
Bab 35
Nabila dengan mata berkaca-kaca melirik ke ranjang sebelah di mana terlihat Fatimah yang masih tak sadarkan diri. Sebuah penyesalan seketika menyeruak di relung hatinya, jika benar memang mereka mempunyai hubungan dar*h.
"Apa benar, aku dan dia ada hubungan dar*h?" Tanya Nabila kepada dirinya sendiri, sambil memejamkan matanya, menahan sesak yang kini menghimpit dadanya.
Sementara itu Afif yang sudah mendapatkan beberapa helai rambut Nabila dan Fatimah dari sisir yang mereka pakai, tampak sedang bebicara serius dengan seorang dokter yang bertugas di rumah sakit itu.
"Biasanya hasil DNA akan keluar sekitar satu atau dua minggu lagi, tetapi kami akan berusaha secepatnya," ucap dokter yang bernama Soni.
"Baik Dok, segera beritahu saya jika sudah ada hasilnya." Afif berkata sambil menghela napas, kegelisahan semakin terlihat di wajahnya.
"Tuan, maaf ada polisi yang mencari anda," ucapan Dion membuat Afif tersentak. Dia menatap ke arah dua orang berpakaian seragam kepolisian.
"Maaf Tuan, kami meminta waktunya sebentar mengenai kasus kecelakaan yang menimpa Nyonya Fatimah dan keluarganya." Perkataan polisi membuat Afif tersentak, walaupun dia sudah menyuruh Dion untuk menyelidiki penyebab kecelakaan itu.
Seketika wajahnya memerah, dia sangat yakin jika kecelakaan yang baru saja terjadi dan merenggut nyawa dua orang yang di cintainya adalah hasil sabotase.
"Menurut penyelidikan yang kami lakukan, ada keganjilan pada rem mobil. praduga kami mengatakan jika ada yang memotong kabel dari rem mobil dengan sengaja. Sehingga pengemudi tidak bisa mengendalikannya." Penjelasan polisi membuat Afif semakin yakin, siapa saja dalang dari semuanya.
"Kami masih terus menyelidiki dan menggali informasi kasus ini Tuan," ucap polisi lagi.
"Baiklah pak, saya juga akan membantu kepolisian untuk mencari bukti-bukti. Setelah prosesi pemakaman selesai, saya akan segera ke kantor polisi," ucap Afif mencoba menahan kemarahan di dadanya.
"Baik, Tuan! Kalau begitu kami permisi dulu," ucap petugas kepolisian.
"Terima kasih pak." Afif menjawab sambil mengangguk dan petugas polisi pun berlalu dari hadapan Afif.
************
Setelah memastikan keadaan Fatimah dan Aisyah baik-baik saja, Afif segera menuju ke pemakaman. Nabila sendiri memilih untuk menemani Fatimah. Setelah mengetahui jika mereka mempunyai golongan dar*h yang sama, Nabila merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, dia seperti ada ikatan batin dengan Fatimah.
Afif membiarkan Nabila menjaga Fatimah, karena ruang perawatan yang Fatimah tempati sudah terjamin keamanannya. Cctv di kamar itu juga terhubung ke ponsel Afif.
Nabila menatap nanar wajah Fatimah yang masih tak sadarkan diri dengan mata yang terpejam sempurna. Terlihat wajahnya yang teduh dan damai seperti orang yang sedang tertidur pulas.
"Pantas saja Afif jatuh cinta kepadamu, wajahmu benar-benar memancarkan cahaya cinta dan ketenangan." Nabila berkata sambil membelai lembut wajah Fatimah, tak lama terlihat mengerjapkan matanya dan terlihat ada gerakan di jemarinya.
__ADS_1
"F-Fatimah!" seru Nabila, dengan binar haru dan bahagia. Dia segera memencet tombol darurat panggilan.
Tak lama dokter dan perawat masuk ke kamar Fatimah dan segera memeriksa keadaan Fatimah. Setelah hampir setengah jam melakukan pemeriksaan, tampak mata Fatimah yang kembali menutup sempurna seperti seseorang yang sangat mengantuk dan enggan untuk membuka mata.
"Dokter, kenapa Fatimah belum juga sadar? Tadi saya lihat jika dia mengerjapkan mata dan jemarinya bergerak." Nabila bertanya dengan wajah cemas dan tidak mengerti.
Dokter menghela napas dan berkata. "Sepertinya Nyonya Fatimah mengalami trauma psikis yang membuatnya tidak ingin membuka matanya."
"Mungkin, beberapa kejadian yang menimpanya membuat pasien enggan untuk membuka mata." Jelas dokter, membuat Nabila mengerutkan keningnya.
