MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 84


__ADS_3

Eza pulang ke rumah ketika sore hari, tadi malam ia tidak pulang dan hari ini Eza memutuskan pulang lebih awal, tak mau membuat kedua orang tuanya curiga.


Sebenarnya Eza banyak merenung di kantor, ia juga banyak curhat dengan asistennya terkait Adira yang mengetahui rencana Eza.


Asisten Rafa pun terkejut kalau istri bosnya itu mengetahui percakapan mereka tempo lalu, asisten Rafa cukup menyesal karena ia tidak bisa membujuk Eza untuk mengubah rencana kuno nya ini.


Eza masuk ke dalam rumah, Eza langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Ketika membuka pintu ia tak mendapati Adira disana, tak ada gemercik air pula, Eza pun memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Benar saja, disana kosong.


"Mungkin dia sedang di dapur atau taman belakang menemani Mama" pikir Eza.


Sambil membuka kedua kancing kemejanya Eza membuka lemari baju untuk mengambil pakaian ganti.


Akan tetapi pandangannya teralih pada baju-baju Adira yang kosong, hanya tersisa dua setel saja. Alis Eza mengernyit bingung, pikirannya pun mulai mengarah kemana-mana.


Eza mengedarkan pandang ke arah koper disimpan.


Deg!


Kopernya hanya tersisa satu! Sudah dipastikan baju-baju Adira dibawa melalui koper yang satunya.


Tak jadi mengganti pakaian, Eza memilih keluar dan turun ke lantai bawah.


Berlari menuruni anak tangga, mencari keberadaan Adira di dapur, tetapi hanya ada para pelayan disana.


"Tuan Eza? Ada yang bisa kami bantu?" Seru pelayan ketika majikan mereka muncul tiba-tiba.


Tak menyahut, Eza langsung beralih lagi ke taman belakang. Disana Eza mendapati kedua orang tuanya serta Elvis yang tengah bermain layang-layang ditemani oleh Arian, sedangkan Tari menyirami tanaman.


"Za? Akhirnya kamu pulang juga" menyadari keberadaan putranya.


"Dimana Adira?" Melontarkan pertanyaan pada sang ibu.


"Lho, kamu belum tau? Adira pergi ke Malang"


"APA???" terkejut bukan main, firasat buruk melayang pada pertengkaran mereka sewaktu di hotel, pikiran Eza menebak kalau kepergian Adira disebabkan masalah itu.


"Kenapa kalian tidak cegah?!!" Eza kalang kabut, malah menyalahi orang-orang rumah.


Tari dibuat tercegung, merasa tak terima malah disalahkan, padahal Adira ke Malang untuk memperingati kematian orangtuanya, wajar kalau ia mengizinkan Adira kesana. Seharusnya Eza juga sebagai suami ikut mendampingi Adira bukannya malah sibuk dengan urusan kantor.


"Kamu ini suami macam apa sih, Za! Lagipula kalau memang tidak mau Adira pergi ya harusnya kamu pulang kemarin!" Tegur Tari membalikkan fakta.


Eza menjambak rambutnya frustasi, berhari-hari tak ada komunikasi diantara mereka, membuat Eza mengira semua berjalan dengan normal.


"Dia kabur! Aku tak mengira di senekat ini!"

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut?" Arian menyahut, mendengar anak dan istrinya berdebat.


"Anakmu ini, Pah. Malah menyalahkan kita karena membiarkan Adira pergi" tunjuk Tari.


"CK CK CK, tidak baik marah pada orang tua. Kamu tenang saja, semuanya baik-baik saja, Elvis juga asyik bermain selagi Adira tidak ada" tambah Arian.


Elvis? Tatapan Eza terpusat pada putra semata wayangnya, bocah itu terlihat tidak seperti kehilangan Adira.


Eza ingat jika dia pernah berkata kalau dirinya akan melepaskan Adira ketika Elvis sudah tidak membutuhkan wanita itu lagi, dan selama beberapa hari ini ia tidak tidur dengan sang istri, pasti membuat Adira berpikir kalau Eza sudah tidak bermimpi buruk lagi.


Eza makin frustasi, ia pun berlari lagi ke dalam rumah, mengambil ponsel beserta kunci mobil.


Ketika menuruni tangga Tari melihat putranya hendak keluar rumah.


