
Bab 65
Fatimah menatap nanar layar televisi di depannya, dengan tangan bergetar dia meraih ponselnya. Membuka aplikasi medsos yang penuh dengan berita penggerebekan di sarang mafia.
Terlihat soroton kamera ke arah seorang pria dengan tubuh tegap dan berwajah Indonesia asli bersama seorang wanita cantik berwajah Indonesia - Turki yang selalu bersama, sampai mereka memasuki mobil ambulans menuju rumah sakit.
Ada kesedihan dan sesak di hati Fatimah. Di satu sisi dia sangat mengkhawatirkan keadaan lelaki yang tak lain adalah Afif dalam keadaan terluka di sekujur tubuhnya dan luka tembak di bahu kanannya. Tidak terasa buliran bening lolos dari sudut mata teduhnya.
Di sisi lain, hatinya terasa sangat sedih melihat wanita cantik yang setia menemaninya. Hatinya tidak rela melihat wanita lain di samping Afif.
"Kamu tidak boleh cemburu, Fatimah! Afif bukan milikmu lagi!" Fatimah mencoba menepis perasaannya. Sambil menghapus buliran bening yang sudah mengalir di pipinya.
Terlalu fokus dengan berita Afif, membuat Fatimah tidak menyadari jika Mark sudah berada di ruangan itu sejak tadi dan menatap Fatimah dengan perasaan bercampur aduk. Perlahan Mark melangkah mendekati Fatimah yang sedang fokus dengan layar ponselnya.
"Apa kamu ingin menemuinya?" tanya Mark yang kini sudah duduk di hadapannya.
Fatimah tersentak. Dia segera menghapus kasar air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Mark menahan tangan Fatimah dan dengan lembut dia menghapus air mata Fatimah.
"Jangan menangis! Ini membuat hatiku sangat sakit." Mark berkata sambil menatap nanar Fatimah.
"Kita akan segera menemuinya. Bersiaplah!" ucap Mark lembut, sambil terus menghapus air mata Fatimah.
Fatimah tersentak. Dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Mark. "M-maksudmu ....?" tanya Fatimah dengan bibir bergetar.
"Aku sudah membeli tiket pesawat. Bersiaplah! Kita akan berangkat sekarang." ucap Mark sambil tersenyum dan mengusap lembut kepala Fatimah.
Mark segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Dia memutuskan untuk tidak satu kamar bersama Fatimah karena dia takut tidak bisa menahan hasratnya sebagai suami, walaupun Fatimah berkali-kali meminta untuk melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri.
Fatimah menatap punggung Mark yang menghilang di balik pintu. Perasaannya kini bercampur aduk. Kerinduannya yang sudah lama di pendamnya, ketakutan jika wanita yang di ketahuinya bernama Salma itu adalah pasangan Afif.
Fatimah juga tidak tega jika harus menyakiti perasaan Mark. Lelaki yang sangat baik dan selalu menjaga kehormatannya. Dia menarik napas sambil memejamkan matanya sesaat. Akhirnya dia melangkah menuju kamarnya dan membereskan barang yang akan di bawanya.
...****************...
__ADS_1
Fatimah dan Mark menginjakan kakinya kembali ke tanah air. Rasa haru, rindu dan tak percaya bisa kembali lagi ke tanah air menyelimuti hati Fatimah.
Di tengah kegelisahannya, genggaman hangat di rasakannya. Saat dia menoleh, terlihat senyum manis Mark dengan tatapan teduh penuh cinta.
Fatimah membalas senyum Mark sambil berkata di dalam hati. " Berikanlah yang terbaik untukku ya Rabb. Semoga aku tidak salah dalam mengambil keputusan."
Mereka berjalan keluar dari bandara dengan saling menggenggam. Tampak sebuah mobil mewah sudah menunggu mereka dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung saja ke rumah sakit XX!" perintah Mark kepada supir pribadi yang di kirimkan khusus untuk mereka.
"Baik, Tuan." ucap si supir sambil mengangguk penuh hormat.
