Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Pengorbanan Arini


__ADS_3

Bab 63


"Kita akan pergi bersama Arini, ayo kita keluar sekarang!" Afif segera menarik tangan Arini.


Arini hanya terdiam sambil menatap lekat Afif dengan mata berkaca-kaca, sambil berkata, "aku akan ikut denganmu, setelah kamu membersihkan diri dan mengganti pakaianmu!"


Afif mengerutkan keningnya menatap Arini. Dia yakin jika Arini sedang merencanakan sesuatu, karena mereka bersahabat sangat lama dan Afif sangat mengenal Arini, gadis cerdas yang selalu mengambil keputusan atau membuat rencana yang sudah dipikirkan matang-matang.


Afif menghela napas sambil membawa pakaian yang di berikan Arini menuju kamar mandi yang letaknya sudah di beritahu oleh Arini. "Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan dan keselamatanmu Afif." Arini berkata di dalam hati sambil menatap nanar punggung Afif yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, Afif sudah berganti pakaian dan kini sudah berada di hadapan Arini. Dia segera mengajak Arini keluar dari rumah tua itu. Arini hanya diam, dia terus menatap punggung Afif yang sedang melangkah lembar sambil memegang tangannya.


Seulas senyum mengembang di bibir Arini yang hampir tidak berbentuk. Dia merasakan kehangatan setiap kali bersama Afif. Namun sayang, dia tidak pernah berani untuk mengatakannya.


Kini mereka sudah berada di luar rumah tua, bertepatan dengan beberapa petugas kepolisian. Terlihat juga ambulans yang sudah sampai di sana dan segera membawa tubuh Arsyad ke rumah sakit.


"Afif!" panggil Salma sambil memeluk erat tubuh Afif.


"Aku takut sekali kita tidak bisa bertemu lagi," ucap Salma sambil terisak di pelukan Afif.


Arini menatap Afif dan Salma dengan mata berkaca-kaca. "Dulu, saat fisik dan kehidupanku masih sempurna, aku tidak pernah berani mengungkapkan rasa ini. Apalagi sekarang sangat tidak mungkin dengan keadaanku seperti ini." batin Arini, merasakan keberuntungan tidak pernah berpihak kepadanya.


"Mohon maaf pak Afif, kami menemukan jenazah tuan Zaki yang merupakan buronan yang sedang kami cari." jelas seorang petugas kepolisian yang menghampirinya mereka.


Petugas kepolisian itu menatap Arini dengan tatapan aneh dan penuh tanda tanya. Tetapi, polisi itu lebih berfokus dengan jenazah Zaki.


"Kami sangat membutuhkan keterangan dan kesaksian dari kalian semua. Silahkan, ikut kami ke kantor!" polisi berkata sambil mengusap kasar wajahnya dan kembali menatap Arini.


"Zaki mati di tangan saya, Pak." Ucap Arini sambil mengeluarkan sebilah pisau yang berlumuran dar*h. Walaupun, Arini mengalami kerusakan di bibir, tetapi kebakaran itu tidak merusak pita suaranya. Sehingga suara Arini terdengar jelas.


Afif terkejut dengan perkataan Arini begitu juga dengan Salma, yang memilih terus berada dalam pelukan Afif.


"Saya sudah membunuhnya, Pak." ucap Arini lagi sambil menyerahkan pisau berlumuran dar*h itu.


Polisi itupun memberi kode kepada beberapa kawannya dan mereka pun segera mendekat. Mereka segera mengamankan pisau itu dengan prosedur keamanan. Sehingga tidak membuat sidik jari mereka tertinggal di pisau itu.

__ADS_1


Petugas polisi itu pun langsung memborgol tangan Arini yang penuh luka bakar. Tanpa mereka sadari ada sebuah peluru yang di tembakkan dari jarak jauh, tampak meluncur ke arah Afif. Namun dengan sigap dan tangan terborgol Arini langsung memasang badan tepat di depan Afif.


Seketika itu juga tubuh Arini ambruk bersimbah dar*h. Afif langsung mendorong tubuh Salma dan segera memegang tubuh kurus dan penuh luka bakar itu. Kini tubuh Arini sudah berada di pangkuan Afif. Para petugas polisi segera melacak tempat di mana peluru itu berasal.


"Bertahanlah Arini! Kita akan segera ke rumah sakit." ucap Afif yang hendak berdiri dan menggendong tubuh Arini.


"Tidak, Afif! Semua sudah berakhir." cegah Arini dengan suara lemah, sambil menahan lengan Afif.


"Aku akan benar-benar pergi untuk selamanya," ucap Arini dengan napas tersengal-sengal.


