Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Keputusan Fatimah


__ADS_3

Bab 13


Afif terdiam menatap orang-orang asing di rumah itu, sampai matanya tertuju kepada sosok Lelaki bermata elang, bertubuh tinggi dengan berewok menghiasai wajahnya. Tampak Lelaki itu berdiri tidak jauh dari Fatimah.


Fatimah menatap sendu Afif, saat netra mereka bertemu, Fatimah langsung menundukkan wajahnya. Membuat Lelaki itu menatap lekat Afif.


"Kamu pasti Afif Abidzar, perkenalkan namaku Arsyad Alfardzi" Lelaki yang tak lain adalah Arsyad itu, mengulurkan tangannya.


Afif langsung membalas uluran tangan Arsyad.


"Kamu mengenalku, apa kita pernah bertemu?"


Arsyad tertawa kecil mendengar pertanyaan Afif.


"Aku baru saja tiba di Turki kemarin sore, tidak mungkin aku mengenalmu!" Arsyad tersenyum.


"Hampir setahun ini, aku sering mendengar namamu!" ucap Arsyad dengan senyum smirknya, sambil melirik ke arah Fatimah yang semakin menundukkan wajahnya.


Afif tidak menjawab, dia hanya menatap tajam ke arah Arsyad, sambil tersenyum.


"Abi Maulana sudah memberikanku kesempatan untuk bersaing secara sehat, apa kamu bisa melakukan itu Tuan Arsyad?"


Pernyataan dan pertanyaan Afif, membuat wajah Arsyad memerah.


Haji Maulana tampak tersenyum mendengar perkataan Afif.


"Apa maksud dari pemuda ini?" tanya pria setengah baya yang bernama haji Abdullah ayah dari Arsyad.


"Maafkan aku Sahib! menurutku benar apa yang di katakan Afif, biarkanlah mereka bersaing secara sehat untuk mendapatkan wanita pilihan mereka sebagai bidadari surga" ucap haji Maulana, membuat semua orang yang berada di sana tercekat, kecuali Afif dan Fatimah. Terlihat seulas senyum di bibir mereka.


"Kamu menjadikan Putrimu Fatimah sebagai barang taruhan!" ucap haji Abdullah dengan suara yang mulai meninggi, suasana pun berubah menjadi tegang.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu Sahib! Saat Arsyad melakukan khitbah, Fatimah belum mengatakan iya. Sebagai orang tua, aku tidak ingin memaksakan kehendakku kepada semua anak-anakku" ucap haji Maulana, dengan suara yang masih terdengar lembut.


"Kalau begitu, suruh Fatimah sekarang juga untuk memilih antara Arsyad atau pemuda ini!" tegas haji Abdullah.


Perkataan haji Abdullah membuat semua orang kembali tercekat, terutama Fatimah. Dia tidak percaya jika dia harus memilih secara tiba-tiba.


Haji Maulana menghela napas, dia menatap lekat Putrinya Fatimah, kemudian menatap bergantian Afif dan Arsyad.


"Afif, Arsyad sudah siap menikahi Fatimah. Bagaimana denganmu?" tanya haji Maulana menatap Afif.


"InsyaAllah saya siap Abi, karena dari awal pertemuan kami, saya ingin Fatimah menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anak saya" tegas Afif, membuat Fatimah dan Azhar tersenyum.


Haji Maulana mengangguk, wajah Arsyad terlihat memerah, begitu juga dengan wajah haji Abdullah. Sedangkan wajah Arman terlihat gelisah.

__ADS_1


"Baiklah!" ucap haji Maulana menghela napas.


"Fatimah, putriku, ada dua Pria di hadapanmu yang akan melakukan khitbah kepadamu. Abi tidak akan memaksamu, siapa yang akan menjadi pilihanmu" tegas haji Maulana.


Fatimah menatap lekat haji Maulana, Umi Zahira, Salma, Ilham dan Arman.


"Pilihlah sesuai hatimu, Nak" ucap Umi Zahira lembut, di jawab anggukkan dan senyuman oleh Fatimah.


"Abang Arsyad adalah Pria yang sangat sempurna dan impian dari semua wanita" ucap Fatimah, membuat bibir Arsyad tersenyum, dan melirik sinis ke arah Afif.


Afif berusaha setenang mungkin, walaupun jantungnya berdebar kencang.


"Abang bisa membawa seorang wanita ke jalan Allah, dan abang juga bisa membawanya menuju surga Allah" Fatimah menjeda ucapan, sambil menarik napas dan membuangnya perlahan.


Arsyad terus tersenyum menatap Fatimah, dengan penuh percaya diri, dia yakin Fatimah pasti memilihnya.