"Kamu mau kemana Za? Kamu baru sampai beberapa menit yang lalu"


"Aku mau menyusul Adira!"


"Apa? Sekarang?" Tari menganga.


"Za, kamu serius?! Menggunakan mobil?" Tari tak percaya.


"Tidak, aku akan menyuruh Rafa memesankan tiket pesawat" tutur Eza.


"Aku titip Elvis pada kalian"


Ketika melihat kepergian Eza pun Tari masih bertanya-tanya.


"Ada apa dengan dia? Seperti mendengar kabar Adira kritis saja. CK, sebegitunya dia mendengar Adira pergi" Tari geleng-geleng heran.


***


Sesampainya di Malang, Adira langsung singgah ke rumahnya sendiri. Ia memesan taksi dari bandara.


"Ini pak, uangnya"


"Terimakasih, mbak" menerima lembaran uang dari penumpangnya.


"Sama-sama" Adira keluar dari taksi tersebut.


Seorang tetangga melihat dari dalam gerbang rumah, begitu melihat Adira kedua alisnya terangkat ke atas. Dengan segera ia berjalan menghampiri wanita itu.


"Mbak Adira?"


Adira berbalik lagi, ternyata tetangganya lah yang memanggil.


"Ya ampun mbak, sudah pulang?"

__ADS_1


"Iya mbak, Dian" Adira tersenyum ramah.


Sang tetangga mengedarkan pandangan, tak menemukan orang lain selain Adira.


"Mbak pulang dengan siapa? Sendiri?"


"Betul, mbak Dian. Saya pulang sendiri karena besok mau ke makam orang tua"


"Elvis tidak ikut mbak? Emm.. Suami mbak Adira?" Jiwa keponya meronta-ronta, apalagi setelah perginya Adira banyak gosip yang ia dengar.


"Elvis ada ujian di sekolahnya, suami saya juga tidak bisa cuti" jelas Adira.


"Oalahhh.... Gitu toh, ngomong-ngomong selamat ya mbak atas pernikahannya. Saya kaget waktu dengar dari Bu Arumi kalau mbak Adira menikah dengan ayah kandung Elvis"


"Terimakasih mbak Dian, maaf ya kalau saya tidak bisa mengundang kalian"


"Ah tidak apa-apa mbak, yang penting pernikahan mbak Adira lancar. Mbak bakal pulang lagi ke Jakarta nanti?"


Adira mengangguk membenarkan, "iya, suami saya kerja disana dan saya juga mesti ikut"


"Terus rumah ini akan dikosongkan saja, mbak?"


"Emm... Sepertinya begitu"


Mereka pun berbincang-bincang, cukup lama karena para tetangga yang lain berdatangan begitu melihat Adira.


Setelah tiga puluh menit barulah Adira bisa masuk ke kediamannya, ia menghirup dalam-dalam oksigen di rumah tersebut, rasa rindu merajalela bahkan setelah Adira menginjakkan kaki di ubin rumah.


Bahkan keadaan rumah masih bersih hanya sedikit debu yang menempel.


"Sepertinya pekerjaan ku cukup banyak disini"


Adira segera naik menuju kamarnya untuk menyimpan barang-barang, istirahat sebentar sebelum memulai membersihkan seluruh isi rumah.


Selain itu banyak yang akan Adira lakukan selama di Malang, setelah pulang dari makam rencananya Adira ingin mengunjungi toko roti milik Qia serta menyapa teman-teman Adira disana.


Adira bangun ketika petang menjelang, rasa lelah serta suasana yang hening membuat Adira kebablasan sampai tidur beberapa jam.


Tak mau membuang-buang waktu, Adira bangkit dan membersihkan diri, barulah Adira mulai membereskan rumah.


Ketika melihat isi kulkas Adira lupa jika tak ada stok makanan untuk dirinya memasak.


"Aku harus ke supermarket sekarang, untung saja aku masih punya sedikit tenaga untuk keluar"


Dengan memakai mobil yang sudah lama tidak ia gunakan Adira pun pergi ke supermarket untuk berbelanja.


Dan kembali ketika hari mulai gelap, Adira langsung memasak untuk makan malamnya hari ini.

__ADS_1


Tanpa Adira ketahui jika Eza sedang menyusulnya kesini.


__ADS_2