
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
...
...
...
Hampir sepuluh menit masih belum muncul tanda-tanda Eza akan keluar, Adira makin gelisah, ia tidak akan bisa tidur jika harus sekamar dengan laki-laki lain.
Adira pun mencoba mengangkat sedikit kepalanya untuk memastikan Eza sedang apa saat ini.
Dan alangkah terkejutnya ketika Adira melihat Eza tertidur disana, seketika ia melotot.
"Apa?? Bisa-bisanya dia ketiduran!" Gumam Adira.
"Bagaimana ini? Aku tidak mau tidur sekamar dengannya meskipun ada Elvis disini" Adira berpikir keras dalam hati.
"Aku juga tidak mau orang-orang berpikiran buruk tentangku, ini tidak boleh dibiarkan. Dia harus keluar!"
Akhirnya Adira memutuskan untuk membangunkan Eza saat itu juga, pelan-pelan Adira bangkit lalu memutar ranjang hingga ia berdiri tepat di depan Eza.
Tapi Adira jadi bingung bagaimana cara mengusir Eza dari kamar ini, pria itu pasti marah karena sudah diganggu tidurnya oleh Adira, apalagi kalau Eza memang berniat tidur dengan Elvis dan bukannya ketiduran.
Adira merremas jari-jari sembari berpikir berulang kali.
Tidak! Aku tidak boleh takut kalau memang Tuan Eza marah, yang terpenting aku tidak satu kamar dengannya.
Setelah mengumpulkan keberanian Adira pun lantas membangunkan Eza dengan cara mengguncangkan lengan pria tersebut.
"Tuan...."
"Tuan Eza, bangun...."
"Tuan......"
Awalnya hanya gerakan pelan, tapi Eza justru tidak bangun-bangun, hingga Adira tanpa sadar mengguncang lengan Eza dengan keras.
"Tuannnnn......!"
Dan sepertinya cara ini cukup berhasil, Eza nampak terusik karena ulah yang dilakukan Adira.
__ADS_1
Kelopak matanya pelan-pelan terbuka dan langsung bersitatap dengan bola mata si pengganggu tidurnya.
"Tuan?"
Seketika Eza terbelalak hingga mengubah posisinya menjadi duduk. Adira pun ikut terperanjat dan mundur kebelakang.
"Apa yang kau lakukan?!!" Belum apa-apa Eza sudah menggeram kesal.
"M-maaf telah mengganggu tidur Anda, t-tapi.... Anda harus pindah kamar, Tuan" ujar Adira terbata-bata.
Eza menautkan kedua alisnya, ia masih belum menyadari maksud ucapan Adira.
"Atas dasar apa aku harus pindah?! Ini rumah ku, hak ku mau tidur dimana pun" Eza tak terima.
"T-tuan.... Saya bukan bermaksud mengusir anda, saya hanya mengingatkan kalau anda tidak bisa tidur disini karena ada saya, tidak baik jika perempuan dan pria dewasa tidur dalam satu ruangan" jelas Adira meluruskan, harusnya Eza mengerti dan bukannya salah paham begini, tapi Adira berpikir positif saja barangkali Eza terbawa emosi karena tidurnya terganggu.
Eza membenarkan hal tersebut, jujur saja tadi ia ketiduran karena mendengar dongeng tidur Adira, pikiran Eza tiba-tiba saja tenang dan tanpa sadar terlelap tanpa bisa dicegah.
"Kalau begitu kau saja yang pindah! Aku mau tidur dengan Elvis" bukannya menurut Eza malah menyuruh Adira yang keluar.
"Tapi Tuan, bagiamana jika Elvis terbangun dan mencari saya?"
Lagi-lagi ucapannya harus dibenarkan, Eza mengacak-acak kasar rambutnya, ia dibuat frustasi dengan semua ini, selalu harus ia yang mengalah!
Adira yang melihat itu entah kenapa malah merasa kasihan, Eza mungkin sangat menginginkan tidur dengan Elvis, sayangnya Adira tak bisa beranjak dari sana karena permintaan Elvis sendiri yang menginginkan tidur dengan Adira.
Eza menoleh ketika mendengar ucapan wanita yang berdiri disampingnya.
"Supaya anda bisa tidur dengan Elvis" sambung Adira.
