Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Aku bukan suami yang sempurna


__ADS_3

Bab 20


"Nabila!" seru Afif menatap tajam ke arah wanita seksi yang sedang berdiri sambil tersenyum menatap mereka.


"Hallo Afif, apa kabar sayang?" Nabila bertanya sambil melangkah mendekati Afif. Dia mencoba menyentuh wajah Afif, tetapi dengan kasar Afif menepisnya. Sedangkan Fatimah mencoba menahan emosinya.


"Bagaimana kabarmu setelah menikah dengan bidadari tak bersayap ini?" Nabila kembali bertanya, sambil tersenyum sinis menatap Fatimah.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" Tanya Afif, dengan wajah mulai memerah.


"Tenang sayang, tidak perlu emosi! aku ke sini hanya ingin melihat keadaanmu." Nabila kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Afif.


"Wanita berkelas itu adalah wanita yang mempunyai malu, bukan wanita dengan mudah memberikan rayuan terhadap lelaki yang bukan mahramnya, apa lagi terhadap lelaki yang beristri!" tegas Fatimah, yang langsung menarik kursi roda Afif menjauh dari Nabila.


Nabila kembali tertawa sinis, menatap nyalang Fatimah. Dia menatap Fatimah dari ujung kepala sampai ujung kaki, senyum hinaan tampak di wajahnya.


"Kamu itu tidak pantas menjadi istri seorang Afif Abizar! kamu itu harusnya sadar diri, kalau kamu itu bukan type Afif dan tidak pantas mendampinginya!" Nabila berkata dengan tatapan jijik.


"Nabila, cukup!" Bentak Afif.


"Pergilah dari sini! kami ingin beristirahat!" tegas Afif langsung memeluk pinggang Fatimah, mrmbuat wajah Nabila merah padam.


"Wanita ini hanya membawa sial dalam hidupmu, Afif! kamu lihat keadaanmu sekarang! baru hitungan jam menikah, kalian sudah mengalami kecelakaan, Papahmu meninggal dan kamu lihat keadaanmu yang lumpuh ini! Itu semua karena dia!" teriak Nabila sambil menunjuk ke arah Fatimah.


Afif menarik napas kasar, kemudian berteriak memanggil security yang bertugas di rumahnya. Dia meminta para security itu untuk membawa Nabila keluar. Tak lama dua seorang security datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Jangan sentuh! Aku bisa berjalan sendiri!" hardik Nabila kepada kedua security itu.


"Denger Afif! kamu akan menyesal dengan keputusan yang kamu ambil!" Nabila berkata, sambil mendorong kasar tubuh Fatimah yang langsung di peluk Afif. Dia pun melangkah pergi dengan amarah dan dendam di hatinya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Afif khawatir.


"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir" jawab Fatimah tersenyum.


"Kita istirahat sekarang" ajak Afif yang di jawab anggukan oleh Fatimah.

__ADS_1


****************


Nabila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, wajahnya terlihat tegang dan memerah. Dia terus mengumpat dan berteriak merutuki Afif dan Fatimah. Terkadang tangannya memukul setir mobil.


"Kamu lihat Afif, aku akan membuatmu kembali bertekuk lutut dan meminta aku kembali.!" Geram Nabila, terlihat sebuah seringai licik tersungging di bibirnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Nabila memasuki rumah yang sangat luas dan mewah, Sebelum memasuki halaman parkir, Nabila memperlihatkan dulu kartu pengenalnya dan barulah dia di perbolehkan masuk. Setelah memarkirkan mobil, dengan tergesa-gesa dia segera melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Di ruang tamu, sudah menunggu dua orang lelaki muda dan satu wanita muda yang berpenampilan sangat seksi dengan warna bibir merah menyala.


Nabila langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Tampak wajahnya yang masih memerah dan dadanya terlihat naik turun menahan amarah, dengan menatap bergantian mereka yang berada di hadapannya. Tampak lelaki berwajah arab yang tak lain adalah Arsyad mendekati Nabila dan duduk segera di sampingnya.


"Hai, kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Arsyad sambil membelai rambut panjang Nabila.


Nabila tidak menjawab pertanyaan Arsyad, dia menatap tajam lelaki yang berada di hadapannya, yang tak lain adalah Arman.


"Katakan kepadaku, apa kelebihan adikmu itu di banding aku?" Tanya Nabila dengan tatapan tajamnya ke arah Arman. Pertanyaan Nabila membuat Arman menghela napas


"Fatimah mempunyai banyak kelebihan yang tidak bisa di jelaskan satu persatu, dari dulu banyak sekali lelaki yang ingin memperistrinya, jadi tidak heran jika Afif jatuh cinta kepadanya" jelas Arman, membuat Nabila semakin emosi.


"Betul, sampai sekarang saja aku masih menginginkan Fatimah" jawab Arsyad, masih membelai dan menci*m rambut Nabila.


