
Bab 37
'Kamu tidak perlu khawatir, aku juga akan menyewakan pengacara untuk mendampingimu, jika kamu benar-benar mau mengungkapkan kebenaran Nabila." Afif berkata sambil duduk di hadapan mereka, menatap lekat Nabila.
Sebuah perasaan aneh menjalar di hati Fatimah, tetapi dia berusaha untuk menepisnya. "Tidak, Fatimah! Kamu tidak boleh cemburu!" Fatimah berkata dalam hati, mencoba menepis perasaannya.
"Terima kasih Fif, aku berjanji akan berkata sejujurnya dan mengungkapkan semua kebenaran yang sudah terjadi." Nabila berkata sambil memegang jemari Afif, membuat Afif dan Fatimah saling bertukar pandang. Namun, Fatimah langsung menundukkan wajahnya.
"Baiklah, jika kamu sudah siap untuk ke kantor polisi, aku akan segera mengantarmu." Jawab Afif sambil melepas pelan jemarinya dari genggaman Nabila.
"Afif, tunggu!" Nabila menahan lengan Afif yang hendak beranjak dari duduknya.
Afif menekan kasar salivanya, dia menatap lekat ke arah Fatimah sehingga netra mereka kembali bertemu.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu memaafkanku dan tidak membenciku," ucap Nabila menatap nanar Afif.
"Sekali lagi aku meminta maaf kepada kalian," ucap Nabila lagi sambil menghela napas.
"Aku sudah banyak membuat masalah dalam hidup kalian dan membuat kalian berpisah." Nabila berkata sambil menatap lekat Fatimah dan Afif, sedangkan tangannya masih menggenggam tangan Afif.
Nabila pun tiba-tiba tersenyum. Dia meraih tangan Fatimah dan membawanya menyatu dengan tangan Afif. Tentu saja membuat Afif dan Fatimah tersentak. Tampak senyum kebahagiaan di wajah Nabila.
"Berjanjilah kepadaku, jika kalian akan bersatu lagi di dalam mahligai pernikahan," pinta Nabila sambil menatap nanar ke arah Afif dan Fatimah.
"Maaf, Kak! ini semua tidak bisa terjadi!" sergah Fatimah langsung melepaskan tangan dari tangan Afif.
Perkataan Fatimah membuat Nabila mengerutkan keningnya, sedangkan Afif menatap tajam Fatimah yang baru saja menolaknya.
"Aku ingin kalian harus tetap bersama, aku berjanji akan pergi menjauh dari kalian!" tegas Fatimah membuat Afif dan Nabila diam mematung, mereka hanya saling melempar pandang.
"Apa yang kamu katakan, Fatimah? Afif lebih membutuhkanmu! Tetaplah bersamanya!" Nabila berkata dengan tatapan nanar.
"Kita tidak perlu membahas ini dulu, hari ini kita harus ke kantor polisi Nabila." Jawab Afif, dia melempar pandangannya tanpa ingin menatap Fatimah.
"Apa harus secepat ini?" Tanya Fatimah, saat Afif dan Nabila bangkit dari duduknya. Fatimah pun ikut berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan mereka.
__ADS_1
"Aku rasa keputusan Afif adalah keputusan yang tepat. Lebih cepat lebaih baik. Aku khawatir jika mereka akan segera melakukan sesuatu yang membahayakan kalian." Nabila berkata dengan wajah penuh kecemasan.
"Kak Nabila, aku ...."
"Sudahlah, Fatimah ini bukan saatnya untuk kita berdebat!" tegas Afif, membuat Fatimah tersentak.
"Ikutlah bersama kami! Aku akan meminta orang kepercayaanku untuk menjaga Aisyah." Afif berkata sambil melangkah pergi, membuat Fatimah menelan kasar salivanya.
"Ayo, Fatimah!" Ajak Nabila, saat orang kepercayaan Afif datang untuk menjaga Aisyah.
Setelah memastikan jika Aisyah benar-benar dalam keadaan aman, Fatimah pun melangkah mengikuti Nabila. Tampak Afif yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Duduklah di samping Afif! Aku akan duduk di kursi belakang," ucap Nabila sambil mencegah Fatimah yang hendak duduk di kursi penumpang.
"Tidak usah kak, biar aku ...." Fatimah tidak melanjutkannya ucapannya, karena Nabila langsung membukakan pintu depan dan segera mendorong Fatimah untuk duduk di samping Afif.
