MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 48


__ADS_3

Adira memutuskan untuk berhenti mempermasalahkan kejadian di ruang keluarga tadi, ia tidak mau menambah beban pikiran hanya karena hal seperti itu.


Toh Eza juga dipaksa oleh Elvis, pria itu tidak punya pilihan sama seperti dirinya.


Eza juga tidak memperpanjang ataupun membahasnya, kenapa ia harus repot, pikir Adira.


Pagi hari menjelang.


Adira bangun lebih pagi, sebab hari ini ia akan menyiapkan keperluan Elvis sekolah. Anak itu sudah sembuh total dari sakitnya, dan harus kembali beraktivitas seperti biasa.


Tak lupa Adira membantu pelayan menyiapkan urusan dapur, sekalian ia menyiapkan bekal untuk Elvis.


Sebelum semua orang beraktivitas, mereka terlebih dahulu sarapan. Keluarga Gibson seperti sudah terbiasa dengan kehadiran Adira meski baru mengenal perempuan itu dalam hitungan jari.


Seusai sarapan, Elvis yang masih memakai setelan rumahan beranjak duluan dari kursi, bocah lelaki itu hendak berlari ke taman belakang.


"El, mau kemana?" Seru Adira, melihat putranya yang ternyata tidak masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


"Hari ini El mau berenang!" Sahut Elvis dengan gembira.


"El tidak sekolah?" Tanya Adira memaku menatap Elvis heran.


Seketika Elvis menunduk gusar, rasa takut dan cemas langsung mengelilingi bocah itu, Adira pasti marah kalau tau Elvis tidak pernah masuk sekolah lagi. Ibunya pasti kecewa Elvis melakukan tindakan seperti ini.


"El.... El udah gak sekolah"


"Apa?!!" Adira syok berat mendengarnya, ia menatap tak percaya pada putranya.


"Bagaimana mungkin?!" Balas Adira terkejut.

__ADS_1


Tari yang berada disana paham akan keterkejutan yang dirasakan Adira, mengetahui Elvis seperti itu pasti membuat Adira kecewa, jujur ia sendiri jadi tidak enak hati pada wanita muda di depannya ini. Bagaimana pun Adira telah membesarkan Elvis sebagai pribadi yang baik dan berbakti, setelah pindah kesini anak itu justru berubah berbanding terbalik.


"El tidak pernah mau pergi ke sekolah, dia hanya ingin melakukannya kalau ada kamu" sahut Tari menimpal.


"Tidak mungkin! Di Sekolahnya dulu Elvis tidak pernah bolos bahkan dia juga menjadi murid yang berprestasi. Kenapa dengan mudahnya El meremehkan hal seperti ini?" Masih tidak menyangka dengan sikap El yang baru, ibu mana yang tidak marah kalau menyangkut masa depan sang putra, meski di hadapan keluarga kandung Elvis, Adira tetap bersikap tegas pada anak yang telah ia besarkan itu.


Elvis mulai berkaca-kaca, ia sudah menduga kalau Adira akan marah. Ia telah membuat ibunya kecewa, bahkan dengan kehidupan Elvis yang seperti sekarang ini Adira tetap tidak senang kalau Elvis bersikap seenaknya pada urusan pendidikan.


Eza tak tinggal diam, ia bangkit lalu menghampiri Elvis yang berdiri sambil menahan air mata. Dalam sekejap Eza menggendong sang buah hati membuat pria kecilnya terisak dalam dekapannya.


"Hikss.... Maaf.... El minta maaf" lirih Elvis ditengah-tengah tangisannya.


Adira menghela nafas berat, ia tidak habis pikir, padahal sudah sebulan Elvis tinggal disini, seharusnya hari demi hari Elvis sudah mulai beraktivitas normal meski tanpa dirinya. Setidaknya untuk sekolah seperti anak-anak pada umumnya.


"Kami sudah berusaha dengan berbagai cara, kami juga pernah memanggil guru privat untuk datang ke rumah. Tetapi El tetap tidak mau dan mengurung diri di kamar, tidak ada kegiatan lain selain bermain dengan koleksi mainannya, jujur kami sendiri bingung harus bertindak seperti apa lagi. Maafkan kami karena tidak bisa mengurus Elvis dengan baik" imbuhnya menyesal karena tidak mampu merubah Elvis dan malah membiarkan anak itu tetap dalam keinginannya sendiri.