"Berjanjilah kepadaku, jika kamu akan berusaha meraih kebahagiaanmu." Arini kembali berkata dengan suara semakin lemah, bahkan nyaris tak terdengar.


"Berhentilah, berbicara Arini!" teriak Afif frustasi.


Terlihat senyum samar di bibir hancur Arini sambil berkata dengan napas yang semakin lemah. "Aku mencintaimu, Afif." Arini berkata, sambil menekan remote kecil yang sejak tadi di genggamannya.


Remote yang di ambil dari kantong bajunya, bersama dengan pisau yang sudah berlumuran dar*h. Mata Arini terpejam dan napasnya berhenti bersamaan dengan meledaknya rumah tua itu. Mereka semua melindungi diri dari serpihan bangunan yang hancur.


Salma yang kaget langsung menjerit dan memeluk tubuh Afif yang sedang berjongkok sambil memangku jenazah Arini. Afif memejamkan mata, hatinya bagaikan tertusuk sembilu. Arini yang di pikir sudah meninggal bertahun-tahun akibat kecelakaan bersamanya ternyata masih hidup dalam keadaan yang menyedihkan.


Afif juga tidak menyangka, jika Arini sahabat baiknya ternyata mencintainya, ucapan di saat terakhir napasnya. Perasaan benci, marah, sedih dan kecewa kini melebur jadi satu di hatinya.


Tak lama waktu berselang, ambulans pun datang kembali membawa jenazah Arini. Afif dan Salma ikut di mobil polisi yang bertugas menuju rumah sakit. Sementara sebagian polisi masih berada di tempat kejadian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, sedangkan petugas kepolisian lainnya masih terus melakukan pengejaran kepada orang yang telah melakukan penembakan.


...****************...


Afif terdiam menatap tubuh Arsyad dalam keadaan koma. Selain mengeluarkan banyak dar*h, luka tusuk pada tubuh Arsyad sangat banyak dan dalam sehingga membuatnya koma.


"Afif, polisi bilang jenazah Arini sudah siap untuk di kuburkan," ucap Salma, sambil memegang pelan pundak Afif.


Afif menghela napas dan mengusap kasar wajahnya. Dia hanya tersenyum samar sambil menatap Salma sesaat. Kemudian melangkah menuju ambulans yang akan membawa tubuh Arini ke peristirahatan terakhirnya. Salma hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca mengikuti langkah lebar Afif.


Prosesi pemakaman Arini di jaga ketat oleh aparat kepolisian, mengingat jika Afif menjadi target pembunuhan.


Tidak membutuhkan waktu lama prosesi pemakaman Arini pun selesai. Afif menarik napasnya kasar, sambil bersimpuh dia menatap tanah merah yang masih basah itu dengan nisan kayu bernamakan Arini.

__ADS_1


"Tuan Afif, bisa ikut ke kantor? Ada yang ingin kami bicarakan," ucap salah satu polisi yang menangani kasus Zaki.


Afif segera berdiri sambil mengibaskan tanah merah yang menempel di celana jeans bagian lututnya. Salma terus berada di samping Afif tanpa membuka suaranya. Dia merasakan seolah-olah Afif tidak mempedulikan kehadirannya.


"Baik pak, saya akan segera ke sana," jawab Afif sambil mengangguk.


"Kalau begitu, silahkan ikut di mobil kami. Demi keselamatan kalian." ucap polisi sambil melangkah pergi di ikuti Afif dan Salma.


...****************...


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di kantor polisi. Afif dan Salma segera di bawa ke ruang yang sangat pribadi.


"Tuan Afif, orang-orang yang mengincar anda merupakan penjahat kelas kakap yang sudah lama kami incar dan beberapa di antara mereka merupakan residivis yang selama ini kami cari." jelas polisi menatap Afif dan Salma bergantian.


"Apa yang bapak inginkan dari saya?" tanya Afif menatap polisi yang sedang duduk di depannya.


"Saya ingin anda bekerja sama dengan kami!"


...****************...


Apakah Afif bersedia bekerja sama dengan para polisi?


Bagaimana nasib Arsyad yang sedang koma?


Bagaimana juga kelanjutan hubungan Afif dan Salma?


Apakah Afif akan memenuhi janjinya kepada Salma?


Bagaimana kehidupan Fatimah dan Mark di Jerman?


Bab semakin seru dan menuju tamat.


Mohon maaf author tidak bisa up sampai enam hari. Terima kasih sudah membaca dan menunggu karya recehku 🙏.


Semoga novel ini cepat tamat dan bisa buat nogel baru 😍

__ADS_1


__ADS_2