
Bukannya kesakitan, tapi Anton malah tertawa geli disana.
"Tenang-tenang, kamu harus banyak-banyak berlatih pernafasan. Agar darahmu tidak naik" Ucap Anton mengejek.
"Dasar kamu ya" Alira nampak manyun tidak suka.
"Sudah, aku pulang dulu ya. Jangan khawatirkan wanita itu, aku yakin Kairo tidak akan tergoda olehnya" Ucap Anton meyakinkan Alira.
Alira nampak menatap Anton yang sudah mulai berdiri, "Apa kamu yakin itu" Tanya Alira.
"Tanya saja pada hatimu, apa kah kamu mempercayai suamimu atau tidak" Ucap Anton dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Alira yang masih mematung ditempat duduknya.
Siang harinya,
Lebih tepatnya pada pukul 11.25 siang. Pada jam makan siang, Alira sengaja datang ke kantor, tempat Kairo bekerja.
Alira, dengan gayanya yang elegan dan menggoda, serta polesan make up sederhana yang dia pakai. Sungguh sangat menggoda. Ia berjalan dengan santainya, dan senyuman manisnya menghiasi wajah cantiknya.
"Siang buk" Sapa satpam beserta beberapa karyawan disana.
Karyawan Kairo memang mengenal Alira sebagai istri seorang CEO, yang tidak lain adalah Kairo.
Alira yang disapa hanya berlalu, dengan sedikit balasan senyuman manisnya.
"Kairo pasti senang jika aku datang ke kantornya dan mengajaknya untuk makan siang bersama" Batin Alira dengan sedikit senyuman disela wajahnya.
Alira nampak menaiki Lift khusus, dan memencet salah satu tombol disana, yang mengarahkan Lift itu langsung ke ruangan Kairo.
Lift itu sudah berhenti di lantai 6 yang mengarahkan langsung ke ruangan Kairo.
Dengan perasaan senang, Alira nampak tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya itu. Walaupun hanya sekedar menunggu pintu Lift dibuka.
"Suprise" Alira yang awalnya begitu riang, kini wajah cantiknya berubah masam. Dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Alira" Ucap Kairo dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
Kristal bening Alira meluruh begitu saja, Kairo dengan cepat berdiri dengan sedikit merapikan bajunya.
"Alira, dengarkan penjelasan aku" Kairo mencoba memegang tangan Alira, namun dengan cepat Alira mengibaskan tangannya dan melepaskan pegangan Kairo.
Dengan deraian air mata yang yang masih berjatuhan, Alira pergi dari ruangan itu dengan sedikit berlari dan memencet tombol yang ada di pintu Lift itu.
Langkah Kairo terhenti tepat didepan Lift disaat Kairo ingin mengejar Alira, karena Lift yang Alira masuki pintunya sudah menutup.
Kairo mengucak rambutnya asal dengan penuh kekesalan.
Sementara itu, perempuan yang ada dibelakang Kairo itu nampak menatap Kairo dengan senyuman liciknya.
Flashback 🌺
"Apa aku juga harus memanggilmu tuan disini? Sama seperti karyawan mu yang lain" Tanya Tika yang sedang berdiri tepat didepan meja kerja Kairo.
Kairo nampak sedikit mengerutkan keningnya, menatap Tika dengan wajah bingungnya.
"Terserah kamu saja mau panggil apa" Ucap Kairo yang kembali fokus melihat beberapa isi berkasnya.
"Terserah kamu saja Tika" Jawab Kairo singkat yang nampak semakin risih akan keberadaan Tika. Pekerjaan yang seharusnya sudah selesai menjadi terlambat karena Tika terlalu cerewet dan banyak bicara.
Siang harinya,
Tika kembali masuk keruangan Kairo dengan membawa secangkir teh.
Kairo yang hendak pergi, menghentikan langkahnya ketika Tika memanggilnya.
"Kairo" Seru Tika. Refleks, Kairo langsung menoleh kebelakang nya dan dirinya membelakangi pintu Lift.
Disaat bersamaan, Alira juga keluar dari pintu Lift itu, dan Tika menyadari keberadaan Alira yang keluar dan hendak masuk ke ruangan Kairo.
Tika dengan langkah cepat menghampiri Kairo.
Dia dengan sengaja menjatuhkan gelas yang dia bawa, serta berpura-pura terpeleset disana.
__ADS_1
Kairo pun dengan cepat menangkap tubuh mungil Tika kedalam dekapannya, dan Tika semakin menarik tubuh Kairo dengan kasar, sehingga mereka berdua terjatuh kelantai dengan posisi Kairo yang berada di atas tubuh Tika.
Kala itu, Alira menyaksikan bagaimana Kairo dan Tika saling bersentuhan yang menurutnya sangat fatal.
Flashback off 🌺
Didalam mobil,
Alira menangis sensegukan, tidak kuasa menahan tangis yang semakin menyakitkan.
Ia sedikit mengusap kasar wajahnya yang sembab, dengan kedua tangannya yang memegang setir mobil dengan geram.
Tatapan tajamnya seakan mengatakan dirinya bukanlah wanita yang lemah, dan akan menangis lebih lama karena kesakitan yang ia terima.
Ia sedikit mengatur nafas, dengan sedikit menghembuskan nafas panjang.
"Tenang Alira, jangan tunjukan kelemahanmu"
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
jangan lupa vote, like dan komen ya.
...🌺 Selamat membaca🌺...
__ADS_1