Tak ada tanggapan apapun yang keluar dari mulut Eza, lelaki itu memilih bangkit dan keluar dari kamar Elvis meninggalkan Adira yang masih berdiri menatapnya.
***
Sarapan dilakukan dengan hikmat, semua orang mengucap syukur atas kenikmatan yang diberikan Tuhan dihari yang cerah ini.
Pulangnya Elvis ke rumah menjadi salah satu bagian terpenting yang membuat keluarga tersebut dipenuhi kehangatan.
Apalagi pagi ini anggota yang mengikuti sarapan ketambahan satu orang, yang tak lain dan tak bukan yaitu Adira. Wanita itu juga membuat suasana makan pagi ini serasa lebih ramai dari biasanya.
Selesai sarapan Adira hendak membantu para pelayan membawa piring kotor ke belakang.
"Adira tidak perlu repot-repot, nak. Kamu duduk saja biar pelayan yang mengurusnya" titah Tari menyuruh Adira agar tetap diam di kursinya.
"Saya tidak merasa kerepotan kok, Nyonya. Justru saya tidak bisa kalau tidak berkegiatan" ungkap Adira tetap ingin membantu para pelayan.
__ADS_1
"Nyonya benar, biar kami saja, Nona. Masih banyak pelayan di belakang" sahut salah satu perempuan berseragam itu.
"Benar Adira, kamu kan tamu kami. Sudah sewajarnya kamu mendapatkan pelayanan, duduklah... Santai saja" imbuh Arian ikut menimpali.
Tak mau memaksa permintaan Tari dan Arian, Adira pun membiarkan para pelayan yang mengerjakannya.
"Hari ini saya mau mengajak kamu ke mall, Adira. Saya ingin membelikan kebutuhan-kebutuhan kamu selama tinggal disini, saya tau keperluan kita sebagai perempuan tidak sedikit, makanya saya mau kamu yang memilih sendiri nanti" ujar Tari.
Adira mungkin berbeda dari wanita pada umumnya, jika wanita biasanya senang diajak berbelanja, tetapi perempuan yang satu ini nampak ragu untuk sekedar mengiyakan.
"Saya rasa keperluan saya sudah tercukupi, Nyonya. Saya masih memiliki pakaian yang anda belikan panca di rumah sakit, saya masih bisa memakainya"
"Kebutuhan yang lain? Skincare? Makeup? Emm.... Vitamin mungkin, atau apapun itu" kata Tari mengabsen satu persatu hal yang kiranya dibutuhkan oleh wanita seusia Adira.
"Saya bisa menundanya lain waktu..."
"Hahaha.... Adira, saya tau kamu ini orangnya tidak enakkan. Tapi kami tidak mau kamu menyiksa diri kamu sendiri seperti ini, kali ini kami memaksa Oke? Bukan begitu, Eza?"
Eza yang tengah meminum air hampir tersedak manakala sang ibu melontarkan persetujuan padanya. Padahal ia tidak memikirkan hal itu apalagi memaksanya, tapi Tari malah membuat Eza terkesan andil didalamnya.
"Terserah saja..." dua kata itu yang muncul di otak Eza.
"Nah Eza juga setuju, sebaiknya list dari sekarang apa-apa saja yang akan kamu beli disana. Jangan sungkan, kalau bisa beli juga barang yang kamu inginkan"
"Yeayyyyy..... Kita ke mall" bukan Adira ataupun Tari, Elvis justru yang terlihat antusias.
"Cucu Opah kelihatannya senang sekali"
"El seneng banget! Udah lama El gak pergi ke mall sama mama"
"El mau ikut?" Tanya Tari.
"Mau, Oma!!" Jawabnya cepat.
"Nanti kita beli eskrim kesukaan El ya, ma" Adira hanya bisa mengangguk, setiap pergi ke mall makanan satu ini selalu jadi tujuan utama mereka.
"Jam berapa kita pergi, Oma?"
"Jam sepuluh kita berangkat, siap?" Dan dianggukki oleh bocah tersebut.
Seperti terlihat acuh, Eza yang sedari diam saja tiba-tiba berceletuk.
"Papah titip eskrim coklat dan red Velvet"
Sontak, semua orang menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan lupa pakai toping meses warna-warni diatasnya" tambah Eza tanpa mempedulikan tatapan disekitar.