Menikahi CEO Yang Kejam 2

Menikahi CEO Yang Kejam 2
Hasil tes DNA


__ADS_3

Hari sudah menunjukan pukul 10.00 pagi. Bertepatan dengan kepulangan dirinya dari rumah sakit, hasil tes DNA Aliya juga akan diserahkan di jam yang sama. Jadi Kairo hanya perlu pergi menyusul Reihan dan Aliya diruangan Dokter yang memeriksa hasil DNA nya.


Di ruangan Dokter.


Disana sudah ada Reihan dan Aliya, Buk Wati juga sudah ada disana menunggu hasil tes DNA itu keluar.


Krekkkk


Suara pintu dibuka, "Dokternya sudah ada?" Tanya Kairo, lalu masuk menghampiri mereka.


"Belum, katanya Dokter masih ada pasien yang di operasi. Jadi disuruh menunggu sebentar" Jawab Reihan.


"Ohh, begitu" Jawab Kairo. Lalu ikut duduk bersama Reihan.


"Dimana kak Alira?" Tanya Aliya kemudian.


"Alira sudah pulang bersama bik ijah" Jawab Kairo.


"Jadi kamu sudah disuruh Dokter pulang?" Tanya Aliya lagi.


"Gak juga. Aku yang minta mau cepat pulang" Balas Kairo.


Aliya hanya tergeleng mendengar perkataan Kairo. Lalu kemudian kembali diam.


Tidak berapa lama, seorang Dokter perempuan datang.


Dokter itu bernama Dokter Hera, yang bertugas mengecek hasil tes DNA Aliya dan buk Wati.

__ADS_1


Suasana menjadi tegang, masing-masing dari mereka menunjukan ekspresi yang sama.


Nampak Dokter Hera membuka sebuah kertas selembaran, dan melihat hasil yang tunjukan disana.


"Hasil tes menunjukan," Dokter Hera sengaja menggantung perkataan nya. Menatap semua orang yang begitu menunggu jawaban dari tes tersebut.


"Selamat buk Aliya, anda memang benar anaknya Buk Wati" Sambung Dokter Hera lagi dengan senyumnya yang mengembang.


Sementara itu, Buk Wati menangis haru. Ternyata anak yang selama ini ia tinggalkan sekarang sudah benar-benar berada didepan matanya.


"Aliya, Aliya anakku" Ucap buk Wati lirih. Tidak kuasa menahan air mata kebahagiaannya. Selama bertahun-tahun ini, ia begitu menderita memikirkan seorang anak yang ia tinggal semenjak umur 4 tahun. Anak yang begitu kecil bagi anak seumuran Aliya waktu itu harus kehilangan kasih sayang seorang ibu.


"Buk, maafkan Aliya yang sempat meragukan ibu" Aliya menghamburkan pelukannya kepada buk Wati yang masih terduduk di kursi roda.


"Tidak apa nak, tuhan pasti akan selalu bersama orang-orang yang jujur" Jawab buk Wati dan memeluk Aliya dengan begitu eratnya.


Kairo dan Reihan hanya menatap dengan senyuman kebahagian yang mereka tunjukan.


Setelah suasana sedikit mereda, tangis pun berhenti dari keduanya, hanya senyuman kebahagian yang nampak di wajah masing-masing dari mereka.


"Buk, ibuk mau kan tinggal bersama Aliya dan Reihan" Tanya Aliya.


Buk Wati nampak diam, "Ibuk gak mau?" Tanya Aliya lagi memastikan.


"Ibuk takut merepotkan kalian nak, dengan keadaan ibu seperti ini pasti hanya akan membuat kalian susah. Dengan ibu tau dan dapat melihat anak ibu aja, ibu sudah bahagia" Balas buk Wati.


Aliya merasa haru mendengar perkataan ibunya. "Ibu gak ngerepotin kok, apa ibu gak mau liat cucu-cucu ibu" Ucap Aliya meyakinkan ibunya.

__ADS_1


"Cucu?" Ucap buk Wati lirih, Aliya mengangguk dengan senyuman manisnya.


"Jadi kalian sudah memiliki anak? Dan ibu sudah punya cucu" Sambung buk Wati lagi dengan senyuman kebahagian nya.


"Iya buk, Aliya udah punya anak laki-laki kembar. Namanya Alvin dan Aldo. Ibu mau kan tinggal sama kami berdua?" Tanya Aliya lagi.


Ibu mengangguk senang, "Ibu mau nak" Jawabnya kemudian.


Keduanya pun kembali saling berpelukan, dan melepaskan rindu yang sejak lama tak terbendung oleh jarak.


Setelah selesai, mereka semua pun kembali kerumah kediaman Reihan Anggara. Kairo juga pergi kesana, menyaksikan kebahagiaan Aliya yang sedari dulu ia impikan.


Ya, Kairo merupakan sahabat Aliya sejak Aliya menjadi korban kekerasan Reihan dahulu. Dan ia tau betul, bahwa Aliya juga menderita karena ibu tirinya sejak itu. Dan selalu merindukan ibu kandungnya yang ia tau bahwa ibu nya sudah meninggal.


.


.


.


.


.


.


Bersambung,,,,,,,,,,,

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen ya.


...🌺 Selamat membaca🌺...


__ADS_2