
Terakhir kali sewaktu Reihan membawa Aliya kerumah sakit itu, Reihan dengan begitu tidak sabaran memerintahkan para Dokter itu untuk bergerak cepat dan mengancam mereka, jika terjadi sesuatu pada Aliya maka jabatan mereka menjadi taruhannya.
"Rei, aku dengar Kairo keracunan. Apa benar?" Tanya Dokter Risa yang baru sampai disana.
"Iya benar, dia diracuni oleh lawannya" Jawab Reihan.
Alira nampak masih mondar-mandir didepan ruangan UGD. Sementara itu, Reihan dan Dokter Risa menoleh kearah Alira yang sedang khawatir.
"Dia" Tunjuk Dokter Risa pada Alira.
"Dia istrinya Kairo" Ucap Reihan menimpali.
"Ohh, kalau begitu aku akan melihat keadaan Kairo dulu" Ucap Dokter Risa.
Reihan mengangguk dengan masih bersilang tangan. "Aku serahkan keselamatan Kairo padamu" Ucap Reihan kemudian.
"Baiklah, aku pergi dulu" Pamit Dokter Risa.
Dokter Risa menuju ruangan Kairo, Alira hanya melihat saja, namun wajah khawatir nya masih begitu nampak.
Tidak berapa lama, Aliya datang.
"Kak, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aliya khawatir, setelah sampai mengantar Kairo kerumah sakit, Reihan memberi kabar bahwa Kairo masuk rumah sakit kepada Aliya.
Aliya begitu khawatir, karena seingatnya Kairo dan Alira baru saja pulang dari rumahnya. Apa terjadi sesuatu? Begitulah pikirnya. Tanpa menambah rasa penasaran nya, Aliya bergegas menuju rumah sakit yang biasa keluarga Anggara dirawat.
"Aku baik-baik saja Aliya. Tapi, Kairo tidak sadarkan diri, hik" Alira menangis sembari bercerita kepada Aliya, Aliya begitu sedih mendengar kabar ini, dan ia memeluk tubuh kakaknya sembari menenangkan kakaknya dari kekhwatiran.
__ADS_1
"Tenanglah kak, Kairo akan baik-baik aja" Ucap Aliya sembari mengelus lembut pundak kakaknya yang berada didalam pelukannya.
Alira mengangguk, sembari menyeka air matanya. "Iya, kakak hanya takut jika terjadi hal buruk padanya" Jawab Alira yang sudah melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya kakak Sholat, minta pertolongan kepada Allah. Setidaknya, dengan sholat hati kakak akan jauh menjadi lebih tenang" Saran Aliya.
Alira mengangguk, air matanya yang terus keluar menandakan bahwa saat ini hatinya begitu kalut dan khawatir akan keselamatan Kairo.
Aliya mengantar Alira kesebuah musholla yang ada dirumah sakit itu. Kebetulan Aliya juga belum sholat Ashar, jadi Aliya juga ikut sholat bersama Alira.
"Ya Allah, tolong selamatkan lah suami hamba. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya ya Allah, aku tidak sanggup jika harus kehilangan dirinya. Selamatkan lah suami hamba ya Allah, hamba mohon Selamat kan lah dia" Doa Alira didalam hatinya.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"RABBANAA AATINAA FIDDUNYAA HASANATAN WAFIL AAKHIRATI HASANATAN WAQINAA ADZAABAN-NAAR"
Setelah selesai sholat, Alira sedikit merasa tenang dan melepaskan mukenanya segera. Karena ia ingin segera melihat keadaan Kairo.
Aliya dan Alira juga bergegas menuju ruang rawat yang diberitahu oleh seorang perawat disana. Katanya, Reihan juga sudah ada disana, jadi kami hanya tinggal menyusul dan melihat keadaan Kairo.
Alira sedikit meneteskan air mata senang, karena suaminya sekarang tidak apa-apa.
Di ambang pintu, Alira melihat dengan jelas suaminya Kairo yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Ia sedikit berlari menuju ranjang Kairo, Nampak Kairo menatap Alira dengan sedikit senyuman tipisnya.
Wajahnya masih pucat, serta tubuhnya yang masih lemah membuat Kairo tidak berdaya hanya sekedar menyapa istri nya.
__ADS_1
Alira menangis kala sudah berada di samping Kairo, dan memeluk dengan erat tubuh Kairo.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja" Ucap Kairo dengan suara yang begitu lirih.
"Aku begitu khawatir padamu, lain kali jangan merasa jago sendiri melawan enam orang itu. Mereka begitu jahat" Ucap Alira yang sudah menangis sensegukan.
Kairo hanya tersenyum mendengar ocehan istrinya itu, baginya ocehan itu adalah rasa sayang serta kepedulian istri nya kepada dirinya.
"Kenapa kamu tersenyum, aku begitu takut kamu akan meninggalkan aku" Rengek Alira lagi, namun sedikit menyeka air matanya yang terus keluar.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang, percayalah padaku. Tadi itu hanya kesalahan kecil saja" Jawab Kairo mencoba menenangkan istrinya.
Namun jawabannya ternyata menambah kekesalan Alira, "Kamu bilang hanya kesalahan kecil? Preman itu hampir membunuhmu" Ucap Alira dengan kesal.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen ya.
...🌺 Selamat membaca🌺...