"Abang bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Fatimah"


Perkataan Fatimah membuat semua orang terkejut kembali, terutama Arsyad, senyumnya seketika langsung menghilang.


"Apa maksudmu Fatimah?" tanya Arsyad dengan tatapan tajam.


"Maafkan aku bang Arsyad" Fatimah menundukkan wajahnya.


"Katakan kepadaku, apa kelebihan dia dariku?" tanya Arsyad, dengan suara penuh penekanan.


Arsyad dan keluarganya begitu geram, begitu juga dengan Arman.


"Apa maksudmu Fatimah? kamu menolak khitbah dari Putraku, hanya karena pemuda tidak jelas seperti dia!" bentak haji Abdullah sambil menunjuk ke arah Afif.


"Jaga bicaramu tentang Putraku!" ucap Azhar tiba-tiba sudah di samping Afif.


Semua orang menatap Azhar. Begitu juga dengan Afif, dia menatap tidak percaya ke arah Azhar.


"Putramu telah merebut calon istri Putraku!" sergah Abdullah.


"Apa kamu tidak mendengar apa yang sudah di katakan oleh Fatimah, jika dia lebih memilih Putraku!" jawab Azhar, dengan senyum sinis.


Melihat suasana yang semakin memanas, haji Maulana meminta tolong untuk membicarakan semua dengan kepala dingin. Namun, rasa kesal dan sakit hati, haji Abdullah langsung mengajak Arsyad, istri dan keluarga besarnya untuk pulang.


"Mulai sekarang, persahabatan kita sampai di sini saja, dan jangan pernah memanggilku lagi dengan sebutan Sahib!" ucap haji Abdullah, langsung berlalu meninggalkan rumah haji Maulana, tanpa mengucapkan salam.


( Sahib dalam bahasa Arab artinya sahabat )


"Fatimah, tolong pikirkan baik-baik tentang keputusanmu! aku akan setia menunggumu" Arsyad berkata dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


Arsyad menghela napas.


"Assalamualaikum" ucap Arsyad, sambil mencium punggung kedua tangan Abi dan Umi.


"Tuan haji Maulana, saya selaku orang tua Afif, datang ke sini untuk melamar Putri anda Fatimah untuk Putra saya Afif" ucap Azhar, membuat mereka semua kembali tersentak.


"Panggil saya Maulana saja" jawab haji Maulana, merasa sungkan.


"Panggil Abi Maulana" bisik Afif, di jawab anggukkan oleh Azhar


"Fatimah apa kamu benar-benar menerima khitbah Afif?" tanya haji Maulana, menatap Fatimah.


"Fatimah menerimanya Abi" ucap Fatimah dengan wajah merona.


Wajah Afif seketika berbinar penuh kebahagiaan, mendengar perkataan Fatimah, tampak semuanya tersenyum dan bernapas lega, berbeda dengan Arman yang sejak tadi menahan emosinya.


"Alhamdulillah" teriak Afif, sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan sujud syukur.


"Terimakasih Fatimah, terima Abi dan keluarga semua, sudah mau menerima lamaran Putra saya" ucap Azhar tersenyum.


"Baiklah, karena khitbahmu sudah di terima, segerakanlah! tidak baik untuk menunda sesuatu yang baik, kapan akan segera di resmikan?"


"Minggu depan" ucap Afif dengan penuh semangat.


Mereka semua terlihat tersenyum, mendengar perkataan Afif, kecuali Sarah yang sejak tadi terdiam melihat dan mendengar semuanya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian akan hidup bahagia! aku akan membuat kalian berpisah dan saling membenci" ucap Sarah di dalam hati dengan senyum smirknya.


*************


"Kenapa Abi lebih memilih Pria bajing*n itu, dari pada Arsyad yang sudah sangat lama kita kenal? bahkan, sudah tidak di ragukan lagi ilmunya, terutama di dalam bidang agama!" ucap Arman, dengan suara yang meninggi.


"Arman , jaga bicaramu di depan orang tua!" ucap Umi Zahira, sambil mengelus lembut punggung suaminya, agar tidak terbawa suasana.


Arman mendengus kesal.


"Setelah ini, bersiaplah jika pesantren Darul Hikmah, akan gulung tikar?


*************


Apakah rencana pernikahan Afif dan Fatimah akan berjalan lancar?


Apa yang akan di rencanakan oleh Sarah?


Apakah kekayaan keluarga Arsyad yang telah membantu berdirinya pesantren Darul Hikmah?

__ADS_1


Jangan pernah lewatkan setiap babnya🥰🤗



__ADS_2