
Alira tersenyum senang, dan mereka pun larut didalam sentuhan yang memabukkan.
Malam yang panjang pun kembali dimulai.
Keesokan harinya,
Kairo sudah berangkat kekantor, namun tidak dari pengawasan Alira tentunya.
Setelah kepergian Kairo, seseorang dengan baju yang serba hitam, dengan gayanya yang khas serta rambut panjang nya yang memang Alira kenal.
Siapa lagi kalau bukan, Anton.
"Dimana nona Alira?" Tanyanya kepada salah satu pengawal nya.
"Ada di taman tuan, maaf tuan, anda tidak diperbolehkan masuk sebelum mendapat ijin darinya" Jawab pengawal itu.
"Kalian lupa siapa aku? Kenapa harus ijin segala? Aku ada janji bersama Alira" Tanya Anton dengan raut tidak suka.
"Maaf tuan, ini perintah dari tuan Kairo. Tuan tunggu disini biar saya panggilkan nona Alira" Ucap pengawal itu dengan tegas.
Anton menghela nafas panjang, "Hmmmm, baiklah. Terserah kalian saja" Jawab Anton pasrah.
Tidak berapa lama setelah kepergian pengawal itu kedalam, kini dia sudah kembali berjalan keluar menghampiri Anton yang masih berada didepan pintu rumah.
"Nona Alira menyuruh tuan untuk masuk" Ucap pengawal itu, kala sudah berada didekat Anton.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Gak perlu ijin segala" Ucap Anton dengan kesal.
"Maaf tuan, kami hanya menjalankan perintah" Balas pengawal itu.
__ADS_1
"Eits, terserah kalian saja" Anton berlalu pergi menuju taman yang pengawal itu katakan, tentu saja Anton tidak perlu bertanya lagi dimana Taman berada, karena Anton sudah hapal betul akan rumah Alira.
Ditaman,
"Hai nona manis" Seru Anton.
"Anton, duduklah" Alira yang sedang menyirami bunga-bunga nya, kini berpindah menghampiri Anton dan meletakan segala peralatan nya.
Anton dan Alira duduk dibangku yang berbeda, dengan saling berhadapan.
"Kamu mau minum apa? Biar nanti Bik Ijah siapkan" Tanya Alira.
"Terserah kamu aja deh" Jawabnya.
"Sebentar ya, aku panggilkan bik Ijah dulu" Alira beranjak pergi meninggalkan Anton dan menuju dapur untuk menemui bik Ijah.
Tidak berapa lama, Alira pun kembali ke meja dimana tempat Anton duduk.
"Hmm, sudah. Wanita itu memang dari kalangan yang tidak mampu, untuk motifnya mendekati Kairo aku belum tau itu. Dia juga memiliki seorang ibu yang masih sakit, kami juga sudah menemukan lokasi rumahnya" Jelas Anton.
"Ini den airnya" Bik Ijah meletakan segelas jus buah naga kesukaan Anton di meja.
"Lalu, bagaimana? Apa kau sudah menanyakannya kepada Kairo kenapa Tika kembali datang ke kantornya?" Tanya Anton kembali dengan sedikit menyeruput secangkir jus yang ada didepannya itu.
Alira nampak menggeleng, "Aku tidak menanyakannya kepada Kairo semalam, jika aku langsung menanyakannya kepada dia, yang ada dia malah tau bahwa aku sedang memata-matai nya sekarang" Balas Alira yang nampak juga masih berpikir.
"Benar juga ya" Anton membenarkan perkataan Alira.
"Tidak apa, yang penting, kamu harus memata-matai terus Tika itu. Nanti siang baru aku akan pergi ke kantor untuk melihat situasi disana" Ucap Alira dengan wajah yang begitu serius.
__ADS_1
"Dari yang aku lihat, sepertinya memang Tika itu sedang menyukai suamimu" Ucap Anton.
"Dan aku, tidak akan membiarkan itu terjadi" Ucap Alira geram.
"Sudah-sudah, jangan dipikirkan lagi. Nanti bayi mu kenapa-kenapa lagi" Anton mencoba meredakan amarah Alira yang mulai meluap-luap itu.
"Tarik nafas, hembuskan" Beberapa kali Anton mengucapkan itu, agar Alira mengikuti pelatihan pernafasan yang dia peragakan didepan Alira.
Alira hanya menatap dengan wajah heran, "Hei, kamu pikir aku ini sudah mau melahirkan" Alira menepuk bahu Anton dengan kasar.
Bukannya kesakitan, tapi Anton malah tertawa geli disana.
"Tenang-tenang, kamu harus banyak-banyak berlatih pernafasan. Agar darahmu tidak naik" Ucap Anton mengejek.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
__ADS_1
jangan lupa vote, like dan komen ya.
...🌺 Selamat membaca🌺...