Sambil tersenyum, Nabila duduk di kursi belakang. Afif melirik sekilas ke arah Fatimah yang kini sedang menunduk. Afif merasa gemas sekali melihat sikap Fatimah, ingin sekali dia membawa Fatimah ke dalam pelukannya.
Tanpa bersuara Afif segera melajukan mobilnya membelah jalan raya, menyatu dengan kendaraan lain yang tampak padat merayap.
Afif menyadari jika bahaya sedang mengancam mereka, dia langsung memberikan isyarat kepada Fatimah dan Nabila untuk tenang dan dia pun segera menghubungi Dion.
Afif menghela napas sesaat, dengan gerakan cepat dia menginjak gas, memundurkan sedikit mobilnya dan melaju kencang melewati mobil Jeep hitam yang menghadang mereka. Mobil Jeep itu pun segera tancap gas mengejar mereka.
Afif yang sudah terbiasa di ajang balap mobil dan motor dengan lihainya melajukan mobil dari kejaran mereka, tetapi salah satu pengendara dari mobil jeep itu melepaskan beberapa tembakan yang mengenai ban dan belakang kaca mobil.
"Akhhhh...."
Teriak Fatimah dan Nabila secara bersamaan.
"Kalian tenang, semua akan baik-baik saja!" ucap Afif yang mulai memutar otaknya, karena ban mobil yang terkena tembakan membuat mobil mereka kehilangan keseimbangan.
Mobil mereka pun melaju tidak seimbang, sekuat mungkin Afif berusaha mengendalikannya, dia membanting setir untuk menghindari menabrak bahu jalan. Dia pun segera menginjak rem, sehingga terdengar bunyi yang sangat keras akibat sentuhan aspal dan ban mobil mereka.
Setelah mobil benar-benar berhenti, Afif segera mengajak Fatimah dan Nabila turun. Afif mengeluarkan pistol dari pinggangnya yang sudah di siapkan sebelumnya karena dia menyadari jika bahaya akan mengintai mereka, ketika mereka melangkah keluar dari rumah.
__ADS_1
Fatimah dan Nabila hanya saling tatap, dengan wajah takut dan cemas mereka mengikuti semua instruksi Afif. Mereka terus berlari mencari tempat aman dengan Afif yang terus melindungi mereka, sehingga baku tembak pun terjadi, sampai akhirnya ....
"Auw ...." suara erangan terdengar dari Fatimah, terlihat lengan Fatimah yang mengeluarkan dar*h, seketika Nabila menghentikan larinya.
"Afif, lengan Fatimah tertembak," teriak Nabila dengan wajah panik.
Afif tersentak, dia langsung berjongkok dan mengambil beberapa belati yang tersimpan di dalam kaos kakinya dan langsung melemparkan ke arah dua orang yang mengejar mereka. Seketika erangan terdengar dari mulut kedua orang itu, saat belati-belati itu tepat bersarang di dada mereka.
Afif segera menghampiri Fatimah dan Nabila. Dia menatap panik melihat wajah Fatimah yang kesakitan. Dia pun segera melepas dan merobek kasar kemejanya dan langsung mengikatnya ke lengan Fatimah.
"Bertahanlah! Jangan khawatir, kita akan segera ke rumah sakit!" Afif berkata dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap lembut wajah Fatimah.
Fatimah menatap nanar Afif, tanpa permisi buliran bening pun mengalir di pipi Fatimah, rasa sakit di lengannya terkalahkan dengan rasa hangat yang menjalar di relung hatinya. Dia menyadari jika rasa cintanya ke Afif sudah tumbuh subur di hatinya.
Untuk sesaat netra mereka saling tatap, mengisyaratkan sebuah rasa yang sangat dalam. Nabila menatap nanar mereka, rasa bersalah dan menyesal semakin menggerogoti hatinya. Sampai dia melihat seseorang memakai topeng hitam berdiri beberapa meter dari mereka.
Seseorang bertopeng itu tampak mengarahkan sebuah senjata api ke arah mereka. Terlihat titik fokus orang itu ke arah punggung Fatimah.
Terlihat kepanikan di wajah Nabila. Bertepatan dengan di lepaskannya peluru ke arah Fatimah, seketika itu juga Nabila langsung mendorong kasar tubuh Fatimah dan ....
"Akhhhh ...."
*************
Apa yang terjadi dengan Nabila?
Siapa sosok bertopeng itu?
Ikuti bab selanjutnya🤗.
Maaf telat up, lagi sibuk dengan dunia nyata🤭😁.
Terima kasih untuk yang selalu hadir di novel author yang sangat lambat up nya🙏.
__ADS_1