
Hari pun berlalu. Sudah beberapa bulan ini, semenjak kepergian Buk Rosa, Alira seringkali murung. Ia begitu takut jika ibunya kenapa-kenapa disana, walaupun sudah sekian kalinya Kairo meyakinkan Alira, namun Alira masih saja mengkhawatirkan ibunya itu.
"Awwwww, aduh sakit" Alira yang tengah duduk termenung di taman, merintih, merasakan perutnya yang sakit.
"Bik, bik Ijah" Teriak Alira. Keringat dingin bercucuran, sakit diperutnya semakin menjadi.
Bik Ijah menghampiri Alira dengan sedikit berlari, "Astaghfirullah Non," Bik Ijah terlonjak, melihat darah yang keluar dari jalan rahim Alira.
"Tolong bik, aku sudah tidak kuat lagi" Ucap Alira lirih.
Bik Ijah memapah Alira, membawanya keluar. Para pengawal didepan juga gelagapan, pasalnya Alira sudah tidak sadarkan diri. Dan Bik Ijah sangat kesulitan membawanya.
"Ada apa ini?" Tanya salah satu pengawal yang sudah menghampiri bik Ijah.
"Gak tau. Nona sudah seperti ini saat memanggil ku" Jawab bik Ijah tegas.
Pengawal itu dengan sigap menggendong tubuh Alira, dan membawanya masuk kedalam mobil.
Tidak lupa, salah satu pengawal itu menelpon Kairo yang masih berada di kantor. Memberitahukan keadaan Alira saat ini.
Tidak berapa lama. Mobil mereka pun terparkir di depan pintu rumah sakit.
Alira dibawa keruang UGD dan ditangani dengan cepat.
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah Alira dibawa keruangan UGD. Kairo datang dengan sedikit berlari menghampiri pengawalnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kairo cepat. Ia sangat khawatir kepada istrinya saat ini.
"Maaf tuan, kami tidak tau. Nona sudah seperti ini tadi. Dokter lagi memeriksakan keadaan nya" Jawab salah satu pengawal nya.
Kairo nampak mendecah kesal. Matanya memerah, dengan sedikit mengucak rambutnya asal. Kepalanya benar-benar sakit saat ini, memikirkan istrinya yang masih berada di ruangan UGD, tanpa ia ketahui bagaimana keadaan istrinya saat ini.
"Ya tuhan, selamatkan lah istriku dan juga anak ku" Doa Kairo dalam hati.
Sudah 30 menit mereka menunggu, namun satu Dokter pun tidak kunjung keluar. Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada Alira? Itulah yang Kairo pikirkan.
Tidak berapa lama, setelah lama didalam kegundahan, seorang Dokter keluar dari ruangan.
"Begini pak, istri bapak mengalami pendarahan ringan. Namun ini sangat berbahaya, mengingat nona Alira memiliki riwayat penyakit jantung jadi bayi didalam kandungan nona harus di operasi sesegera mungkin agar keduanya selamat. Namun sebelum itu kami ingin meminta persetujuan anda Tuan" Jelas Dokter panjang lebar.
"Lakukan saja yang terbaik untuk Alira. Pastikan bayi dan istriku selamat" Ucap Kairo cepat.
Dokter itu kembali masuk kedalam setelah mendengarkan perkataan Kairo.
Kairo kembali duduk disebuah bangku yang ada disana. Wajahnya kali ini begitu kusut, ia menunduk dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya serta bertopang di lututnya.
Nampak Aliya dan Reihan diambang pintu yang baru datang dengan sedikit berlari kecil menghampiri Kairo setelah mendapati sosok Kairo disana.
__ADS_1
"Kairo, bagaimana keadaan kak Alira" Tanya Aliya khawatir. Matanya sudah mulai memerah menahan tangis, dengan sedikit menyeka air matanya yang sebentar lagi akan segera tumpah.
Kairo menengadah, menatap Aliya dan Reihan secara bergantian. Sebenarnya saat ini ia begitu rapuh, mulutnya begitu kelu. Bagaimana mungkin istri yang sangat ia sayangi itu sampai sakit seperti ini.
"Alira akan dioperasi oleh dokter. Kandungannya sangat lemah" Jawab Kairo yang sudah berdiri, mensejajarkan dirinya dengan Aliya.
"Apa?" Aliya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menatap Kairo dengan mata yang berbinar-binar.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
Jangan lupa vote, like dan komen ya.
__ADS_1
...🌺 Selamat membaca🌺...