan juga," ucap Sony dengan seringai liciknya.
Salma menatap Afif bersamaan dengan Afif yang menatap ke arahnya. Terlihat anak sungai yang sudah berkumpul di mata Salma. Dia seperti mengisyaratkan kepada Afif untuk mengurungkan niatnya. Afif hanya membalas dengan senyuman.
...****************...
Akankah Afif menjadi pemuas nafsu bejat Sony dan tuan Aslan?
Apakah Afif benar-benar tertarik dengan Salma atau hanya ingin membantunya?
Cerita yang semakin seru, jangan lewatkan bab berikutnya.
__ADS_1
Semoga author berhasil membangun cerita romantis dengan sedikit bumbu yang menegangkan.