"Ini bukan salah kalian, tidak perlu meminta maaf" imbuh Adira menyangkal.


"Sudahlah, El akan mulai bersekolah lagi besok. Iya kan El?" Potong Eza menyimpulkan sendiri, tapi meski begitu Elvis mengangguk setuju.


"Iya.... El janji bakal sekolah lagi" ucap Elvis tersendat.


"Lain kali kita memang harus bersikap tegas, tetapi mungkin akan sedikit sulit karena bisa saja Elvis menganggapnya sebuah amarah karena dia juga belum terbiasa dengan kita" Arian ikut berujar, bukannya mereka tak mau memberi Elvis sedikit penekanan, hanya saja mereka ingin membuat Elvis nyaman dulu, tetapi memang akan sangat lama jika seperti itu caranya.


Adira berdiri melangkah ke arah putranya berada, seketika Adira meraih Elvis dari gendongan Eza. Elvis tentu tak menolak dan memeluk erat ibundanya.


"Lain kali jangan begitu lagi ya, mama seperti ini demi kebaikan El juga. El harus kembali ke sekolah, walaupun El sudah punya segalanya sekarang, tapi El harus tetap mementingkan pendidikan, ada atau tanpa mama sekalipun!" Peringatan keras dari Adira, tak ada negosiasi apalagi bantahan.


"I-iya.... El janji hikss....!" Semakin mendekapkan diri pada sang ibu, baru kali ini ia melihat ibunya semarah ini, El pun tau dimana letak kesalahan dan sadar akan hal itu.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kita belajar dulu di rumah. Mama yang akan membimbing El, El tidak keberatan kan?"


Elvis menjauhkan sedikit badannya guna bersitatap dengan Adira.


"Enggak kok, El mau asal mama gak marah lagi" ungkapnya tersedu-sedu.


"Mama tidak marah, El. Jangan dibawa hati, maaf kalau El jadi takut" yang malah berbalik maaf.


Kini masalah pun sudah selesai, El berjanji akan menjadi anak yang rajin lagi. Ia akan giat bersekolah dan membuktikan pada Adira kalau ia bisa menjadi siswa yang berprestasi dan membanggakan ibundanya.


Eza yang berdiri tak jauh dari Adira menyaksikan drama barusan dengan seksama, tak ada protes dari pria itu, Eza nampak diam dan membiarkan Adira menyikapi Elvis sebagai mestinya.


Pria itu mengakui jika semua ini berasal darinya, ia yang membuat Elvis berubah, ia sendiri juga yang tidak bisa mengurus Elvis, ia tidak paham sama sekali tentang menjadi orang tua yang bijaksana.


Ia tidak berani menyela ketika Adira murka, dulu ketika Eza masih kecil dan malas untuk berangkat sekolah Tari juga memarahinya persis seperti ini. Mungkin semua ibu pun demikian, ditambah Elvis yang justru berhenti sekolah selama sebulan, seharusnya Adira bisa marah lebih dari yang sekarang.


Lama pria itu termenung, sampai ia sadar jika Adira dan Elvis sudah tidak ada disana dan pergi ke kamar anak.


Saat itu juga Tari bersuara.


"Za, sudah waktunya kamu berangkat ke kantor"


"Iya ma, Eza titip Elvis"


"Jangan pulang terlalu sore, sempatkan waktu lebih banyak untuk Elvis. Kamu harus berhasil mengambil hatinya dalam waktu dekat, karena sebentar lagi Adira akan pulang" ujar Tari memperingati, meskipun tidak mungkin bisa melakukannya, yang penting mereka semua sudah berusaha semaksimal mungkin.


Eza langsung memasang wajah serius, tak bisa dipungkiri ia cukup terkejut.


"Kapan dia pulang?" Balas Eza cepat.

__ADS_1


"Sekitar lima hari lagi, kamu jangan senang dulu, justru ini awal mula masalah bagi kita karena harus siap menghadapi sikap Elvis seperti waktu itu" Tari yang salah paham dengan pertanyaan Eza, ia pikir Eza tidak sabar menunggu Adira pergi dari sini.


Sedangkan Eza tercengang mendengar Adira yang akan kembali ke Malang dalam waktu dekat.


__ADS_2