MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 43


__ADS_3

"Dan lagi, saat itu saya merasa nasib kami serupa. Tidak punya keluarga dan sebatang kara... Adanya Elvis membuat saya mempunyai tujuan hidup, ada yang harus saya hidupi, beberapa rencana kian bermunculan hingga saya lupa akan kesedihan"


"Kami pernah punya impian bersama-sama, tapi sekarang Elvis sudah mendapatkan semua.... Saya ikut senang" ungkap Adira tulus, padahal di dalam hatinya ada rasa tak rela kehilangan Elvis, bukan karena iri melihat keadaan Elvis sekarang jauh lebih baik.


"Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, apalagi Elvis mengenal kamu dari bayi. Tidak akan mudah untuk kalian berpisah, di satu sisi Elvis harus tinggal bersama Eza ayah kandungnya, tapi disisi lain ia terbiasa dengan sosok ibu yaitu kamu" kata Elen memikirkan nasib keponakannya, tidak tega kalau Elvis harus kehilangan salah satunya, dulu Elvis kehilangan sosok seorang ayah, ketika Eza datang Elvis justru kehilangan sosok ibu.


Kini melihat Adira dan Eza berada dalam satu tempat yang sama Elvis tampak sangat ceria, wajahnya tidak murung lagi, mungkin karena hatinya tidak gelisah seperti kemarin-kemarin.


"Itu yang bibi pikirkan saat ini, Len. Andai saja ada cara lain supaya Elvis bisa terus bersama dengan Eza dan Adira" sanggah Tari khawatir, sudah sejak lama ia memikirkan hal tersebut.


"Bibi tidak setuju kalau harus memisahkan Elvis dan Adira dengan cara paksa seperti waktu itu, Elvis sangat tersiksa sampai tak mau melakukan aktivitas apapun, kami semua dibuat bingung apalagi Eza tidak mau mendengar permintaan kami" tutur Tari mengeluhkan kejadian satu bulan terakhir, dimana masa-masa sulit mengurus Elvis yang membuat mereka kewalahan dan hampir angkat tangan.


"Andai saja Eza mau menikahi Adira, semua pasti akan berjalan mulus" celetuk Elen, yang malah terkekeh ketika Adira menatap kaget padanya.


"Untuk yang satu itu saya juga tidak mau, Elvis memang penting untuk kami, tapi saya tidak setuju kalau harus melaksanakan pernikahan dengan alasan demikian, pernikahan adalah suatu hal yang sakral, saya menginginkan menikah sekali seumur hidup" Adira tak terima, banyak lelaki yang serius padanya tapi ia tolak, jadi mana mungkin Adira menerima pernikahan dengan laki-laki yang tidak ada pedulinya sedikitpun.


"Lagi pun Tuan Eza tidak akan mungkin mau dengan saya, bahkan.... Sepertinya beliau masih menyimpan kebencian terhadap saya" sambung Adira.


"Huh... Anak itu memang keras kepala, dia menyamai semua wanita dengan mantan istrinya. Padahal sudah ku bilang rasa benci pada satu orang jangan dibawa-bawa pada orang lain" Tari geleng-geleng kepala merasa frustasi dengan sikap sang anak.


"Apa kamu tidak mau pindah lagi ke Jakarta, Ra? Dengan begitu kamu bisa bertemu Elvis kapanpun bahkan setiap hari" usul Elen memberi saran.


"Saya tidak berani hidup sendirian di Jakarta sekarang, orang-orang terdekat saya berada di Malang semua. Akan sangat beresiko kalau saya memaksakan diri" ucap Adira.


Elen dan Tari menghela nafas panjang, memang benar tidak baik jika Adira harus tinggal di Ibu Kota apalagi tidak punya kerabat yang dekat dengannya. Kejahatan disini semakin banyak, apalagi terhadap kalangan perempuan.


"Kita pikirkan lagi nanti, sekarang yang terpenting Adira ada disini dan kita bisa mencari jalan keluar dengan tenang" seru Tari.


"Adira akan tinggal disini? Berapa lama?" Elen menyahut.


"Paling lama sekitar seminggu" Adira memperkirakan.

__ADS_1


"Apa tidak bisa lebih lama lagi, Ra?" Tari merasa tujuh hari sangatlah sebentar dan tidak akan terasa pastinya.


