MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 100


__ADS_3

"Hari ini aku pulang cukup malam, harus menyelesaikan pekerjaan akhir bulan. Kau tidur duluan saja, jangan menunggu ku" ujar Eza pada sang istri.


Adira yang sedang memakaikan Eza dasi seketika menghentikan gerakan, mendongak menatap Eza.


"Jam berapa?"


"Mungkin jam 10"


"Baiklah, hati-hati berkendara saat malam hari"


"Tentu" sambil memberikan kecupan di kening Adira.


Adira melambaikan tangan ketika mobil Eza meninggalkan pekarangan rumah


"Misi dimulai...." Gumam Adira tersenyum kegirangan.


***


Tari mendekat ke arah dapur ketika ia mencium aroma sedap dibalik ruangan itu, indera penciumannya menebak jika sang menantu lah yang memunculkan bau tersebut.


"Ra?"


Adira menoleh, ia mendapati Tari ada di ambang pintu.


"Mama? Mama butuh sesuatu?"


"Tidak nak, mama tidak sengaja mencium aroma masakan dari dapur. Siang-siang begini kamu masak apa?" Tari mendekat, ia melihat Adira tengah meracik bumbu.


"Adira sedang menyiapkan makanan untuk mas Eza, Ma"


"Lalu kenapa menyiapkan di siang begini?" Cukup heran, tak mungkin kan Adira memasak di siang hari untuk makan malam Eza.


"Emm.... Sebenarnya ini bukan makan malam biasa, Ma" Adira malu-malu mengungkapkan.


"Adira.... Adira berencana membuat dinner kecil-kecilan di balkon kamar" ungkapnya merona.


Tari langsung terperangah, tapi sedetik kemudian ia tertawa.


"Ya ampun.... Mama kira apa, ternyata dinner. Romantis sekali sih menantu Mama ini" puji Tari.


"Kalau gitu kenapa tidak panggil chef saja untuk menyiapkan makanannya?"


"Ah tidak usah, mah. Adira ingin memasak makanan spesial sendiri, Adira yakin masakannya cukup enak kok"


"Mama percaya. Ya sudah, kamu lanjutkan lagi memasaknya, mama akan kembali takut mengganggu fokus kamu hihi. Semoga dinner nya lancar ya" Tari undur diri dari dapur, membiarkan Adira menyiapkan makan malam spesial nanti.


***


Dengan pakaian terbaiknya Adira menunggu Eza pulang malam itu, semua persiapan dinner sudah selesai. Kini Adira mengecek lagi hiasan make up nya di depan cermin.


"Apa aku cantik seperti ini? Aku malu kalau sampai mas Eza menertawakan ku" gumam Adira bermonolog, sambil memutar-mutar tubuhnya guna menilai seberapa bagus Adira malam ini.


Tak lupa, Adira juga mengecek area balkon. Satu meja bundar dengan dua kursi di masing-masing sisinya memberi kesan yang pas untuk seorang pasangan.


Brummm.....


Deru mobil mengalihkan perhatian Adira, ia melihat ke bawah mobil siapa yang datang.

__ADS_1


"Mas Eza!"


Adira tambah berdebar, segera ia mematikan lampu kamar dan menyalakan lilin di atas meja dinner.


Tap.


Tap .


Tap.


Suara tapak sepatu terdengar berirama saat Eza menaiki tangga, apalagi kondisi rumah yang sepi membuat suara itu bak lantunan dram yang dipukul.


Clekkk.


Eza mengernyit ketika kondisi kamarnya dalam keadaan gelap, tak biasanya karena Adira selalu menyalahkan lampu tidur ketika berisitirahat.


Eza masuk, mencari saklar lampu hingga kamar itu pun bersinar kembali.


Tapi justru Eza malah makin bingung, saat tak ada Adira di kamar tersebut, apalagi taburan bunga mawar yang mengarah ke arah balkon membuat Eza bertanya-tanya.


"Siapa yang membuat hiasan ini?"


Eza pun mengikuti kemana bunga mawar itu membawanya, Eza melangkah pelan sampai ia berada di depan pintu balkon.


"Tidak dikunci?"


Tanpa menunggu lama Eza membuka kedua pintu balkon dalam sekali tarikan.


"SUPRISEEEEEE........!!!"


Eza terperangah melihat situasi balkon, sebuah meja yang disiapkan oleh seseorang, sangat terlihat romantis dan berkilau, ditambah taburan mawar serta lilin kecil sebagai hiasannya.


Eza merapat, sambil mengagumi setiap inci tubuh sang istri.


"Kamu cantik sekali malam ini" ujar Eza memuji.


Adira tersenyum puas atas kerja kerasnya. Ia membimbing Eza untuk duduk di salah satu kursi disana.


"Duduklah, mas. Biar aku layani"


Eza menurut, ia menjatuhkan bo kong nya di kursi tersebut.