"Ayolah Nabila, kita lupakan sejenak Afif dan Fatimah" ucap Arsyad kembali mendekati Nabila, bahkan, sekarang sudah memeluk erat tubuh Nabila.


"Aku sedang tidak berselera, kamu bisa melakukannya dengan Sarah!" tolak Nabila, kembali menjauhkan tubuhnya dari Arsyad, yang sudah di selimuti nafsu.


Wanita dengan bibir merah menyala itu yang tak lain adalah Sarah tersenyum miring, sedangkan Arman hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arsyad. Penolakan Nabila membuat Arsyad kesal, tanpa bicara dia langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Sarah.


Arsyad langsung menarik kasar tangan Sarah, dan memeluk dan menci*m bibir Sarah dengan rakus yang langsung di balas oleh Sarah. Arsyad langsung membawa Sarah ke lantai dua menuju kamarnya. Nabila dan Arman hanya menghela napas melihat tingkah laku mereka.


***************


Sementara itu di kediaman Afif, usai melaksanakan shalat ashar, Fatimah membawa Afif ke taman belakang belakang yang di penuhi oleh beraneka ragam tumbuhan dan bunga-bunga yang berwarna sangat cantik, serta sebuah kolam ikan yang besar di lengkapi oleh air mancur, dengan beraneka ragam ikan koi di dalamnya.


Fatimah duduk di tepi kolam ikan, dengan Afif yang berada di kursi duduk di sampingnya. Mereka menatap ikan-ikan koi yang cantik itu yang sedang sibuk berenang.


"Indah dan cantik sekali mereka" ucap Fatimah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mereka terlihat bahagia dengan kebebasannya" Afif berkata dengan tatapan nanarnya ke arah ikan koi, membuat Fatimah seketika menoleh ke arahnya.


"Mas, Allah tidak akan memberikan ujian di batas kemampuan umatNya, Dia sangat mengetahui pundak siapa saja yang tepat yang mampu menerima segala ketetepanNya" Fatimah berkata, sambil menggenggam lembut jemari Afif.


"Percayalah mas, ada hikmah dari segala ujian yang kita dapat, InsyaAllah jika kita bisa melewati dan lulus dari semua ujian ini, Allah akan menaikkan derajat kita, walaupun, kemuliaan itu bukan di mata manusia, tetapi kita lebih mulia di hadapanNya."


Perkataan Fatimah membuat Afif terdiam. Dia menatap lekat Fatimah. Ada kebanggaan dan kebahagian di hatinya karena bisa memperistri seorang wanita mulia seperti Fatimah. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia merasa sangat sedih dan malu karena keadaannya kini tidak sempurna sebagai suami.


"Fatimah, aku bisa memberikan lebih nafkah lahir untukmu, tetapi aku tidak bisa memberikanmu nafkah batin" ucap Afif dengan suara parau.


"Mas, salah satu tujuan menikah adalah menyalurkan syahwat kepada pasangan yang halal, dan bisa menjaga ******** dan kehormatan kita dari seseorang yang haram" jawab Fatimah dengan suara yang lembut dan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Aku menerima kelebihan dan kekuranganmu karena Allah mas, bagaimanapun keadaanmu, InsyaAllah aku akan menerimamu dengan ikhlas" Fatimah berkata lagi, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Afif menatap lekat wajah Fatimah, rasa syukur tak terhingga di ucapkannya dalam hati kepada Sang Khalik Karena di berikan harta yang tidak ternilai harganya yaitu istri yang soleha.


"Bagaimana dengan anak Fatimah? Bukankah itu juga salah satu tujuan menikah?" Pertanyaan Afif membuat Fatimah tertawa, sedangkan Afif mengerutkan keningnya menatap tidak mengerti ke arah Fatimah.


"Apa kamu lupa mas dengan kehadiran Aisyah dan Rio" jawab Fatimah, membuat Afif tersadar dengan kehadiran Aisyah keponakan Fatimah anak dari almarhumah kakak Fatimah yaitu Salma dan Rio anak yang di bawa Nabila.


"Fatimah, terimakasih Sayang" Afif berkata sambil mencium lembut punggung tangan Fatimah.


"Sama-sama Mas" jawab Fatimah tersenyum.


Mereka pun berpelukan dengan perasaan haru dan bahagia, di temani suasana sore yang begitu sejuk dan syahdu. Suara gemericik air, ikan-ikan Koi dengan beraneka ragam warna berenang bebas di kolam yang besar, bunga-bunga warna-warni yang mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan, kupu-kupu cantik yang berterbangan dan hinggap di bunga-bunga yang mekar dan kicauan burung yang terdengar merdu, menambah indah suasana sore itu dan menjadi saksi kebahagiaan hati mereka.


****************


Bagaimana Nabila, Arsyad, Arman dan Sarah bisa saling mengenal dan bekerjasama?


Mampukah Afif dan Fatimah mempertahankan rumah tangga mereka?


Jangan lewatkan bab selanjutnya, yang semakin menguras emosi🤗


__ADS_1


__ADS_2