"Ada beberapa yang harus saya urus di Malang, termasuk pekerjaan yang tertunda, saya tidak enak jika terlalu lama menunda apalagi saya izin hanya beberapa hari saja"


"Ya sudah... Nanti kita bicara bersama-sama bagaimana baiknya"


***


"Yeayyyy...... Malam ini El tidur sama Mama!!" Elvis bersorak riang di atas tempat tidur, setelah sekian lama ia tidur sendiri hari ini sang ibu akan menemaninya di kamar Elvis yang baru dan luas, sangat jauh berbeda dengan kamarnya dulu.


Adira tertawa melihat tingkah lucu putranya, sudah sejak tadi sore Elvis memaksanya tidur bersama, akhirnya terkabulkan juga.


Tari masuk membawakan sebuah pakaian di tangannya.


"Ra, ini piyama tidur milik saya. Malam ini kamu pakai baju ini dulu ya, besok kita keluar untuk membeli kebutuhan kamu selama seminggu"


"Tidak usah repot-repot, Nyonya. Saya tidur pakai kaos ini saja" tolak Adira tak enak, ia tidak masalah tidur menggunakan kaos pemberian Tari saat di rumah sakit lalu, yang kini melekat di tubuh rampingnya.


"Haisss.... Jangan, nanti tidak akan nyaman. Pegang ini" Tari menyodorkan piyama miliknya pada Adira.


"Terimakasih Nyonya, maaf merepotkan Anda terus"


"Merepotkan apanya, justru saya ini selalu kepikiran tentang kamu. Takutnya kamu tidak nyaman disini, jadi bilang saja ya kalau kamu butuh sesuatu" entah yang keberapa kali Tari mengatakan hal demikian.


"Oma, malam ini El bakal tidur bareng mama" seru Elvis memberitahu.


Tari pura-pura terkejut, padahal sudah bisa menebak jika Elvis pasti akan meminta Adira tidur bersamanya.


"Oh ya??? El kan sudah besar, masa tidur saja masih ditemani"


"Soalnya El masih kangen sama Mama, El juga mau nunjukin mainan-mainan El, El juga mau diceritain dongen tidur, terus.... Bla bla bla" dengan panjang lebar Elvis berceloteh mengeluarkan semua kata yang ada di otaknya.

__ADS_1


"Hahaha.... Iya iya Oma mengerti, lakukan apa yang El inginkan dengan mama Adira ya. Malam ini milik kalian berdua, tapi ingat jangan bergadang, kamu baru sembuh harus jaga kesehatan" Tari menasihati.


"Iya, Oma. El janji gak akan bergadang. Iya kan ma?" Adira mengangguk setuju.


"Ya sudah Oma keluar dulu, besok jangan lupa bangun pagi untuk sarapan bersama. Selamat malam semuanya" dan punggung Tari pun hilang dari balik pintu kamar.


"El tunggu sebentar, mama mau ganti baju dulu di kamar mandi"


"Oke, ma!"


Adira lantas masuk ke dalam bathroom meninggalkan El yang masih meloncat-loncat ria di atas kasur.


Selang beberapa detik pintu kamar Elvis dibuka dari luar, seorang pria muncul dengan pakaian tidur berwarna biru navy, siapa lagi kalau bukan Eza Gibson.


"El.... Belum tidur?"


"Om? Kenapa kesini lagi?" Bukannya menjawab Elvis malah melontarkan pertanyaan pada si penanya. Sebab baru satu jam lalu Eza kemari, kini sudah datang kembali. Memang hal yang biasa Eza sering masuk ke dalam kamar Elvis untuk memastikan anak itu, tapi karena sekarang ada Adira, seharusnya Eza tidak perlu terlalu sering melakukannya.


"Loh... Papah kan selalu menemani El sampai tidur" Eza terheran, seharusnya El tahu kebiasaan Eza setiap hari.


"Tapi kan sekarang ada mama Adira, mama yang bakal temenin El tidur" seru anak tersebut.


Ah aku lupa! Wanita itu pasti tidak akan jauh jauh dari Elvis bahkan ketika tidur sekalipun.


Tapi... Dimana dia sekarang?


Eza mengedarkan pandangan ke penjuru kamar, ia tidak menemukan sosok Adira disana. Atau mungkin Adira masih di luar untuk mengambil sesuatu.


Clekkk....!


Suara pintu kamar mandi yang terbuka sontak menarik perhatian Eza.

__ADS_1


Disana, ia bisa melihat Adira yang sudah siap dengan piyama tidur berwarna maroon, tengah menatap terkejut padanya.


"T-tuan?"


__ADS_2