Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Misi belajar di pesantren


__ADS_3

Bab 10


Arman tercekat mendengar pengakuan Afif, dia menatap tajam wajah Afif, yang tepat berada di hadapannya.


"Fatimah sudah meminta gue untuk menemui kedua orang tuanya. Itu berarti orang tua loe juga khan?"


Arman kembali tercekat mendengar pernyataan Afif. Dia tidak menyangka, jika Fatimah memberikan ruang untuk seorang lelaki yang baru di kenalnya. Bahkan, lelaki yang sangat jauh dari kriteria keluarga mereka, terlebih sudah adanya sosok Arsyad yang sudah menunggu Fatimah sejak lama.


"Apa loe tahu siapa orang tua kami?" tanya Arman dengan tatapan sinisnya.


"Apa yang akan kamu katakan saat bertemu dengan Abi dan Umiku? dan Apa kamu yakin bisa masuk dan di terima oleh keluarga kami?" tanya Arman lagi, dengan senyum penuh ejekan.


Afif tersenyum smirk menatap Arman.


"Gue emang bukan lelaki baik dan sholeh seperti loe! sebagai seorang muslim gue jauh dari kata sempurna, tetapi loe pasti mengetahui apa itu arti belajar dan hijrah?"


Pertanyaan Afif membuat wajah Arman memerah.


"Buktikan saja jika loe bisa?. Assalamualaikum" ucap Arman, sambil menepuk pundak Afif dan melangkah pergi.


"Waalaikumsalam" jawab Afif.


Afif duduk di depan gazebo, menatap ikan-ikan koi yang berwarna cantik, berenang bebas di dalam kolam, terlihat begitu indah, apa lagi air kolam yang terkena sinar matahari, memantulkan cahaya yang begitu terang.


Afif menarik napas, dan mengusap kasar wajahnya. Dia memikirkan semua perkataan Arman.


"Apa gue bisa masuk ke dalam keluarganya?"


"Apa mereka mau menerima gue untuk Fatimah?"


Afif mengacak rambutnya. Di tengah kegalauannya tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan satu nama membuatnya tersenyum.


"Hallo Fif, loe ada di rumah ga? gue sama Kiki mau meluncur ke sana" terdengar suara Anton di seberang sana.


"Iya, gue standby di rumah. Cepat kalian ke sini! ada yang mau gue omongin!" Afif langsung menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari Anton.


Tak berapa lama, Anton dan Kiki pun sampai di rumah Afif.


"Hai honey, loe kemana aja sie? dari pemakaman Rizky, loe seperti menghindar dari kita?" ucap Kiki, yang langsung duduk di samping Afif.


"Bi Rina lumpuh, gue harus banyak nemenin dia" jawab Afif.


"What!" teriak Anton dan Kiki bersamaan, tepat di samping telinganya.


"Ish, kebiasaan!" dengus Afif kesal, sambil melotot ke arah mereka.


Anton dan Kiki hanya nyengir kuda.


"Sorry honey, bawaan orok" Kiki berkata sambil bergelayut manja di lengan Afif.


"Hmm...kebiasaan" ucap Anton, menatap kesal Kiki.


"Bilang aja loe iri!" Kiki semakin mengeratkan tangannya di lengan Afif.


"Sudah jangan ribut! gue nyuruh loe berdua ke sini mau minta bantuan kalian"

__ADS_1


Perkataan Afif membuat Anton dan kiki tercengang. Mereka bersamaan menatap Afif tak berkedip.


Afif hanya mampu menghela napas, dia tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya ini, kelakuan yang tidak sesuai dengan umurnya.


"Gue serius cuy!" ucap Afif kesal.


"Emangnya loe mau minta bantuan apa Fif? loe mau ngelamar gue? kalau soal itu, loe datang langsung aje ke rumah Emak, Bapak gue!"


Perkataan Kiki membuat Afif mengusap kasar wajahnya.


"Gue mau belajar ilmu agama!"


Anton yang sedang meminum orange jus, langsung tersedak, dan membuat Kiki tercengang menatap Afif.


"Loe ga habis kecelakaan lagi khan Fif?" tanya Kiki, memeriksa wajah, tangan, badan dan kaki Afif.


"Loe apa-apaan sie Ki? geli tau!" sergah Afif sambil menjauhi tubuhnya dari tangan Kiki.


"Tapi suka khan?" goda Kiki, membuat Afif menggelengkan kepalanya.


"Loe serius Fif?" tanya Anton, sambil mengusap bekas jus di sekitar mulutnya.


"Gue serius, kalian punya kenalan ga yang bisa ngajarin gue ilmu dasar agama?"


