
Alira hanya tersenyum mendengar perkataan Reihan, sembari menggelengkan kepalanya.
Kini Kairo kembali fokus menyetir dengan kecepatan tinggi, tidak berapa lama mereka pun sampai ke rumah mewah milik Reihan.
Beberapa pengawal sudah menunggu kedatangan mereka, begitu juga dengan sekertaris pribadi Reihan yang bernama Roi sudah siap menunggu didepan rumah.
Roi berlari kecil menghampiri mobil dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Bagaimana keadaan rumah" Tanya Reihan.
"Semua aman tuan" Balas Roi.
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi. Dan ingat, kembali lagi jam 8 malam dan ajak istrimu kesini karena aku akan merayakan kemenangan kita semua" Ucap Reihan.
"Baik tuan" Balas Roi dengan sedikit memberi hormat sebelum meninggalkan tempatnya.
Reihan dan Kairo serta Alira masuk kedalam rumah.
Rumah nampak begitu sepi, "Dimana Aliya dan anak-anak" Ucap Reihan penuh tanya.
"Entahlah, mungkin dikamar" Balas Alira.
Reihan pun langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya dengan sedikit mempercepat jalannya.
Sementara itu, Kairo dan juga Alira menuju kamar mereka yang berada di kamar tamu lantai bawah.
Didalam kamar, lebih tepatnya kamar si kembar Aldo dan Alvin. Di sana nampak Aliya sedang tertidur pulas di kursi dekat ranjang Alvin dengan berbantalkan tangannya sendiri.
Reihan tersenyum senang melihat istrinya, ia berjalan mendekati sang istri dengan sedikit melambatkan langkahnya agar tidak menimbulkan suara.
Ketika sudah berada didekat istrinya, Reihan sedikit menunduk dengan melengos dengan manja kewajah Aliya, dengan menyenggol kan hidungnya kepada hidung Aliya, dan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri sehingga hidung mereka saling bersentuhan.
Aliya yang merasakan sebuah sentuhan yang tak biasa di wajahnya, dengan sedikit mengumpulkan tenaganya ia menyerjapkan matanya dan menatap seorang pria yang ada didepannya.
Sebuah senyuman manis, Reihan terima dari wajah manis Aliya.
__ADS_1
"Mas sudah kembali" Tanya Aliya. Dan Reihan duduk di samping Aliya.
"Sudah, kenapa tidur disini" Tanya Reihan balik.
"Tidak, aku hanya ingin menemani anak-anak" Balas Aliya.
"Sudah ayo kita ke kamar, nanti anak-anak akan dijaga sama Bik Ina" Ucap Reihan.
"Baiklah"
Reihan membawa Aliya menuju kamar mereka yang berada disebelah kamar si kembar.
Sementara itu, dikamar lain. Tepatnya kamar Kairo, Kairo dan Alira duduk di sofa panjang miliknya dengan sedikit bernafas lega.
Kairo terus saja memuji Alira atas keberanian yang Alira miliki. Bahkan sejak Kairo pertama kali mengenal dan melihat Alira pun, Alira memang merupakan wanita yang tangguh bagi Kairo. Karena sebagian wanita, tidak akan berani melakukan hal senekat itu.
"Berhenti dong mujinya, aku jadi malu tau"
"Iya-iya. Sekarang aku benar-benar sudah merasa lega, Hardi sudah menyadari kesalahannya. Dan lebih pentingnya adalah tidak ada lagi yang akan menggangu hubungan kita lagi. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu sayang" Kairo memegang lembut tangan istrinya.
Alira hanya tersenyum, sambil berkata.
"Aku janji tidak akan pergi dari mu suamiku" Balas Alira, Kairo tersenyum senang mendengarkan perkataan Alira. Ia langsung memeluk tubuh Alira dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
Suasana menjadi hening, Kairo larut didalam pelukan yang kian memikatnya terlalu dalam.
Suara irama jantung yang saling bersahutan begitu terasa, dan menuntut lebih dari pada sekedar pelukan.
Kairo melepaskan pelukannya, dengan menatap terlalu dalam manik mata indah istrinya.
Hasrat yang menginginkan untuk segera di wujudkan, dengan bibir yang kian bergetar serta deru nafas yang menerjang semakin mendekat.
Dua insan yang sedang dimabuk asmara.
Kairo semakin mendekatkan wajahnya, dengan tatapan yang tidak biasa.
__ADS_1
Kini ia sudah menyecapi sebuah bibir yang begitu lembut dan manis baginya, menyusuri setiap inci yang dia inginkan. Dan menuntunnya untuk melakukan lebih dari pada itu.
Suara desahan yang kian terdengar, membuat Kairo semakin tidak tahan.
Kairo semakin menyusuri sesuatu yang lebih intim, dan terus menikmati setiap desahan yang terdengar semakin keras.
Kini Kairo akan memulai aksinya, menerobos gawang kenikmatan yang memabukan dan akan membuatnya melayang.
Usaha yang begitu keras, Kairo menerobos gawang kenikmatan yang akan membawanya semakin dalam dan semakin dalam.
Suara desahan yang saling bersahutan menjadi saksi, bahwa dua insan yang sedang di mabukan asmara saling menikmati alunan cinta yang kian memuncak. Hingga keduanya sampai pada puncak kenikmatan dan mengeluarkan lahar yang membuat mereka menembus langit ketujuh.
Kedua insan itu tumbang, dengan kepuasan hasrat yang sudah terpenuhi.
Kairo mengecup lembut kening istrinya, "Terimakasih karena selalu bersamaku" Ucapnya dengan lirih.
Alira yang sudah kelelahan tidak mampu lagi untuk bangun, dan memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan kembali tenaganya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
jangan lupa vote, like dan komen ya.
...🌺 Selamat membaca🌺...
__ADS_1