
Hardi menatap Foto itu dengan seksama, ia semakin merasa bersalah, ternyata memang benar Melisa atau biasa disebut Tiara begitu mirip dengan almarhum istrinya.
"Bagaimana bisa aku melakukan kesalahan sefatal ini" Ucap Hardi dengan begitu lirih.
"Maaf Hardi, kami harus membawamu kepada pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu" Ucap Kairo.
"Bawa saja, aku sudah pasrah sekarang" Balas Hardi.
"Angela"
Kairo pun memanggil Angela untuk mengurus Hardi, dan memastikan bahwa Hardi mendekam dipenjara dan merenungkan segala kesalahannya.
"Angela bawa dia" Titah Kairo, Angela mengangguk mengiyakan.
"Baik tuan" Balasnya.
Angela pun membawa Hardi lebih dulu menuju mobil, dengan diikuti beberapa anak buahnya.
Sementara itu, Haikal akan mengurus dan merapikan segala kekacauan yang ada di Mension itu.
Mulai dari mengurus anak buahnya yang mengalami luka, serta ada beberapa yang meninggal akibat tembakan yang terjadi.
Beberapa Dokter juga ada yang langsung datang ke TKP untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang masih hidup, itu juga berlaku untuk anak buahnya Hardi, mereka juga berhak mendapatkan pengobatan. Dan ketika mereka sembuh nanti, mereka juga akan mendekam dipenjara.
"Sayang, kau tidak apa-apa" Tanya Alira kepada Kairo.
"Aku tidak apa-apa, kenapa kamu bisa sampai kesini" Tanya Kairo
"Aku mengikuti kalian, aku sengaja untuk tidak bangun lebih awal agar kamu tidak mencurigai aku" Balas Alira.
"Kamu ini ya, jangan ulangi lagi. Aku tidak tidak ingin nanti kamu kenapa-kenapa" Ucap Kairo penuh rasa khawatir.
__ADS_1
"Sudahlah Kairo, berhenti untuk menjadi pria yang dramatis lagi. Ngomong-ngomong akting kalian berdua tadi mantap juga ya, aku bahkan ingin menangis melihat Kairo" Ejek Reihan dengan sedikit senyuman manisnya.
Kairo dan Alira hanya tersenyum, "Sudah, ayo kita pulang" Ajak Alira. Reihan dan Kairo hanya mengangguk mengiyakan sembari berjalan menuju mobil.
"Baiklah, oh ya Alira, aku salut banget tau sama kamu, kamu bahkan tau banget kelemahan Hardi. Coba aja tadi kamu gak ada, huh aku gak tau lagi nasib Kairo kayak gimana" Ucap Reihan disela perjalanannya menuju mobil.
"Kamu ngeremehin aku ya" Kairo nampak tidak terima dengan ucapan Reihan.
"Ya memang begitu kan, Alira jangan tinggalkan aku, aku tidak ingin kehilangan kamu" Reihan memperagakan akting yang dilakukan oleh Kairo tadi, dengan sedikit senyuman mengejeknya.
"Kamu" Kairo begitu kesal mendengar perkataan Reihan.
"Sudah-sudah, ayo kita pulang" Ajak Alira lagi mencoba menghentikan pertengkaran dua bersaudara itu.
"Tapi Bik Warsih? Bik Warsih mau ikut kami pulang? Bibik sekarang tinggal dimana?" Tanya Kairo kepada Bik Warsih.
"Tidak usah den, bibik bisa pulang sendiri. Rumah Bibik gak jauh kok, baru-baru ini bibik pindah di dekat sini. Terimakasih ya den sudah bantuin bibik, jika tidak ada kalian bibik gak tau lagi gimana nasib bibik. Apa dia istrimu?" Jelas bik Warsih.
"Tidak apa den, Istrimu cantik dan pemberani, kamu begitu beruntung mendapatkan seorang istri seperti dia Kairo. Kalau begitu bibik pergi dulu ya"
"Iya bik terimakasih, hati-hati ya"
"Kamu juga, harus hati-hati" Balas bibik dengan melambaikan tangannya kepada Kairo.
Kini Kairo dan Reihan beserta Alira menaiki mobil sport yang Alira bawa tadi ke Mension itu.
Kairo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak berapa lama, kini mobil mewah mereka sudah membelah jalan raya.
"Sayang, terimakasih ya sudah membantu aku. Tetapi aku sangat menghawatirkan kamu jika kamu melakukan hal seperti itu lagi" Kairo memegang lembut tangan istrinya dengan tetap fokus menyetir.
"Aku sudah bilang, aku akan membantumu hingga masalah ini selesai. Lagi pula masalah ini terjadi juga karena aku" Balas Alira.
__ADS_1
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Hardi lah yang bersalah karena menyukai kamu. Tugasku adalah untuk menjaga kamu dan melindungi kamu" Ucap Kairo dengan begitu lembutnya sembari membelai lembut pucuk rambut Alira
"Terimakasih suamiku, aku mencintai kamu"
"Aku juga sayang"
"Hem, ehem" Sebuah suara deheman dari arah belakang membuat Kairo menatap tajam kearah belakang.
"Dasar tukang ganggu" Batin Kairo dengan perasaan yang begitu jengkel.
"Masih ada orang Woi, nanti dirumah baru sayang-sayangan. Ahh, aku jadi merindukan Aliya" Celoteh Reihan.
Alira hanya tersenyum mendengar perkataan Reihan, sembari menggelengkan kepalanya.
Kini Kairo kembali fokus menyetir dengan kecepatan tinggi, tidak berapa lama mereka pun sampai ke rumah mewah milik Reihan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,,,
jangan lupa vote, like dan komen ya.
__ADS_1
...🌺 Selamat membaca🌺...