
Reihan hanya bisa menghela nafas panjang, "Kalau ada apa-apa, kamu harus hubungi aku cepat ya! Aku gak suka kalau kamu begini" Ucap Reihan mengingatkan.
"Iya, maaf" Balas Aliya singkat.
Keesokan harinya.
Reihan kembali menjemput Kairo kerumahnya. Mereka berdua berencana akan pergi kekantor polisi untuk mengintrogasi para preman yang sempat mencelakai Kairo waktu itu melalui seorang jaksa penuntut.
Jika para penjahat sudah berada di kantor polisi, maka bukan ranah Kairo dan Reihan lagi untuk mengungkapkan kasus itu. Maka dari itu, mereka hanya perlu jaksa penuntut untuk menguak kasus ini dan memberikan hukuman setimpal atas perbuatan yang mereka lakukan.
Diruang interogasi.
Seorang jaksa penuntut sedang duduk berhadapan dengan seorang kepala pemimpin para preman itu.
Itu terlihat jelas dari layar cctv yang Kairo dan Reihan lihat di ruangan lainnya.
Preman itu nampak mulai bicara bersama penuntut umum itu, namun sayangnya Reihan dan Kairo tidak bisa mendengarkan percakapan antar dua orang itu karena sudah aturan dan menjadi privat pihak yang berwajib.
Setelah setengah jam diberi waktu, Jaksa penuntut itu keluar dari ruangan. Sementara preman itu kembali dibawa keruang sel.
"Bagaimana?" Tanya Kairo antusias.
"Maaf tuan, saya harus mengatakan bahwa dalang dari ini semua adalah ibu Rosa, mertua anda" Jawab jaksa itu ragu.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana mungkin? Dan kenapa ibu melakukan itu?" Ucap Kairo getir. Rasanya tidak percaya akan perkataan jaksa itu, namun ia harus tetap fokus dan mengetahui lebih lanjut akan masalah ini.
"Tenanglah Kairo, sebaiknya kita cari tempat yang nyaman untuk membicarakan masalah ini" Ucap Reihan menimpali. Ia tau betul, Kairo begitu syok mengetahui ini semua. Namun langkah yang harus dilakukan, mereka harus menggali lebih dalam lagi, kenapa mertua Kairo melakukan ini semua.
Kairo tidak menjawab perkataan Reihan, ia hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar dengan mata yang dan mulut yang masih membisu.
Mereka semua pun pergi ke markas, termasuk jaksa penuntut itu juga dibawa kesana oleh Reihan.
Sesampainya disana.
"Jelaskan lebih detail mengenai pengakuan preman itu saat di interogasi" Titah Kairo. Terkesan terburu-buru dan tidak sabaran.
"Baik tuan, jadi begini. Menurut pengakuan preman itu, ibu Rosa membayar mereka untuk menghalangi jalan supaya tuan dan nona Alira terhambat" Jelas penuntut itu.
"Lalu, alasan dia menghalangiku itu apa?" Tanya Kairo lagi.
"Kenapa ibu melakukan itu? Aku benar-benar bingung" Ucap Kairo prustasi.
"Tenang dulu Kairo. Kita tunggu Haikal dan Angela datang dulu. Katanya mereka mendapatkan informasi mengenai ini" Ucap Reihan, sedikit membuat Kairo tercengang.
"Aku harap informasi yang mereka bawa bukan kabar buruk" Ucap Kairo kemudian.
Setelah beberapa saat menunggu.
__ADS_1
Haikal dan Angela datang secara bersamaan.
"Selamat siang tuan" Seru Haikal dengan sedikit menunduk memberi hormat.
Kairo mengangguk pelan, Haikal dan Angela pun duduk dibangku masing-masing.
Tanpa basa-basi, Haikal langsung berbicara pada inti permasalahan.
"Maaf sebelumnya tuan, kami tidak memberitahumu masalah penyelidikan ini. Ini atas dasar kemauan kami sendiri untuk menyelidiki kasus preman yang menyerang tuan tempo hari. Jadi saya harap tuan tidak keberatan dengan ini" Ucap Haikal sebelum memulai percakapan mengenai preman dan informasi yang mereka dapatkan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen ya.
...🌺 Selamat membaca🌺...