MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 53


__ADS_3

Tak pernah terbesit dibenaknya, Adira akan berada di situasi semacam ini. Seperti sebuah pilihan antara hidup dan mati, mana yang harus ia pilih.


Apakah ia harus mengorbankan masa depannya demi berada di samping Elvis, ataukah ia harus melanjutkan hidupnya untuk mencari masa depan yang sempat Adira kubur dalam-dalam.


Ada pertemuan pasti ada perpisahan, itulah yang Adira rasakan kembali pada seseorang yang sama.


Hari yang sama sekali tidak dinanti-nanti pun datang dengan sendirinya.


Minggu terasa seperti hitungan menit yang merambat cepat, memakan semua sisa waktu Adira bersama Elvis, dan sampai detik ini anak itu belum tau kalau Adira akan pulang menuju Malang.


Tak ada satu orang pun yang berani memberitahu, mereka tak tega melihat reaksi Elvis yang pasti akan berlangsung dramatis.


Sebab itu Adira memutuskan untuk pulang dihari Elvis bersekolah, agar ketika Elvis kembali ke rumah ia sudah tak menemukan sosok Adira.


Tadi malam Adira sudah berpesan pada Elvis, walaupun Elvis tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.


"El ada yang ingin mama sampaikan..."


"Tetaplah jadi anak yang baik dan penurut, lakukan apapun yang dinasehati oleh Oma, Opah, dan papahmu. Mereka semua sangat menyayangi El" sembari mengusap surai lembut putranya yang memeluk Adira ketika mereka hendak tertidur.


"Bersekolah yang rajin disini, gapai cita-cita El setinggi mungkin. Apapun yang terjadi El harus tetap berfokus pada masa depan El, jangan mencari yang tidak ada, semua yang terbaik sudah disediakan untuk El disini" dengan suara bergetar menahan isak tangis.


El hanya mengangguk patuh, sebab ia menduga kalau itu hanyalah kata-kata bijak sebelum tidur yang biasa Adira sematkan di setiap malam untuknya.


Tanpa tau apa makna tersirat yang sebenarnya.


Semua sudah berkumpul di ruang tengah, menunggu dengan gelisah Adira yang masih berada di dalam kamar, tengah bersiap-siap untuk kepulangannya.


Adira keluar dengan hanya membawa tas kecil miliknya yang ia bawa dari Malang, selebihnya ia menyimpan di lemari Elvis sebab semua barang itu pemberian dari Tari, Adira merasa tak berhak membawanya.


"Lho Ra, kemana kopernya?" Begitu melihat Adira keluar.


"Saya bawa tas milik saya saja Nyonya, barang yang lain saya kumpulkan di lemari Elvis paling bawah, itu barang milik Nyonya"


"Padahal bawa saja Ra, itu kan kita beli untuk kamu. Lagipula saya tidak mungkin memakainya"


Adira tersenyum teduh, ia tidak ingin membawa apapun dari sini, karena pasti Adira akan teringat terus Jakarta saat di Malang nanti.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Maaf saya tidak bisa menerimanya" ujar Adira secara halus, tak mau menyinggung wanita yang sudah sangat baik kepadanya.


Tari menghela nafas pasrah, mau bagaimana lagi. Ia juga tidak mau mempermasalahkan tentang barang-barang itu, Adira memakainya saja ia sudah sangat bersyukur.

__ADS_1


"Baiklah, duduk sini nak" menepuk sofa di sebelahnya.


Adira melangkah mendekat, kemudian menjatuhkan bookongnya tepat dimana Tari menunjuk.


Memegang erat tasnya sembari menundukkan kepala, terlalu sedih melihat wajah orang-orang disekitarnya, tak terkecuali Eza yang bergeming disana.


"Kamu sudah siap?" Ucap Tari dengan suara halus yang mendayu-dayu.


"Sudah, Nyonya" lirih Adira.


"Yakin tidak mau tinggal beberapa hari lagi disini? Kamu pasti masih merindukan Elvis" masih berusaha membujuk Adira.


Tetapi sayang, wanita itu tetap menggeleng.


"Maaf..... Bukannya saya tidak mau, tetapi lebih cepat saya pergi akan semakin baik Elvis menerima kepergian saya" tolaknya halus.


Tari mengerti, ia tak mau memaksa Adira seperti pasir yang digenggam dengan erat namun akan cepat menghilang.


