Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Rumah tua


__ADS_3

Bab 60


"Kenapa kamu melakukan hal yang sangat bodoh? Aku sudah menggantikan posisimu!" Arsyad bertanya dengan tatapan tajam ke arah Afif.


"Aku ingin menyelamatkannya," ucap Afif, menyesap secangkir kopi yang berada di atas meja mereka.


Afif dan Arsyad kini sedang berada di sebuah kedai kopi yang berada di sekitar daerah dekat lautan. Arsyad mendengkus, Rasa kesalnya terhadap Afif, membuatnya merasa sia-sia telah menggantikan Afif sebagai pemuas nafsu para maniak se* itu.


"Apa wanita penghibur itu lebih istimewa dari pada Fatimah?" Tanya Arsyad kembali, sambil terus menatap tajam Afif.


Pertanyaan Arsyad membuat wajah Afif seketika memerah. Dia membalas tatapan tajam Arsyad. Tampak kilatan amarah di bola matanya.


"Jangan pernah membawa nama Fatimah dalam masalah apapun!" geram Afif, yang mulai merasakan sesak di dadanya.


Mendengar nama Fatimah, membuat rasa bersalah dan rasa sakit merasuki hatinya. Keputusannya menggantikan Salma sebagai pemuas nafsu bejat Sony dan tuan Aslan, itulah akhir keputusannya untuk melupakan dan menghilangkan Fatimah dari hidupnya.


"Apa yang kamu sembunyikan sebenarnya? Siapa Salma?" Arsyad menatap tajam Afif. Dia tidak menyangka jika Afif akan melakukan hal bodoh untuk wanita asing yang baru saja di kenalnya. Bahkan, wanita itu hanyalah wanita penghibur dari negara asing.


Pertanyaan Arsyad, membuat emosi Afif meledak. Dia menatap Arsyad tak kalah tajamnya. Dia mencengkram kuat kerah kemeja Arsyad, sehingga mengundang perhatian beberapa pengunjung di kedai kopi itu.


Saat Afif ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba sebuah pesan berisi video masuk ke dalam ponselnya. Dia pun segera melepas kasar kerah kemeja Arsyad, membuat tubuh Arsyad sedikit terdorong, sehingga punggungnya terhempas kuat mengenai sandaran kursi, membuatnya meringis kesakitan.


Seketika mata Afif membulat sempurna, saat melihat sebuah video dewasa berisi adegan panas, di mana sang wanita adalah Salma. Sementara, lelaki yang sedang menikmati tubuh Salma tidak memperlihatkan wajahnya.


Afif memicingkan matanya, memperhatikan secara detail siapa lelaki itu?. Rahang Afif seketika mengeras dengan sorot mata memerah. Arsyad yang penasaran, segera merebut ponsel Afif. Dia pun terkejut dengan video yang di lihatnya.


Afif merebut kembali ponselnya dari tangan Arsyad. Dia segera beranjak dari duduknya dan langsung melangkah pergi tanpa mengatakan apapun. Arsyad segera berlari menyusul langkah lebar Afif.


"Aku ikut!" ucap Arsyad, yang langsung duduk di belakang motor Afif.

__ADS_1


Afif yang sedang menyalakan motornya tidak menjawab. Tampak sorot mata dan wajahnya merah padam karena menahan gemuruh amarahnya. Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi.


...****************...


Beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua yang cukup besar dengan dua lantai, yang letaknya jauh dari pemukiman warga. Arsyad mengerutkan keningnya menatap bergantian Afif dan rumah tua itu. Dia ingin sekali bertanya, tetapi, ekspresi Afif membuat dia mengurungkan niatnya.


Arsyad mengikuti langkah Afif mrmasuki rumah tua yang seperti sudah sangat lama tidak terurus. Terlihat, banyaknya tanaman liar dan rumput-rumput yang menjulang tinggi, serta cat rumah yang banyak mengelupas. Tampak beberapa bagian rumah seperti bekas terbakar.


"Keluar kamu, pengecut! Jangan hanya berani sembunyi di balik topengmu!" teriak Afif, saat mereka sudah berada di dalam rumah.


Arsyad tersentak dengan teriakan Afif memanggil seseorang. Dia mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan yang gelap karena tidak adanya pencahayaan. Bulu kuduknya sedikit meremang, karena suasana rumah yang begitu mencekam.