Mobil mewah itu pun melaju membelah jalan raya. Mark menggenggam tangan Fatimah semakin erat. Dia sangat mengerti dengan kegelisahan Fatimah. Ada rasa nyeri dan tidak rela di hatinya, jika dia harus melepas wanita yang sudah bertahta di hatinya. Tetapi dia menyadari, jika bukan dia lelaki yang di inginkan oleh wanita yang kini berstatus istrinya.
"Tenanglah! Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menggenggam tanganmu." ucap Mark lembut sambil tersenyum.
"Mark, aku ...."
"Sudahlah! Jangan terlalu tegang semua akan baik-baik saja." Jawab Mark membuat Fatimah melihat ke arah Mark dan menatap dengan mata berkaca-kaca.
Mark menarik napasnya dalam-dalam. "Belum kehilanganmu saja, aku sudah merasakan sakit sekali." Batin Mark. Langsung mengusap kasar air mata yang berusaha menerobos keluar.
Tak lama mobil mereka memasuki halaman rumah sakit. Seketika jantung Fatimah semakin berdetak kencang. Pertemuan dengan cinta pertamanya sekaligus mantan suaminya. Rasa cinta yang tidak akan pernah pudar oleh waktu.
Sepanjang memasuki area rumah sakit, Mark tidak melepaskan sama sekali genggaman tangannya karena dia sangat sadar, jika sebentar lagi dia tidak akan bisa lagi untuk menggenggam tangan Fatimah.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai tepat di sebuah kamar. Mereka terdiam sesaat setelah berada di depan pintu. Mark menoleh ke arah Fatimah dan tersenyum. Perlahan, dia melepaskan genggaman tangannya.
Fatimah hanya mampu terdiam dan menatap nanar ke arah Mark. Sambil tersenyum, Mark membuka pintu kamar perawatan itu membuat jantungnya semakin berdetak lebih kencang.
"Assalamualaikum," ucap Mark, saat pintu terbuka dan mereka kini sudah berada di dalam kamar.
Afif yang sedang terbaring karena pasca operasi pengangkatan peluru dan Salma yang sedang mengupas buah menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." jawab Afif dengan tatapan tidak percaya dengan wanita yang kini berada di hadapannya. Sedangkan Salma menatap bergantian ke arah Afif, Fatimah dan Mark.
Sambil tersenyum Mark mengajak Fatimah melangkah mendekati ranjang Afif. Salma yang sedang duduk langsung berdiri, begitu juga dengan Afif yang langsung membetulkan posisi duduknya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Fatimah. Tampak kerinduan di kedua matanya.
"Aku tidak pernah melihat Afif menatap seseorang seperti ini, apalagi keoada seorang wanita. Apa wanita ini yang di maksud baj*ngan Zaki?" Tanya Salma dalam hati sambil menatap Fatimah.
Fatimah menyadari jika Salma sedang menatapnya. Dia pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, membuat Salma membalas senyuman itu.
"Hai, apa kabar sepupuku?" sapa Mark sambil memeluk Afif.
"Seperti yang kamu lihat." Jawab Afif sambil membalas pelukan Mark.
"Lelaki dengan sembilan nyawa." Mark berkata sambil melepaskan pelukannya dan menepuk pelan pundak Afif.
"Kalau aku tidak punya sembilan nyawa, bagaimana kita bisa bertemu lagi?" jawab Afif, membuat mereka berdua tertawa.
Fatimah dan Salma saling melempar pandang dan tersenyum. Salma berharap jika wanita yang berada di sampingnya, bukanlah Fatimah yang di katakan Zaki. Salma yakin jika Fatimah adalah istri Mark.
Tawa Afif dan Mark terhenti, sambil menarik napas kasar Mark berkata. "Aku rasa ini adalah waktu yang tepat." Perkataan Mark membuat Afif terdiam.
Fatimah tersentak. Dia menatap Mark dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Salma, terdiam dan hanya menatap bergantian ke arah mereka. Rasa takut menyeruak di hati Salma.
"Aku akan mengembalikan dengan apa yang sudah kamu titipkan."
...****************...
Apakah Mark akan mengembalikan Fatimah kepada Afif?
Bagaimana dengan Mark?
Bagaimana juga dengan hubungan Afif dan Salma?
Apakah cinta Afif dan Fatimah akan bersatu?
__ADS_1
Jangan pernah lewatkan kelanjutannya?