
Hari Minggu tiba.
Adira, Eza, dan juga Elvis jalan-jalan keluar untuk menghabiskan hari.
Mall menjadi tempat mereka mencari hiburan, mereka juga berencana belanja bulanan maka dari itu kini ketiganya berada di sebuah Mall terbesar di ibu kota.
Elvis berjalan diantara ibu dan ayahnya, ia hanya mengikuti kemana orang tuanya membawa dia.
"Mama, nanti kita beli es krim ya!"
"Oke, tapi nanti saat mau pulang ya"
"Oke, Ma!"
"Kita mau ke mana dulu?" Eza ikut menimbrung.
"El mau ke Playground dulu!" Elvis dengan tak sabaran.
"Boleh, ayok"
Mereka pun turun ke lantai dasar, tempat favorit dimana anak-anak berkumpul dengan tawa yang ceria.
Setelah melakukan top up kartu, Elvis langsung berlari ke arah pemainan kesukaannya.
Tak hanya Elvis, Adira dan Eza juga ikut bermain. Meski keduanya sudah melampaui batas usia namun sepasang suami istri itu asyik menggesek kartu di setiap permainan yang berbeda-beda.
Setelah puas bermain mereka bertiga lanjut menuju tempat makan, rasa lapar setelah bermain serta aroma harum saat melewati tempat itu membuat mereka memesan menu ala masakan Jepang, ini pertama kalinya Elvis makan sushi.
"Mama, apa ini mentah?" Sambil menunjuk ke arah sushi salmon.
"Iya, El. Itu memang sengaja dibuat mentah, tapi enak kok. El mau coba?"
Elvis mengangguk, Adira lantas mengambil satu buah sushi dan menyuapi Elvis makanan tersebut.
"Bagaimana?" Menunggu pendapat sang putra.
Lama Elvis mengunyah, sontak ia terlihat seperti ingin muntah.
Adira yang melihat itu bergerak cepat membawakan tissu, Elvis mengeluarkan lagi makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"El gak suka! Rasanya aneh" bergidik sambil menjulurkan lidah.
"Ya sudah, El makan ini saja. Topingnya daging yang sudah dimasak" Eza mengambil satu lagi sushi yang berbeda, menyuapi Elvis yang kali ini menelan makanan tersebut.
"Nah, ini baru enak"
"Kalau begitu yang ini El makan semua"
Dan benar saja satu porsi sushi tersebut dilahap Elvis sampai habis, tak lupa ia memakan ramen yang paling best seller.
Keluar dari tempat makan, keluarga kecil tersebut masuk ke dalam supermarket. Eza mendorong troli sedangkan Adira sibuk memilih-milih.
Elvis lari ke tempat per Snack kan, tetapi di saat hendak berbelok ia menubruk seseorang sampai membuat badan mungilnya jatuh.
"Aduhh!!!" Pekik Elvis.
__ADS_1
Orang yang ditubruk pun menoleh dan mendapati anak laki-laki yang terduduk di atas lantai.
"Kamu tidak apa-apa, nak?" Mengulurkan tangan ke arah Elvis.
Elvis menyambut lalu berdiri, "Gak apa-apa, Om. Maaf gak sengaja nubruk"
"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati"
Elvis mengangguk dan melanjutkan lagi langkahnya.
Dari jauh pria itu melihat Elvis yang dihampiri oleh sepasang orang dewasa, pria itu mengernyit ketika mengenali salah satu dari mereka.
"Mama, El tadi nubruk orang"
"Apa? Siapa?" Adira panik.
"Om Om, Ma. Tapi untungnya dia gak jatuh"
"Ya ampun hati-hati dong, El"
Eza mendekat dan memeriksa kondisi putranya, tak ada yang lecet.
"Dimana orangnya?" Tanya Eza.
"Disana" sambil menunjuk ke arah pria itu.
Sedangkan orang yang tengah memerhatikan mereka seketika terbelalak menyadari wajah yang tak asing baginya.
Deg!
"Eza?!!" Gumamnya.
"Yang mana, El?" Eza tak melihat.
"Kayaknya udah pergi"
"Sudah tidak usah di permasalahkan, yang penting El udah minta maaf kan?"