"Aku pikir, hanya Fatimah yang bisa membuatmu melakukan apa saja! Ternyata pelac"r murahan ini sudah membuatmu bertekuk lutut!" Sebuah suara tiba-tiba terdengar bersamaan dengan menyalanya lampu di ruangan itu.


Tampak seorang lelaki memakai topeng sedang berdiri bersama seorang wanita yang sedang duduk di bangku, sambil memainkan sebuah boneka dengan pakaian yang lusuh dan kotor, serta rambut yang acak-acakan. Bahkan, sebagian menutupi wajahnya.


Mereka tersentak, terutama Afif. Dia menatap tajam ke arah wanita yang seperti sedang bernyanyi, tanpa terdengar suara yang keluar dari mulutnya, sambil menimang bonekanya, seolah-olah boneka itu adalah bayi untuknya


Wanita itu seketika menghentikan gerakannya, saat mendengar suara Afif memanggilnya. Wanita itu segera mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Afif, membuat Afif dan Arsyad terperanjat karena wajah wanita itu rusak, wanita itu langsung berdiri dan boneka yang di bawanya seketika lepas dari tangannya.


 Terlihat kulitnya yang terkelupas dengan mata sebelah kanan yang hampir tertutup dan bibir yang tak terbentuk. Begitu juga dengan bagian tubuh lainnya yang rusak karena luka bakar. Tampak wanita itu menatap tak percaya ke arah Afif.


Terlihat keringat dingin membasahi wajah dan tubuh Arsyad yang menggigil ketakutan. Baginya wanita di hadapannya seperti sosok hantu wanita. Berbeda dengan Afif, di tengah keterkejutannya, matanya berkaca-kaca dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


Melihat keadaan wanita yang di panggil Arini itu, membuat hati Afif terasa sangat pilu. Perlahan, dia melangkah mendekat ke arah lelaki bertopeng itu dan wanita dengan luka bakar. Arsyad dengan ragu dan kaki bergetar mengikuti Afif dari belakang.


"Arini," Afif kembali memanggil wanita itu, membuat bibir yang tak berbentuk itu bergetar. Tampak buliran bening bermuara di matanya yang menyeramkan dan buliran itu pun jatuh membasahi kulit wajahnya yang rusak. Terlihat juga sebuah kerinduan di matanya.


"Apa yang terjadi kepadamu, Arini?" Tanya Afif dengan suara bergetar.

__ADS_1


Afif semakin mendekati wanita yang bernama Arini itu, membuat Arini melangkah mundur, buliran bening semakin membasahi wajahnya, tetapi suara isakan itu tidak terdengar. Seolah-olah dia menangis dalam diam.


"Berhenti!" Teriakan lelaki bertopeng itu menghentikan langkah Afif. Terlihat Arini kini berada di dalam pelukan lelaki itu.


"Katakan, apa yang sudah terjadi kepada Arini? Kenapa dia bisa jadi seperti ini?" Tanya Afif dengan dada yang sesak. Bertahun-tahun Arini menghilang, bahkan di nyatakan tewas. Namun hari ini, dia di pertemukan kembali dengan Arini dengan keadaannya yang sangat memilukan.


"Kamu masih mengenalinya? Apa pedulimu kepadanya, hah!" teriak lelaki bertopeng itu dengan suara penuh amarah.


"Selama ini, aku tidak menyangka jika Arini masih hidup. Kecelakaan itu ...." Afif tidak meneruskan kata-katanya, dia menatap nanar ke arah Arini yang terus mendekap erat tubuh lelaki yang bersembunyi di balik topengnya.


Afif teringat, saat dia ingin mengejar Nabila ke bandara. Saat itu dirinya bersama Arini. Namun naas, mobil yang berkecepatan tinggi itu tidak bisa di rem, sehingga Afif tidak bisa di kendalikan.


Sampai akhirnya mobil yang di tumpangi mereka menabrak pembatas jalan dan tidak bisa di hindari, mobil mereka pun jatuh ke dasar jurang.


...****************...


Siapakah sosok Arini dan lelaki bertopeng itu?


Bagaimana nasib Salma?


Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kehidupan Afif?


Bagaimana dengan kehidupan Fatimah sendiri bersama Mark?


Tunggu jawabannya di kisah selanjutnya 🤗.


Sebelumnya author mau mengucapkan maaf, karena real hidup, membuat kelanjutan novel ini jadi tersendat.


Terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan karya-karya author 🙏.

__ADS_1



__ADS_2