MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 64


__ADS_3

Adira juga Eza baru bisa sarapan pada pukul sebelas siang, keduanya tidur sampai jam sepuluh, setelah itu dihabiskan untuk mandi barulah mereka turun ke bawah untuk makan.


"Kalian mau menjemput Elvis hari ini?" Tanya Tari disaat anak dan menantunya selesai menghabiskan makanan.


Adira sempat melirik Eza yang nampak acuh, sebenarnya Adira ingin sekali menjemput putranya, itupun kalau ada yang mengantar Adira kesana.


"Tante Arumi bilang biar mereka yang mengantarkan Elvis kemari, sekalian pamit pada kita semua" ujar Adira menyampaikan.


"Ah begitu, nanti beri tau lagi kapan mereka akan datang. Biar Mama siapkan makan besar untuk menyambut mereka"


"Baik, Ma" Adira mengiyakan.


Selanjutnya Adira serta Eza hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, tidak seperti pengantin baru lainnya yang memilih bermesraan, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Eza sibuk dengan laptopnya, menyelesaikan pekerjaan kantor melalui media elektronik tersebut, akan mencurigakan kalau ia datang ke kantor sehari selepas menikah. Orang-orang akan menatap aneh dan membisikkan sesuatu yang buruk terhadapnya.


Sedangkan Adira tengah membereskan barang-barang miliknya yang baru saja dipindahkan dari kamar Elvis.


Pelayan datang membawakan baju-baju milik Adira.


"Nona, ini barang terakhir yang ada" sang pelayan menyodorkan setumpuk pakaian Nona nya.


"Tunggu, dimana baju tidur ku?" Mengecek satu demi satu tumpukkan kain itu, namun tak ada satupun pakaian tidur milik Adira.


"Nyonya menyuruh kami memisahkan pakaian tidur anda, lalu Nyonya membawanya. Nyonya bilang sudah menyiapkan yang baru, beliau sudah menitipkannya pada Tuan Eza" ungkap si pelayan.


Kedua wanita itu melirik bersamaan pada lelaki yang tengah duduk di sofa, hening... Tak ada satu kata pun dari pria disana.


"Emm... Baik, terimakasih atas bantuannya"


"Sama-sama, Nona"


Setelah menutup pintu, Adira masih berdiri di dekat pintu, takut-takut ia melangkah, lalu berdiri di depan sang suami.


"Tuan...."


"Di pinggir lemari" sahut Eza tanpa mengalihkan fokusnya.


"Hah?" Adira melongo, tetapi kemudian ia segera tersadar, ternyata Eza mendengarkan sedari tadi.


Adira segera berbalik dan mencari barang yang dimaksud.


Sebuah paper bag besar tersimpan di samping lemari besar itu, Adira lantas mengambilnya.


Ia duduk di karpet dan mulai membuka kantong belanjaan yang diberikan Tari.


Satu persatu Adira mengeluarkan setiap gaun yang terdapat didalam sana, dan setiap itu juga matanya membola penuh, bahkan ia membeku ketika tak ada satu pun yang benar dari semua gaun-gaun ini.


Eza menyeringai, ia tau apa yang dipikirkan istrinya, Adira pasti sedang gundah gulana mendapat hadiah spesial dari ibunya.


"Jangan berpikir untuk menolaknya, ibuku sudah susah payah membelinya untuk mu" seru Eza, membuat Adira mendongak disertai wajah yang memerah bak tomat yang baru saja matang.

__ADS_1


"B-baik...." Cicitnya malu.


***


Tak ada yang bisa Adira kerjakan, ia hanya memainkan ponsel sembari rebahan di atas kasur.


Ingin membantu pelayan di dapur pun tak diizinkan oleh Tari, wanita tua itu terlalu khawatir melihat Adira mengerjakan sesuatu yang berat.


Akhirnya ia pun kembali ke kamar dan menghabiskan hari suntuknya.


Eza yang sudah selesai mengerjakan laporan kerja langsung menutup laptop, berdiri dan merenggangkan badannya yang terasa kaku.


Berjalan ke arah ranjang, menatap istrinya yang fokus pada gawai yang menyala.


"Kau bisa memijat?"


Merasa ada yang bertanya, Adira mengalihkan pandangan.


Eza berdiri menatap ke arahnya, dengan tangan yang bertumpu pada pinggang.


"Memijat?"


Adira mencoba mengingat, "Sepertinya saya belum pernah melakukan itu, saya hanya pernah melihat ibu memijat ayah itupun sudah sangat lama, saat mereka masih ada"


"Berarti kau tau kan caranya memijat"


"Itu...."