Adira pun melakukan hal yang sama, kini keduanya sudah saling berhadap-hadapan.


"Maaf, sebelumnya aku tidak memberitahu mas tentang ini. Aku sengaja membuat dinner kecil disini, maka dari itu aku membuat kejutan untuk mas" tutur Adira jujur.


"Ini.... Ini sangat indah, sayang. Kau menyiapkannya sendiri?"


Adira mengangguk membenarkan, "Iya, maaf kalau sedikit berantakan. Karena aku baru pertama kali membuat yang seperti ini"


"Tidak-tidak, ini luar biasa! Aku.... Aku begitu kagum dengan semua kerja kerasmu" Eza membantah, ia sampai dibuat melongo, Adira benar-benar berhasil membuatnya terkejut.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, aku juga menyiapkan makan malam yang spesial, ini... Hasil buatan ku sendiri, semoga mas suka"


Sebuah steak dengan beberapa toping pendampingannya sangat menggugah nafsu makan Eza, padahal ia sudah makan malam sekitar jam delapan tadi, tapi melihat ini tiba-tiba saja perutnya terasa kosong.


Satu potongan Eza masukan ke dalam mulutnya, dan ia merasa lidahnya langsung menari-nari begitu menyentuh makanan tersebut.

__ADS_1


"Sayang, ini enak sekali. Aku sangat suka!"


"Kalau begitu, makanlah ini" Adira menyuapi Eza steak miliknya, Eza pun melakukan hal yang sama. Ia menyuapi Adira makanan miliknya.


Malam itu sangat terasa hangat dan berkesan, meskipun hanya dinner sederhana tetapi sangat berarti untuk dua orang yang kini tengah berdansa diiringi musik instrumental yang memandu tarian mereka.


"Adira, sebenarnya ada apa kau menyiapkan ini semua?" Tanya Eza sambil terus berputar mengikuti musik yang masih berlangsung.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada mas" sahut Adira.


"Apa itu? Sebuah kabar gembira?"


"Bisa dibilang iya, tapi juga bukan sesuatu yang amat mengejutkan" balasnya.


Musik tanpa lirik itu usai, membuat tarian dansa Adira dan Eza ikut berhenti. Namun keduanya masih tidak merubah posisi.


"Kau ingin mengatakan apa? Aku jadi penasaran"


Adira menatap Eza lama, jika diingat lagi ia tak menyangka bisa ada di titik ini. Mencintai lelaki dengan awal pertemuan yang tak biasa, dengan berbagai rintangan serta drama yang hampir memisahkan keduanya, menjadikan Adira seperti Cinderella dalam jilid keseribu.


Malam ini, Adira ingin memantapkan hatinya, kepada siapa dan dimana pelabuhan terakhir akan bermuara.


Dan kalimat itu pun keluar dari bibir manisnya.


"Aku mencintaimu, mas...."


Deg!


Eza termangu, membeku dalam setiap kata yang Adira ungkapkan tanpa aba-aba. Memacu sistem jantung yang membuatnya tak mengerti cara menghentikan, memunculkan ribuan kupu-kupu tak kasat mata yang berterbangan dalam kacamata Eza.


Ingin rasanya ia meletus, menggambarkan suasana hatinya saat ini. Menampilkan bagaimana ia begitu senang mendengar kata-kata indah dari wanita sempurna di depannya.


"Aku ingin hidup bersama mas selamanya, menjadi detak jantung yang selalu membuat mas bernafas setiap harinya, membangun keluarga kecil kita bersama-sama. Dengan lembaran baru yang kita berdua penulisnya, jadilah pelabuhan terakhir ku mas. Aku memberi seluruh cintaku untuk mas, terimalah kasih sederhana ini, detik ini hingga tua nanti"


"Aku mencintaimu, Eza Gibson...."


Cup!


Adira menerbitkan kecupan penuh cinta di dalamnya, menyalurkan segala rasa yang ia pendam selam ini, kini ia tunjukkan pada pria terakhir dalam hidupnya.


"Aku lebih mencintaimu, Adira...."


"Tetaplah menjadi pelengkap dari jiwa penuh kekurangan ini, jangan pernah pergi. Karena aku pasti akan mengejar mu, jadilah ibu dari anak-anakku sampai maut memisahkan kita berdua"


Dan malam itu kedua manusia tersebut saling berbagi cinta, di hadapan bulan yang dipenuhi bintang-bintang. Seluruh alam ikut berbahagia mendengar ungkapan cinta yang berterbangan di sekitarnya, tak ada yang lebih indah dari dua orang yang saling membalas perasaan satu sama lain.


Bukan akhir, tapi justru awal dari segala cerita dimulai.


...(Eza & Adira)...


...*...


...*...


...*...


...*...

__ADS_1


...~TAMAT~...


__ADS_2