"Udah, Ma"
"Kita lanjut lagi berbelanja, El mau apa? Biar kami antar"
Kini Elvis pun berjalan berbarengan dengan Eza dan Adira, tak mau tingkah cerobohnya terulang kembali.
***
"Tidak mungkin!!!"
"Anak itu masih hidup???"
"Dia... Dia anak Eza?"
Keluar dari supermarket kini ia dibuat tak karuan, sudah lama dirinya tak melihat mantan adik iparnya, kini pria itu bersama dengan seorang anak dan wanita dewasa.
"Anak itu mungkin hasil dari pernikahannya dengan wanita tadi..."
__ADS_1
"Tapi.... Anak itu sudah besar, Eza tak mungkin menikah dengan cepat setelah Farita meninggal. Aku tau, pria itu sangat mencintai Farita"
"Lalu.... Anak itu...."
Dia menarik rambutnya sampai rontok, kepalanya berdenyut nyeri memikirkan hal ini. Sesuatu yang ia pikir telah usai justru muncul secara tak terduga.
"Aku harus memastikan! Ya, aku harus mengetahui siapa sebenarnya anak itu. Kenapa dia mirip sekali dengan Eza!!"
"Aku harus tau!"
Ia pun pulang ke rumahnya, dan langsung menyalakan laptop serta mengambil beberapa berkas yang terselip diantara kertas-kertas lainnya.
"Dimana.... Dimana....?!! Aku ingat kalau aku menyimpannya disini" mengeluarkan seluruh benda di laci untuk menemukan berkas yang ia cari.
"Ini dia!" Mengambil sebuah kertas yang berisikan berita lama.
Pria berusia empat puluh tahun itu duduk di kursi kerjanya, membaca kembali berita yang dulu ia tutupi ketika sedang menjadi berita panas.
"Sudah tujuh tahun! Berapa kira-kira usia anak tadi?" Menerawang untuk mengira usia Elvis dari tinggi badannya.
"Seharusnya aku menanyakan usianya tadi" sesalnya.
Selanjutnya ia mengetik sebuah nama di laptop, mencari tahu status Eza yang sudah banyak tersebar di berbagai internet.
Mencari data terbaru terkait pengusaha muda itu, tapi anehnya ia tak mendapat laporan menarik.
"Statusnya masih single disini"
"Tidak ada berita yang menyebut jika Eza sudah menikah lagi" mencari sampai ia menemukan titik terang.
"Lalu siapa wanita itu? Anak tadi memanggilnya Mama, dia pasti ibunya. Tapi sejak kapan Eza memiliki anak dengan wanita tadi"
Ia memutar otaknya sampai berasap, teka-teki ini sungguh memusingkan.
"Atau mungkin pernikahan Eza diselenggarakan secara tertutup?" Menduga.
"Arrrghhhh....... Apa yang sebenarnya terjadi??!!"
"Aku yakin..... Aku yakin anak tersebut putra dari Eza"
"Masalahnya, dari wanita yang mana?!!"
Ia mengumpulkan kembali data-data terbaru dari Eza, bahkan seluruh keluarga Gibson ia telisik.
"Jika benar anak tadi putra Farita, maka aku harus mengakuinya pada Eza, apa yang dulu sempat terjadi"
Tangannya bergetar hebat, bayangan sang adik yang kini telah tiada muncul lagi di otaknya.
Rasa bersalah menyelimuti pria yang duduk termenung disitu, kegelapan menyinari ruangan ini, menambah hawa dingin yang membekukan kulit.
Ia akan merasa sangat malu dan merasa bejad kalau memang anak tadi adalah bayi yang tujuh tahun lalu Farita lahir kan. Ia akan merasa bersalah pada Eza, bahkan mungkin Eza tak akan bisa memaafkannya.
Bagaimana caranya ia menjelaskan? Ia sudah tak punya muka lagi pada keluarga Gibson.
Dulu keluarganya bahkan enggan membantu mencari anak Farita, keluarganya telah menorehkan luka di hati keluarga Gibson.
__ADS_1
Hubungan mereka dengan Farita yang terkesan tidak baik membuat keluarganya sendiri seolah tak memiliki tanggung jawab terhadap bayi Farita setelah wanita itu meninggal dunia.
Dan setahunya, keluarga Gibson tetap mencari anak itu. Tapi tidak tau apakah berhasil menemukannya atau tidak.