"Seperti kehilangan orang-orang yang di cintainya atau kejadian-kejadian yang membuat hatinya terluka." Jelas dokter lagi.
"Kami permisi dulu Nyonya, jika ada apa-apa segera hubugi kami." ucap dokter sambil tersenyum dan mengangguk. Nabila pun membalas hanya dengan sebuah anggukan.
Penjelasan dokter membuat Nabila tercekat, buliran bening langsung membasahi wajahnya. Rasa sesal kembali memasuki relung hatinya. Bayangan beberapa kejadian yang membuat psikis Fatimah trauma sangat jelas di ingatannya.
"Maafkan aku, Fatimah!" ucap Nabila di dalam hati, sambil menatap nanar Fatimah.
Saat Nabila sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mengusap kasar air matanya, saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Maaf aku tidak bisa ikut lagi dalam rencana ini! Aku mundur!" tegas Nabila langsung menutup ponselnya.
Nabila langsung memejamkan matanya sesaat, dadanya terasa sesak. Perlahan dia melangkah mendekati Fatimah, duduk di sampingnya dan kembali menggenggam erat jemari Fatimah.
"Fatimah, maafkan aku! Mulai hari ini aku berjanji akan melindungimu dari mereka," ucap Nabila, sambil kembali terisak.
"Bangunlah, Fatimah! Afif membutuhkanmu." Nabila berkata dengan suara parau.
***********
Selesai prosesi pemakaman, Afif langsung menuju ke kantor polisi. Setibanya di sana, polisi langsung memberikan beberapa berkas dan beberapa foto rem mobil yang mengarah adanya kejanggalan yang terjadi. Mereka sampai saat ini belum bisa meminta keterangan dari supir yang kini dalam keadaan kritis.
Afif menarik napas kasar, dia pun memberikan beberapa bukti yang dia punya. Akhirnya polisi pun mendapatkan titik terang untuk kasus kecelakaan yang di curigai adanya sabotase.
Setelah selesai urusannya di kantor polisi, Afif segera menuju ke rumah sakit. Dia terlebih dahulu melihat kondisi sang supir yang masih dalam keadaan koma, menurut dokter terjadi pendarahan di otaknya, hanya 40 % bisa bertahan hidup.
"Berikan pengobatan yang terbaik dok! Berapa pun biayanya saya yang akan menanggung." Jelas Afif di jawab anggukkan oleh dokter.
__ADS_1
Afif segera ke kamar perawatan Aisyah, tampak Aisyah yang sedang di suapi perawat.
"Abi Afif," seru Aisyah saat Afif sudah berada di samping ranjang Aisyah. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Afif dan terdengar Isak tangisnya.
"Bagaimana keadaan umi Fatimah, kak Rio dan bi Rina?" Tanya Aisyah di sela tangisannya.
"Selesaikan makanmu dulu, setelah ini kita akan bertemu dengan umi Fatimah." ucap Afif sambil mengusap lembut rambut Aisyah.
"Siap Abi, aku ingin bertemu dengan umi Fatimah." Aisyah berkata dengan binar kebahagiaan dari mata dan wajahnya. Suapan demi suapan dari perawat dengan lancar masuk ke dalam mulut dan lambungnya.
Setelah menghabiskan makannya, dengan izin rumah sakit Afif mendorong kursi roda Aisyah dan membawanya menuju ke ruangan Fatimah.
Ketika sudah sampai di ruang Fatimah, tampak Aisyah yang terkejut melihat keadaan Fatimah yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Abi, umi Fatimah kenapa?" Tanya Aisyah yang sudah mulai menangis.
"Cantik, umi Fatimah baik-baik saja. Umi hanya tertidur sebentar, apa Aisyah bisa membangunkan umi?" Tanya Nabila lembut, mengusap rambut Aisyah.
Aisyah tersenyum dan mengangguk. Afif segera mendorong kursi roda Aisyah mendekati Fatimah.
"Assalamu'alaikum umi, ini Aisyah," Aisyah berkata sambil memegang lengan Fatimah.
"Bangun umi, jangan tinggalkan Aisyah," suara Aisyah mulai terdengar parau, air mata sudah kembali membasahi wajahnya.
Terdengar isak tangis Aisyah yang memilukan, jemari Fatimah terlihat mulai bergerak kembali dan matanya kini mulai terbuka perlahan.
***************
Masih ada rahasia besar hubungan antara Fatimah dan Nabila?
Siapa yang menelpon Nabila?
Kejahatan apa yang sedang di rencanakan untuk kehancuran Afif dan Fatimah?
Ikuti bab selanjutnya 🤗.
__ADS_1