"I-ini......" Adira menyodorkan secarik kertas kepada Tari.


"Apa ini, nak?" Sebelum membaca isi kertas tersebut.


"Itu hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Elvis, saya mencatatnya sebagai pencegahan barangkali kalian butuh suatu saat nanti" ungkap Adira berinisiatif, meski jarak memisahkan mereka tetapi Adira ingin tetap menjadi pelindung bagi sang buah hati.


"Sama-sama, Nyonya. Saya merasa lebih tenang jika melakukan itu" balasnya.


Seorang pria berseragam masuk ke dalam rumah, ia menundukkan kepala sebagai rasa hormat kepada para majikan yang sedang duduk di sofa.


"Mobil sudah siap, Nona" ujarnya memberitahu.


Seketika perasaan semua orang langsung tidak karuan, tinggal menghitung menit Adira akan pergi dari sini, mereka sengaja memfasilitasi Adira dengan menyiapkan mobil pribadi yang akan mengantarkan Adira ke kota tujuan, agar mereka juga bisa tenang akan keselamatan Adira diperjalanan.


"Baik, pak. Tunggu diluar, kami akan segera kesana" balas Tari, sang supir pun mengangguk paham dan lantas keluar.


"Apa sudah waktunya?" Seru Arian yang sedari tadi diam.


"Hmm.... Sepertinya begitu" kata Tari seadanya.


"Kita antar sampai ke depan" lanjutnya.


Adira dan sepasang suami-isteri itu pun bangkit bersama-sama, sedang pria yang asyik membisu itu tak kunjung bergerak sedikit pun.

__ADS_1


"Za, kamu tidak ikut mengantar Adira?"


Yang ditanya malah memalingkan muka, "Kalian saja" jawabnya singkat.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya tidak keberatan" Adira menyela.


"Tuan Eza, saya pamit pulang dulu. Terimakasih dan maaf jika salah pernah punya salah, saya titip Elvis pada Anda. Saya pamit...." Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut Adira, padahal tadinya ia tidak ingin berpamitan pada Ayah dari Elvis itu.


Adira dan yang lain pun berjalan keluar, ketika mereka sudah tidak terlihat lagi, ekor mata Eza tertarik mengarah ke pintu, tatapan sayu menghiasi pria berwajah tegas disana, hatinya resah namun gengsi mengalahkan semua.


"Kopernya, Nona?" Sang supir meminta.


"Tidak ada, pak. Saya hanya bawa tas kecil saja"


"Ah, baiklah" cukup bingung mendengarnya.


Kini Adira berbalik menatap kedua orang tua yang nampak terlihat begitu lelah, guratan hitam di bawah mata menandakan semuanya.


"Nyonya, Tuan.... Saya pamit pulang, terimakasih banyak atas semua yang sudah kalian beri, saya tidak bisa membalasnya. Saya titip Elvis pada kalian, saya yakin perlahan-lahan Elvis akan berubah lebih baik" tutur Adira sebelum memasuki mobil yang sudah menunggunya.


Tari tak bisa menahan genangan air di pelupuk matanya, ia pun memeluk Adira dengan tersedu-sedu.


"Terimakasih Ra.... Kami banyak salah padamu, kami minta maaf... Hiksss!! Hati-hati, jaga diri kamu baik-baik disana" setelah itu Tari melepas pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Adira.


"Berbahagialah Ra, kamu sudah banyak berkorban untuk Elvis"


Tenggorokannya terasa tercekat, Adira hanya mampu mengangguk sebagai tanggapan.


Kini ia beralih pada Arian, lelaki itu mengusap-usap kepala Adira layaknya perhatian yang ditunjukkan pada putri sendiri.


"Saya pamit, Tuan"


"Jaga dirimu disana, jangan sungkan kalau ingin berkunjung kesini"


Dan inilah detik-detik terakhir, pintu mobil terbuka mempersilahkan Adira masuk.


Ini yang terbaik.


Satu kaki terangkat di sisi mobil, bersiap untuk memasuki kaki yang satunya.


Disaat bersamaan gerbang terbuka dan masuklah sebuah mobil putih berlogo sekolah, seseorang keluar dari kendaraan itu dan langsung berlari.

__ADS_1


"MAMAAAAAA....!"


__ADS_2