Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Kepergian dan kedatangan yang menyedihkan


__ADS_3

Bab 23


Fatimah menatap nanar tubuh sang Umi, air mata terus mengalir deras membasahi wajahnya. Dia pun duduk di samping Umi Zahira sambil mengelus punggung tangan yang terlihat semakin kurus.


"Umi, sadarlah! Ini aku Fatimah, Umi!" Fatimah menciumi punggung tangan Umi Zahira dengan punggung yang bergetar hebat, karena menahan isak tangisnya.


"Fatimah, jangan menangis! Umi tidak membutuhkan air matamu, beliau membutuhkan do'a kita anak-anaknya" bisik Ilham, sambil merangkul pundak Fatimah mencoba menenangkannya.


"Maafkan, Fatimah yang tidak bisa menahan kesedihan" ucap Fatimah, sambil mengusap kasar air matanya. Dengan sangat hati-hati Fatimah menurunkan tangan Umi Zahira yang di pegangnya, dia mencium kening sang Umi dengan penuh kasih sayang.


Fatimah ikut melafalkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Sekuat mungkin dia menahan air mata, sesak dan ketakutan di hatinya. Di tengah kehusyukan mereka membaca Al Qur'an, tiba-tiba jemari Umi Zahira bergerak.


"Umiii ...." Panggil Fatimah langsung menggenggam tangan Umi Zahira.


"F-Fatimah ...." Umi Zahira berkata dengan suara terbata.


"Iya Umi, ini Fatimah!" Fatimah berkata dengan mata yang sudah beranak sungai dan kembali membasahi pipinya.


Umi Zahira membuka sedikit matanya, tersenyum tipis menatap Fatimah. Dia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Fatimah. Sambil terisak, Fatimah membawa tangan Umi Zahira ke wajahnya dan menciumi tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya.


Umi Zahira menatap sayu suami dan anak-anaknya, kembali senyum tipis terukir di bibirnya, terlihat bibirnya mulai bergerak mengucapkan sesuatu yang membuat air mata Fatimah semakin deras.


Dua kalimat syahadat terucap jelas dan lancar dari mulut Umi Zahira. Ingin sekali Fatimah berteriak memanggil nama sang Umi, dia langsung memeluk tubuh sang Umi yang kini sudah tidak bernyawa. Haji Maulana dan Ilham mengusap kasar air mata mereka. Sedangkan Arman langsung bangkit dari duduknya, dan melangkah menjauhi mereka.


"Maafkan aku Umi, rasa sakit selama bertahun-tahun kini berubah menjadi luka dan dendam" Arman berkata lirih, dan segera melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.


******************


Fatimah duduk termenung di teras belakang rumah dengan bingkai foto Umi Zahira di tangannya. Sesekali dia mengusap air matanya, dia mencoba menahan sesak yang kini menghimpit di dadanya.


Afif memperhatikan istrinya dengan tatapan nanar dan hati yang bergemuruh. Tampak kesedihan dan penyesalan yang teramat sangat di wajahnya.


"Maafkan aku, tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu Fatimah" ucap Afif lirih, dia pun segera memutar kursi rodanya masuk ke dalam kamar.


Afif meraih ponselnya, sambil menarik napas kasar dia mengetik pesan untuk seseorang.

__ADS_1


[ Aku menerima tawaranmu, datanglah nanti sore ]


[ Siap, Sayangku😘 ].


Afif terdiam sejenak, tidak terasa buliran hangat membasahi wajahnya, hatinya terasa sangat sakit membayangkan jika Fatimah akan terluka dan membencinya. Sesuatu yang sangat menakutkan baginya.


Waktu yang di takutkan Afif pun tiba. Sore itu sebuah mobil mewah Ferrari dengan warna merah menyala terparkir sempurna di halaman rumah yang mereka sewa. Tampak wanita cantik dengan penampilan glamour dan seksi turun dari mobil itu.


Jantung Afif semakin berdegup kencang, dia menelan kasar salivanya, saat langkah wanita seksi itu semakin mendekat. Mungkin sore ini dia akan mendapatkan hujatan dan kebencian dari Fatimah. Namun, dia tidak mempunyai pilihan lain, semua demi kebaikan kehidupan Fatimah.


Fatimah dan bi Rina menatap tajam ke arah wanita yang kini semakin mendekat ke arah mereka, sambil memperlihatkan senyum yang merekah di bibir merahnya.


"Nabila" ucap Fatimah menatap nanar wanita yang tak lain adalah Nabila.


"Hallo Fatimah, senang bisa bertemu lagi denganmu" Nabila berkata sambil tersenyum miring menatap Fatimah dengan wajah jijik.