"Pijat aku, badanku pegal dari kemarin" titah Eza tanpa menunggu persetujuan Adira.


Adira merubah posisi menjadi duduk, ia memandang bingung ke arah sang suami.


"Tapi Tuan, bagaimana jika pijatan saya tidak enak? Dan malah membuat Tuan semakin sakit badan?" Adira ragu untuk melakukannya.


"Coba dulu! Biar aku yang menilai" tak mau ada bantahan, ia benar-benar ingin rileksasi saat ini.


Jari-jari Adira perlahan menyentuh punggung kekar Eza, menekannya hingga ke otot dalam, memberi peregangan pada bagian-bagian yang terasa nyeri dan kaku.


Eza memejamkan mata meresapi setiap tarikan yang Adira beri, meski masih terasa lembut di rasanya, tetapi Eza memaklumi karena Adira baru pertama kali melakukannya.


"Lebih keras lagi" Eza berucap.


"Seperti ini?" Mempraktekkan secara langsung.


"Hmm...." Tanda iya.


Adira mengeluarkan seluruh tenaga untuk memberi Eza pelayanan yang maksimal, beberapa gerakan memijat Adira lakukan sepemahaman nya, Eza yang tak protes membuat Adira lebih yakin untuk mengganti setiap gerakan.


"Naik ke pinggang ku!"


Gerakan tangan Adira seketika berhenti, cukup syok mendengar perintah Eza ini.

__ADS_1


"U-untuk apa?"


"Pijatan tangan mu berbeda dan tidak lurus, lebih baik naik, agar kau juga tidak pegal memijat seperti itu" jelas Eza.


"S-saya akan memperbaikinya, tapi cukup duduk begini saja" menolak naik seperti yang diperintahkan.


"Ck, kau ini! Aku bahkan tidak bisa melihat wajah, tidak usah malu-malu begitu" serunya memaksa.


Nada suara Eza kian meninggi, jika seperti ini pria itu akan tersulut emosi, mau tak mau Adira memilih pasrah.


Dan kini tubuhnya sudah berada tepat di pinggang Eza, tangan Adira kembali bergerak, posisi ini memang lebih nyaman, namun sangat memalukan untuknya.


Lima belas menit berlalu, Eza merasakan pijatan tangan Adira kian melemah, mata pria itu terbuka.


Adira yang masih setia tanpa mengakhiri aktivitasnya tiba-tiba dikejutkan oleh tindakan Eza yang secara mendadak berbalik terlentang menghadapnya!


Adira jelas terlonjak, berbeda dengan Eza yang nampak santai.


"T-tuan....???"


Adira hendak turun dari tubuh sang suami, tetapi belum sempat ia beranjak, Eza lebih dulu menahan kedua lengan Adira membuat perempuan itu menghadap kembali ke arahnya.


"Kenapa kau terus memanggil ku Tuan?" Bertanya di situasi yang sangat intim bagi Adira.


"T-tolong lepaskan saya dulu..." Memalingkan wajahnya sembarangan.


Bukan Eza namanya kalau langsung menurut, ia menarik tangan Adira sehingga tubuh wanitanya maju dan membuat dada mereka saling bersentuhan.


"Apa yang Anda lakukan?!!' teriak Adira kaget.


"Tidak mau menjawab?" Tak menanggapi keterkejutan Adira.


Kedua mata itu saling bersitatap, hembusan nafas sama-sama membelai lawan bicara, detak jantung bisa dirasakan oleh masing-masing insan.


"Mulailah mengganti panggilan mu pada ku"


"S-seperti apa?"


Eza berpikir sejenak, namun ia juga tidak tau panggilan apa yang pantas.


"Sebutan apa yang biasanya kau pakai untuk laki-laki yang lebih tua dari mu?"


Jujur, pikirnya buntu saat ini. Adira tak bisa berpikir jernih, otaknya hanya memerintah ia untuk segera turun dan lari dari jangkauan Eza.


"Katakan...."


"Mas?" Balas Adira cepat, ia spontan menjawab demikian.


Eza mengangkat satu alisnya, menimang-nimang apakah panggilan itu cocok untuknya.


"Coba panggil namaku dengan sebutan itu"

__ADS_1


Adira menarik nafas panjang sebelum dua kalimat di ujung lidahnya keluar menyerukan panggilan tersebut.


"Mas Eza..."


__ADS_2