Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Salah paham


__ADS_3

Bab 27


Tanpa berpikir panjang, melihat keadaan Fatimah yang sangat mengkhawatirkan, Afif langsung membawa Fatimah ke sebuah hotel mewah dengan kamar VIP. Afif meminta dua karyawan wanita di hotel itu untuk membantu Fatimah lepas dari pengaruh obat perangsang yang sudah di minumnya.


Afif juga meminta salah satu anak buahnya untuk membelikan pakaian lengkap dengan jilbabnya untuk Fatimah. Kini Afif duduk di sofa menatap Fatimah yang masih terlelap di atas ranjang. Rahang wajahnya tampak mengeras, telapak tangannya mengepal kuat, sorot mata penuh amarah membuat wajahnya merah padam.


"Cepat cari tahu, siapa yang sudah berani melakukan ini kepada Fatimah?" Geram Afif, meminta anak buahnya untuk menyelidiki siapa dalang dari kejadian yang menimpa Fatimah.


"Aku tidak akan membiarkan satu tangan siapa pun yang bukan mahram menyentuh tubuhmu! apa lagi tangan kotor lelaki bajing*n itu!" Afif kembali menggeram, seumur hidup baru dia merasakan semarah ini.


Berkali-kali telpon dan pesan di kirimkan Nabila, tetapi Afif tidak menggubrisnya. Dia sudah tidak mempedulikan ancaman dari Nabila, baginya yang terpenting adalah keselamatan Fatimah.


{ Kamu sudah membawa lari calon istri orang }.


Satu pesan dari nomor tak di kenal, membuat Afif menyipitkan matanya, sorot mata yang penuh amarah kini berubah menjadi nanar menatap Fatimah, buliran hangat tanpa permisi kembali menerobos dari sudut mata elangnya.


"Benarkah, kamu akan menjadi milik orang lain? Kenapa sesakit ini? Kenapa lebih sakit dari perceraian kita?" Tanya Afif pada dirinya sendiri, ketakutan kehilangan untuk kedua kali semakin menyelimuti hatinya.


"Siapakah lelaki yang akan menikahimu itu? Apakah lelaki bajingan itu? Aku tidak akan rela jika kamu jatuh ke tangannya?" Pertanyaan Afif pada dirinya sendiri, membuat perasaannya semakin gelisah dan takut, tampak kegusaran di wajahnya.


Sebuah ketukan mengagetkan Afif, dia segera bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang datang dari layar monitor yang tersedia di kamarnya. Ternyata salah satu asisten pribadinya datang bersama Nabila. Sambil menarik napas kasar dia pun segera membuka pintu.


"Jangan ganggu dia! Dia sangat lelah.!" Tegas Afif, saat Nabila menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Nabila mengerutkan keningnya dan melangkah menuju ruang tidur. Dia tercekat saat mendapati Fatimah yang sedang terlelap di bawah selimut tebal, menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai batas leher, hanya bagian wajahnya saja yang terlihat.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Tanya Nabila penuh amarah.


"Kamu pikir apa yang di lakukan jika sepasang manusia yang berlawanan jenis berada di hotel dan di dalam satu kamar?" Jawab Afif santai, membuat wajah Nabila semakin memerah. Dia pun langsung mendekati Fatimah yang masih terlelap.


"Wanita jal*ng! bangun kamu!" Nabila menarik selimut Fatimah dan dengan kasar.tangan Fatimah langsung di tariknya, membuat Fatimah tersadar dari tidurnya.


"Nabila, apa yang kamu lakukan?" Afif mendorong kasar tubuh Nabila sampai tersungkur ke lantai. Dia langsung memeluk Fatimah dan memastikan jika keadaan Fatimah baik-baik saja.

__ADS_1


.


"Fatimah, ksmu tidak apa-apa?" Tanya Afif dengan wajah cemas.


Fatimah yang baru saja tersadar, mencoba mengumpulkan ingatannya. Dia ingat saat itu Arsyad mengajaknya untuk makan malam dengan alasan akan bertemu dengan seorang WO yang akan membantu acara pernikahan mereka.


Fatimah juga ingat, saat dia meminum segelas minuman yang di sajikan, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, hawa panas langsung menyerang tubuhnya. Dia merasakan keanehan menjalar di seluruh aliran darahnya. Membuat sesuatu yang tidak pernah di rasakannya selama ini seakan minta untuk segera di keluarkan. Terakhir yang dia ingat saat Arsyad memeluk tubuhnya dan mencoba menci*umnya, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


Fatimah merasakan seperti mimpi sebuah pelukan hangat dari tangan yang selama ini di rindukannya ternyata sangat nyata. Apa lagi mendengar suara bariton yang sangat dekat di telinganya.