"Fatimah, tidak ada urusan denganmu, Nabila.!" Sergah Afif, membuat Nabila tertawa.


"Oh ya sayang, aku ke sini ingin menjemputmu, tidak ada urusannya dengan dia!" Nabila berkata, sambil melangkah mendekati Afif dengan senyum mengejek kepada Fatimah. Membuat Fatimah tercekat dan merasakan gemuruh di dadanya.


"Hai, lepaskan tangan menjijikanmu dari lenganku!" Hardik Nabila dengan wajah memerah, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Fatimah.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu Nabila,! kenapa kamu masih saja mengejar suamiku?" Teriak Fatimah tak kalah sengit.


"Dasar wanita bod*h, sekarang dia memang berstatus suamimu, tetapi sebentar lagi dia akan menceraikanmu!"


Deg ....


Perkataan Nabila membuat Fatimah terdiam seketika, dia langsung menatap lekat Afif dengan mata yang berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Terlihat senyum penuh kemenangan di wajah Nabila, dia menghempaskan tangan Fatimah dengan kasar.


"Mas, tolong jelaskan kepadaku, apa maksud dari perkataannya?" Tanya Fatimah, dengan dada yang naik turun karena sesak yang semakin di rasakannya. Dia menatap bergantian Afif dan Nabila.


"Lebih baik kamu jelaskan sekarang sayang! Biar wanita kampung ini segera mengetahui posisinya" Nabila berkata, sambil mendekati dan memegang mesra pundak Afif.


"Nabila, biarkan aku bicara berdua dengan Fatimah" Afif berkata dengan wajah gelisah, dia tidak berani membalas tatapan Fatimah.

__ADS_1


"Baiklah, aku harap pembicaraan kalian jangan terlalu lama, karena aku sudah tidak tahan dengan udara di rumah ini!" Bisik Nabila yang bisa di dengar oleh Fatimah. Dia pun melangkah dengan senyum kemenangan meninggalkan mereka berdua.


Afif menarik napas kasar, mencoba menetralkan jantungnya. Dia benar-benar tidak berani menatap Fatimah. Hilang sudah keberaniannya, ketika netranya bertemu dengan netra yang membuatnya jatuh cinta setiap hari.


"Katakan kepadaku dengan sejujur-jujurnya Mas, apa yang sudah kalian rencanakan? Dan apa kalian masih saling mencintai?" Tanya Fatimah dengan suara yang mulai bergetar. Air mata sudah tidak bisa di tahannya lagi, membuat Afif ikut merasakan sakit dan kesedihan.


"Duduklah, Fatimah! Kita akan membicarakan ini baik-baik" Afif terpaksa menatap Fatimah. Ingin sekali dia membawa wanita yang sangat di cintainya itu ke dalam pelukannya, menghapus air matanya. Tetapi itu tidak mungkin, karena luka dan kesedihan Fatimah karena ulahnya.


"Katakan, Mas!" Desak Fatimah, saat dia sudah duduk di hadapan Afif. Sekuat mungkin dia menyiapkan hatinya untuk mendengar kata-kata yang menyakitkan dari mulut suaminya.


"Maafkan aku Fatimah, aku sangat mencintaimu, tetapi sepertinya cintaku hanya membuat hidupmu menderita" Afif berkata dengan suara parau, dia membuang pandangannya, tidak berani menatap Fatimah yang kini sedang menatapnya dengan jarak yang lebih dekat.


"Apa kamu bisa menjelaskannya mas? Apa yang membuat aku menderita hidup bersamamu?" Tanya Fatimah dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.


Afif tersentak, dia menatap lekat Fatimah.


"Fatimah, kamu terlalu sempurna untukku dan apa yang sudah terjadi tidak adil untukmu!" jawab Afif dengan wajah yang semakin gelisah.


Fatimah menarik napas dan memejamkan matanya sesaat. Dia mencoba menetralkan hatinya yang benar-benar tidak menentu dan mencoba menahan buliran hangat itu untuk berhenti membasahi wajahnya.


"Baiklah mas, jika kamu tidak bisa mengatakannya, aku tidak akan memaksa"


"Sekarang, keputusan apa yang akan kamu ambil untuk kelanjutan pernikahan kita?"


*******************


Ceritanya aku gantung, jujur aku sendiri ikut nyesek nulis bab ini😢.


Keputusan apa yang akan Afif ambil?


Sanggupkah Fatimah menerima kenyataan semua ini?


Apa yang di tawarkan Nabila, sehingga Afif terpaksa menyakiti hati Fatimah?


Tunggu jawabannya di bab selanjutnya🤗🙏.

__ADS_1



__ADS_2