"Gue ingin belajar ngaji, shalat dan ilmu agama lainnya"


Perkataan Afif, membuat Kiki dan Anton saling tatap dengan ekspresi wajah yang membuat Afif ingin meremas kedua wajah sahabatnya yang antik ini.


"Gue pernah ngaji, tapi dulu, zaman waktu gue SD" ucap Anton.


Afif menghela napas.


"Kalau begitu gimana kalau kita belajar di Pesantren?" tanya Afif sambil tersenyum menatap mereka.


"Hah!" jawab mereka secara bersamaan.


"Kalian tenang aja, selama kita belajar di pesantren, biaya hidup kalian gue yang nanggung, dan gue juga akan gaji kalian, gimana?"


Perkataan Afif kembali membuat mereka berdua tercengang. Mereka hanya saling tatap dengan wajah pasrah, dan senyum pun langsung mengembang di bibir Afif.


******************


Hari ini Afif, Anton dan Kiki sudah sampai di pesantren Darul Hikmah.


Afif mencoba menutupi kegugupannya, sedangkan Anton dan Kiki terlihat sekali ketegangan di wajah mereka.


"Loe serius nie Fif?" tanya Anton, sambil menatap bangunan pesantren yang besar.


"Iya Fif, gue ga yakin dech" timpal Kiki, sambil membenarkan jilbab yang di pakainya.


Afif hanya tertawa kecil menatap mereka, walaupun hatinya begitu gugup.


Saat mereka memasuki gerbang pesantren, mereka di sambut ramah oleh salah satu petugas di sana. Afif menjelaskan maksud dan tujuan mereka, petugas pun mengantarkan mereka menuju kantor pengurus pesantren.


Jantung Afif semakin berdegup kencang, saat melihat wajah lelaki setengah baya yang begitu bersahaja dan seorang lelaki muda yang pernah bertemu dengannya.

__ADS_1


Lelaki muda yang tak lain adalah Ilham, terlihat memicingkan matanya menatap Afif. Sedangkan lelaki setengah baya yang tak lain adalah Haji Maulana tersenyum ke arah mereka, dengan sikap ramahnya mempersilahkan mereka duduk.


Mereka mengenalkan diri mereka, dan Afif pun langsung mengutarakan niat mereka untuk belajar di pesantren.


"Jadi kalian ingin belajar di sini?"


"Iya Pak, tetapi saya sedang mengurus skripsi, apa saya bisa tinggal di pesantren ini sambil bolak balik ke kampus?" tanya Afif, tidak berani menatap ke arah Haji Maulana.


Haji Maulana tersenyum.


"Niatmu sudah sangat baik, belajar untuk meraih dunia dan akhirat. InsyaAllah semua akan di permudah" jawab haji Maulana dengan mata teduhnya.


"Pantas saja Fatimah mempunyai mata yang teduh, sama seperti Bokapnya" ucap Afif di dalam hati. Kembali wajah Fatimah hadir di pelupuk matanya, membuatnya tersenyum bahagia.


"Fif" Kiki menyenggol lengan Afif, membuatnya tersadar dari pikirannya.


Afif teelihat gugup, Ilham terus menatap Afif penuh selidik.


"Nak Kiki maaf, tidak baik jika seorang wanita duduk berdekatan dengan lelaki yang bukan mahramnya" ucap Haji Maulana sambil tersenyum.


"I-iya pak Haji" ucap Kiki gugup, langsung duduk menjauh dari Afif.


"Saya akan mengenalkan nak Kiki dengan putri saya Fatimah"


Deg...


Mendengar nama Fatimah, membuat aliran darah Afif langsung berhenti. Jantungnya berdetak kencang.


"Baru mendengar namanya aja, sudah bikin gue deg-degan" ucap Afif di dalam hati.


"Ini putra saya Ilham, dia akan membantu kalian selama belajar di pesantren ini" ucap Haji Maulana, sambil memegang pundak Ilham yang berada di sampingnya.


Ilham tersenyum dan mengangguk ke arah mereka.


"Oh, namanya Ilham" ucap Kiki tanpa sadar, membuat Afif melotot ke arahnya.


Kiki langsung menutup mulutnya dan tersenyum malu. Haji Maulana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu tunggu di sini nak Kiki, putri saya Fatimah yang akan mengantarmu" ucap Haji Maulana, di balas anggukan oleh Kiki.


"Mari saya antar" ucap Ilham, langsung bangkit dari duduknya, begitu juga Afif dan Anton, bertepatan dengan datangnya seorang wanita.


"Assalamualaikum"


Deg....


**********************


Berhasilkah misi Afif untuk belajar agama sekaligus mendapatkan cinta Fatimah?


Bagaimana mereka menghadapi hari-hari di pesantren?


Ikuti kisah perjuangan Afif dalam memperjuangkan seorang wanita muslimah 🥰🤗


__ADS_1


__ADS_2