
"Mbak? Kamu baik-baik aja?" Tanya Tasya kemudian.
Jijah terperanjat kaget, "Ka-ka-kamu siapa?" tanya Jijah tergagap. Sungguh wanita itu tidak bisa menyembunyikan wajah ketakutannya.
Tasya menatap Heran kepada Jijah, "Saya Tasya, dan kamu?" Tanya Tasya balik.
"Ta-tasya? Bukan nona Alira?" tanya Jijah lagi masih dengan suara yang gemetar.
"Kenapa semua orang di rumah ini selalu menganggap aku Alira? Saya Tasya mbak" jawab Tasya.
Bukannya balas menjawab, Jijah pergi begitu saja dari sana. Nampak ia mempercepat langkahnya dan menjauh dari sana.
Tasya nampak masih menatap kepergian Jijah dengan heran.
"Aneh! seperti melihat hantu saja. Memangnya aku mirip banget ya sama Nona Alira?" gerutu Tasya.
"Sangat mirip Tante. Mama aku itu cantik seperti Tante" Sambung Keisha yang sejak tadi masih berada di sampingnya.
Tasya seketika tersentak, ia baru sadar ternyata Keisha masih bersamanya saat ini.
"Ehh Keisha, kamu masih disini. Sudah yuk kita main lagi" Ucap Tasya. dan di balas dengan anggukan oleh Keisha.
**
Kabar kedatangan Tasya pun terdengar di telinga Aliya. Secara tidak sengaja, Aliya mendengar percakapan Suaminya dan juga Kairo, yang mengatakan bahwa wanita bernama Tasya memiliki wajah yang mirip dengan Alira. Hal itu tentu membuat Aliya sedikit syok. Bagaimana tidak? Kakak yang sangat ia sayangi itu yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, kini kembali dengan nama yang berbeda.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku sejak awal" Ucap Aliya cepat yang sudah berada di ambang pintu. Bahkan air matanya sudah membasahi pipinya, rasa rindunya begitu besar kepada Alira sehingga ketika ia mendengar ada wanita yang hampir mirip dengan kakaknya itu, ia langsung ingin segera bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
"Aku ingin kesana. Aku ingin bertemu kakak" Ucap Aliya lagi.
Reihan menghembus nafas panjang, lalu berjalan menghampiri Aliya istrinya.
Dirangkulnya tubuh istrinya itu, lalu ia bawa untuk duduk terlebih dahulu disana.
"Sayang! Bukannya kami tidak memberitahumu. Hanya saja ini terlihat tidak sesederhana yang kita pikirkan. Kami harus menyelidiki semua ini terlebih dahulu, Kairo juga tidak bisa menyimpulkan bahwa dia itu Alira. Karena dari nama dan penampilan wanita itu sangat berbeda dengan Alira" Ucap Reihan dengan lembut.
"Kita tidak boleh gegabah dan membeberkan tentang Tasya. Jika Tasya adalah Alira, kemungkinan jenazah itu tertukar sewaktu di rumah sakit. Aku yakin, ada seseorang di balik ini semua. Dan masalah ini tidak segampang yang kita pikirkan. Jika Tasya adalah Alira, kita harus menjaga identitas aslinya terlebih dahulu, bersikaplah seperti biasa dan anggap saja dia adalah Tasya agar tidak ada yang mencurigai itu. Aku berharap, dia memang benar Alira" Lanjut Reihan lagi penuh harap.
"Kalau dia bukan Alira?" Tanya Kairo pada akhirnya.
Reihan sedikit diam, lalu tatapannya mengarah kepada Kairo, "Jika dia bukan Alira, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia adalah musuh yang sudah menyamar dan melakukan operasi plastik dengan wajah yang sama seperti Alira. Dan kemungkinan kedua, aku curiga Alira memiliki kembaran di luaran sana yang kita tidak ketahui" Jawab Reihan kemudian.
"Bolehkah aku menemuinya?" Tanya Aliya.
"Baiklah sayang. Tapi berjanjilah, jangan bersikap berlebihan di sana. Banyak kemungkinan yang tidak kita ketahui saat ini" Ucap Reihan menyetujui dengan memberikan peringatan keras untuk istrinya Aliya.
Setelah menyetujui. Reihan pun membawa Aliya pergi ke kediaman Kairo.
Disana terlihat Keisha sedang asyik bermain bersama Tasya dengan penuh tawa.
Kairo yang baru sampai pun tertegun melihat keakraban Keisha dan Tasya. Tidak dapat di pungkiri, Kairo merasa Tasya adalah Alira.
Senyumnya, tawanya, begitu Kairo ingat. Sama persis seperti Tasya. Namun, sebelum itu ia harus fokus kepada misinya saat ini. Demi membuktikan bahwa Tasya Adalah Alira atau bukan, Kairo harus bisa menahan perasaannya sendiri.
Reihan dan Aliya pun sampai, mereka segera masuk kedalam rumah. Betapa terkejutnya Reihan dan Aliya ketika melihat wajah Tasya.
__ADS_1
"Wajah Tasya benar-benar seperti Alira. Sama seperti yang Kairo ceritakan tadi kepada kita" Ucap Reihan dengan lirih.
Kedua orang itu segera menetralkan keterkejutan itu setelah Tasya menoleh kepada Reihan dan Aliya yang nampak masih mematung.
"Tuan!" Seru Tasya ramah kepada Kairo yang juga berdiri tidak jauh dari Aliya dan Reihan. Wajahnya seketika menoleh kepada Reihan dan Aliya dengan heran.
"Siapa mereka tuan?" Tanya Tasya lagi.
"Mereka kakakku, perkenalkan ini Reihan dan ini Aliya kakaknya Alira" Ucap Kairo memperkenalkan.
Tasya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya Tasya" Ucap Tasya ramah kepada mereka.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
__ADS_1