
Alira hanya tersenyum licik, melihat kepergian Tika dengan bersilang tangan didada. Alira tau betul bagaimana cara menghadapi seorang wanita yang kecentilan dengan suaminya.
"Dia pikir, aku akan berdiam diri melihat dirinya mendekati suamiku" Batin Alira.
"Sayang apa kau ingin memakan sesuatu, agar kau tidak bosan" Tanya Kairo dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak ingin makan" Balas Alira ketus.
"Lalu ingin apa?" Tanya Kairo lagi.
"Aku tidak ingin apa-apa" Balas Alira lagi dengan wajah cemberutnya.
"Sayang, ada apa denganmu. Kenapa kamu begitu marah padaku, tadi kita baik-baik saja" Tanya Kairo lagi.
"Pikir saja sendiri" Alira langsung berlalu pergi dari sana, dengan sedikit berlari menaiki tangga.
"Alira, berhati-hati lah" Kairo dengan sigap mengejar Alira yang berlari menaiki tangga yang hampir terpeleset.
"Ahhhhh"
Alira jatuh tepat didalam pelukan Kairo, "Sayang, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Kairo khawatir.
Alira mencoba berdiri kembali, dan melepaskan pelukannya.
"Aku baik-baik saja" Balas Alira, masih dengan wajah dinginnya.
"Sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Kairo.
Alira tiba-tiba saja menangis, dengan meraung-raung disana. Kesal, itulah yang Alira rasakan.
Kairo terlihat begitu khawatir kala melihat Alira tiba-tiba saja menangis
"Sayang kau kenapa, ayo kita ke kamar. Aku akan memanggilkan Dokter" Ucap Kairo yang mulai panik akan Alira yang terus saja menangis.
"Wahyu, Wahyu" Teriak Kairo kepada sekertaris nya.
__ADS_1
Sekertaris Wahyu berlari kecil dari arah luar menuju tempat dimana Kairo berada.
"Cepat panggilkan Dokter" Titah Kairo dengan sedikit berteriak.
Sekertaris Wahyu langsung melaksanakan perintah untuk memanggil Dokter.
Sementara Kairo, sudah membawa Alira menuju kamar mereka dengan digendong.
Alira terus saja menangis.
Setelah sampai di dalam kamar pun ia terus menangis.
"Sayang, berbicaralah. Kamu kenapa?" Tanya Kairo, namun Alira masih tidak menjawab, ia Hanya menangis terisak dengan membelakangi Kairo.
Tidak beberapa lama, seorang Dokter pribadi Kairo datang kesana.
Tok
Tok
Tok
"Tuan, Dokter William sudah datang" Ucap Sekertaris Wahyu yang sudah masuk kedalam kamar.
"Suruh saja dia masuk" Balas Kairo, Sekertaris Wahyu berlalu pergi dengan sedikit memberikan hormat kepada Kairo.
Tidak berapa lama setelah kepergian sekertaris Wahyu, Dokter William pun masuk kedalam kamar dengan membawa tas medisnya yang biasa ia bawa untuk mengobati pasiennya.
"Permisi tuan" Ucap Dokter William.
"Periksalah istriku, dia menangis saja sejak tadi" Titah Kairo.
"Baik tuan" Dokter William hendak meletakan tasnya tepat didekat nakas tempat tidur Kairo.
Namun, belum sempat ia meletakan tas nya. Ia sudah lebih dulu dihentikan oleh Alira.
__ADS_1
"Jangan mendekatiku, aku tidak ingin diperiksa. Karena aku tidak sakit" Ucap Alira.
Dokter William nampak kebingungan, "Sayang, jika kamu tidak sakit lalu kenapa sejak tadi kamu hanya menangis?" Tanya Kairo.
"Aku sudah merasa baik sekarang, Dokter boleh pergi" Ucap Alira tanpa menjawab pertanyaan Kairo.
Dokter William nampak masih kebingungan, namun isyarat dari Kairo yang sudah mengibaskan tangannya, menandakan bahwa Dokter William sudah boleh pergi sekarang.
"Tuan, saya pergi dulu" Ucapnya berpamitan. Dan Kairo hanya mengangguk.
Kairo mendekati Alira yang masih berbaring di kasur setelah kepergian Dokter William.
"Sayang" Seru Kairo lirih dengan sedikit belaian lembut tangannya di pucuk rambut Alira.
"Pergi saja sana bersama perempuan itu" Ucap Alira, spontan membuat Kairo menautkan kedua alisnya, menatap Alira dengan heran.
"Kau cemburu kepada Tika?" Tanya Kairo, namun masih dengan suara yang begitu lembut.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
jangan lupa vote, like dan komen ya.
__ADS_1
...🌺 Selamat membaca🌺...