"Mas Afif" ucap Fatimah setelah tersadar jika tubuhnya berada di pelukan seorang lelaki, yang kini berstatus mantan suami.


Fatimah segera mendorong kasar tubuh Afif sehingga menjauh, dia langsung menatap keadaan di sekitarnya. Tampak wajahnya sangat shock, saat tersadar jika sudah berada di sebuah kamar yang sangat luas, dia juga semakin bingung dengan kehadiran Afif dan Nabila.


"Ada apa ini? Aku di mana? Kenapa kalian berada di sini?" Tanya Fatimah dengan muka keheranan.


"Dasar wanita munafik! jangan pura-pura bodoh kamu!" bentak Nabila dengan tatapan penuh kebencian.


"Nabila!" Afif menatap nyalang Nabila.


"A-aku tidak melakukan apa-apa, ini fitnah." Fatimah berkata dengan wajah penuh ketakutan, apa lagi kedatangan Arsyad bersama haji Maulana dan Ilham.


"Abi, ini semua salah paham," sanggah Fatimah, air mata sudah membasahi pipinya.


"Kita akan membicarakan ini semua, tetapi tidak di tempat ini!" tegas haji Maulana yang langsung melangkah pergi meninggalkan kamar itu.


Fatimah terdiam seketika, tubuhnya terasa lemas bagaikan tak bertulang. Ini adalah pertama kali Fatimah melihat kemarahan di mata Abinya yang di tujukan kepadanya.


"Fatimah," panggil Ilham lembut sambil mengangguk, mengajak Fatimah menyusul Abi mereka.


"Kenapa kamu harus kembali kesini? Kamu hanya membawa masalah untuk Fatimah dan merusak kebahagiaan kami!" Arsyad mendorong kasar tubuh Afif, tetapi Afif segera menahan tangan Arsyad dan langsung memberikan bogem mentah di wajah Arsyad, membuat sudut bibirnya kembali berdarah karena ulah tangan Afif.


"Kurang ajar!" sergah Arsyad berniat membalas pukulan Afif, tetapi suara Nabila menghentikannya.

__ADS_1


"Cukup! kalian mau babak belur di sini, hah!" teriak Nabila, tampak kemarahan dan frustasi di wajahnya, karena rencananya gagal kembali.


Afif tidak menjawab, dia langsung berlari keluar mengejar Fatimah. Dia sudah tidak peduli lagi janjinya dengan Nabila, ini adalah kesempatan keduanya untuk kembali bersama Fatimah. Dia tidak akan membiarkan Fatimah menjadi milik orang lain terutama harus jatuh ke tangan Arsyad.


Afif sangat mengetahui siapa Arsyad sebenarnya, hubungan Arsyad dengan Sarah, Nabila dan Arman. Apa lagi niat Arsyad memberikan obat perangsang di minuman Fatimah.


"Kamu benar-benar bodoh! membuat rencana kita menjadi gagal." hardik Nabila segera melangkah menyusul Afif.


"Si*l!" umpat Arsyad, segera menyusul langkah Nabila.


*************


Di sebuah rumah sederhana tampak Afif dan Fatimah yang sedang duduk berdampingan di hadapan haji Maulana dan Ilham. Mereka seperti pesakitan yang akan segera di adili.


"Afif, Fatimah, Abi yakin jika kalian tidak melakukan itu semua," haji Maulana berkata sambil menarik napas dan membuangnya kasar.


"Percayalah Abi, kami tidak melakukan apa-apa!" Fatimah berusaha terus meyakinkan Abinya.


"Semua bukti menunjukkan jika kalian ...." Haji Maulana tidak jadi meneruskan perkataannya, dia hanya menghela napas dan mengusap kasar wajahnya.


"Tidak Abi, tolong percaya Fatimah!" Abi pasti mengetahui semua sifat Fatimah dari kecil!" Fatimah terus berusaha meyakinkan haji Maulana. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Mas, tolong beritahu Abi, jika kita tidak melakukan apa-apa!" Fatimah berkata dengan mata penuh permohonan.


"Saya akan bertanggung jawab dengan kejadian semalam antara kami!" tegas Afif, membuat haji Maulana dan Ilham tercekat, sedangkan Fatimah matanya melotot sempurna dan wajahnya memerah. Dia menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang di katakan Afif.


***************


Apa yang akan teejadi selanjutnya?


Akankah Afif dan Fatimah akan kembali bersama lagi?


Kelanjutan dari cerita serunya di bab berikutnyašŸ¤—.

__ADS_1



__ADS_2