
"Lalu?"
"Jelas Alira marah padaku, dia meninggalkan aku dihotel dan tidak ingin bicara padaku" Jelas Kairo lagi dengan wajah sedihnya.
"Hmmm" Reihan menghela nafas panjang.
"Miris banget ya hidup kamu, udah beberapa hari menikah tapi belum juga mendapatkan jatah, hahha" Reihan tertawa puas disana, menggoda Kairo adalah hal yang paling disukainya.
Aliya dan Alira sontak menoleh kearah Reihan dan Kairo, apa yang mereka tertawakan? Begitulah kira-kira pertanyaan yang tergambar diwajah mereka berdua.
"Tenanglah, kami hanya bergurau saja. Tidak ada yang serius" Ucap Kairo kepada Alira, yang memang mengerti dari raut wajah Alira yang seperti menanyakan sesuatu.
"Non, si kembar nangis lagi, gak mau digendong atau diberi susu" Ucap Bik Ina yang sudah menghampiri Aliya.
"Baik bik, aku akan kesana" Balas Aliya, Aliya berdiri dari duduknya dan hendak pergi.
"Aliya, kakak ikut ya" Alira menawarkan diri ingin ikut, Aliya hanya mengangguk mengiyakan dengan diiringi senyuman manisnya.
Alira dan Aliya pun pergi menuju kamar si Kembar, Alvin dan Aldo. Sementara, Reihan dan juga Kairo masih berbincang-bincang diruang keluarga.
Didalam kamar,
"OwekOwekOwek" Suara tangis si kembar sudah terdengar sangat kuat dari depan pintu, Aliya mempercepat langkahnya untuk mengangkat dan menggendong Aldo dari tempat tidur nya.
"Cup Cup, sayang mama. Kenapa menangis? Anak pintar, Cilupba" Aliya berbicara kepada anaknya, Aldo. Yang masih berumur delapan bulan, sembari menenangkan anaknya untuk tidak menangis lagi.
Aldo seketika tertawa dengan senyuman khasnya, ketika Aliya menggendong dirinya.
__ADS_1
Aldo adalah anak pertama, namun dia begitu manja. Dirinya selalu menangis dikala jauh dari Aliya terlalu lama.
Sementara, Alvin adalah anak kedua. Walaupun mereka kembar, namun Alvin sedikit pendiam. Sejak lahir, Alvin tidak pernah cerewet, apalagi menangis untuk waktu yang cukup lama.
"Aliya, dia tertawa. Duh, manisnya" Alira mencium gemas melihat senyum Aldo.
Merekapun bermain bersama disana.
Setelah hampir tengah malam, si kembar juga sudah bertiduran, Kairo datang menghampiri Alira didalam kamar si kembar untuk mengajaknya pulang.
"Sayang, yuk kita pulang" Ajak Kairo.
"Tidak tidur disini?" Tanya Aliya.
"Tidak apa-apa sayang, mereka kan pengantin baru, tentu mereka akan lebih nyaman dengan rumah sendiri bukan" Reihan menimpali, agar Aliya tidak menahan Kairo dan Alira lagi. Karena menurut Reihan, Kairo saat ini memerlukan waktu luang bersama Alira.
Setelah selesai berpamitan, Kairo dan Alira pergi dari sana dengan sudah di ikuti oleh beberapa pengawal dari belakangnya.
Reihan sudah mendengar cerita dari Kairo, mengenai masalah yang dia hadapi selama beberapa hari terakhir ini.
Dia takut, ini ada hubungannya dengan persaingan bisnis yang Kairo kelola. Dan orang tersebut ingin mencelakai Kairo dan juga Alira, oleh sebab itu ia memutuskan untuk memerintahkan beberapa pengawal mengikuti Kairo, untuk memastikan keamanan Kairo.
Sesampainya di rumah,
Para pengawal yang Reihan tugaskan itu tetap menunggu dan berjaga dirumah Alira, itu pun sesuai permintaan Reihan.
Ya, semenjak kejadian tragis yang pernah Reihan alami. Sehingga kejadian itu merenggut nyawa sang ibu, dan hampir mencelakai istrinya Aliya, Reihan sekarang menjadi orang yang super waspada dengan hal apapun. Dia benar-benar tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali kepada Kairo dan juga Alira.
__ADS_1
Didalam kamar,
Alira langsung membersihkan dirinya dikamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya.
Sementara, Kairo hanya berbaring ditempat tidurnya dengan mata yang selalu menatap semua kegiatan Alira.
Mulai dari mengganti baju, hingga Alira menggunakan berbagai macam jenis bahan kecantikan untuk tubuhnya agar selalu fress dan wangi.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
jangan lupa vote, like dan komen ya.
...🌺 Selamat membaca🌺...
__ADS_1